google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Saifuddin Zuhri Ajak Santri Jaga Nilai Bangsa di Era Global

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Surabaya, iKoneksi.com — Dalam suasana penuh refleksi kebangsaan, Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur, Saifuddin Zuhri, hadir sebagai narasumber dalam Podcast Kompas yang digelar di Kantor Kompas Kota Surabaya, Rabu (5/10/2025). Dalam perbincangan yang berlangsung santai namun sarat makna tersebut, Saifuddin membahas tema besar Mengawal Nilai-Nilai Bangsa dalam Menghadapi Dinamika Zaman dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025.

Sejak awal perbincangan, Saifuddin menekankan Hari Santri bukan sekadar peringatan seremonial yang dilakukan setiap tahun. Lebih dari itu, ia menyebut Hari Santri sebagai momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan, keikhlasan, dan pengabdian yang menjadi ciri khas santri sejak masa perjuangan kemerdekaan.

“Santri itu bukan hanya tentang simbol atau pakaian. Santri adalah penjaga nilai, penjaga moral, dan penjaga kebangsaan. Dalam setiap perubahan zaman, santri selalu hadir untuk menjaga arah bangsa agar tidak kehilangan jati dirinya,” tuturnya.

Politisi muda asal Malang itu menuturkan nilai-nilai luhur pesantren seperti kejujuran, kemandirian, dan kecintaan terhadap tanah air merupakan kekuatan besar yang harus terus dijaga di tengah derasnya arus globalisasi. Menurutnya, dunia hari ini menghadapi tantangan baru bukan lagi peperangan fisik, tetapi pertempuran nilai dan ideologi.

“Kalau dulu santri berjuang dengan bambu runcing melawan penjajah, sekarang santri berjuang menjaga moral bangsa dari penjajahan digital, informasi palsu, dan krisis identitas,” ungkapnya.

Dalam sesi diskusi yang disiarkan secara langsung melalui kanal digital Kompas itu, Saifuddin menyoroti pentingnya peran santri modern di tengah kemajuan teknologi. Ia mengajak generasi muda pesantren untuk tidak gagap terhadap perubahan, tetapi justru menjadi pelopor dalam menjaga dan mentransformasikan nilai-nilai kebangsaan agar tetap relevan.

“Santri sekarang harus bisa berdiri di dua kaki: kaki tradisi dan kaki inovasi. Artinya, ia tetap berpegang pada nilai agama dan kebangsaan, tapi juga harus siap menghadapi dunia yang terus berubah dengan ilmu pengetahuan dan teknologi,” bebernya.

Saifuddin juga mengingatkan bahwa peringatan Hari Santri memiliki makna historis yang dalam. Ia mengaitkan semangat itu dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan KH Hasyim Asy’ari, sebagai wujud nyata kontribusi santri terhadap kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, semangat jihad santri di masa lalu harus ditransformasikan menjadi “jihad peradaban” di masa kini perjuangan untuk memperkuat karakter bangsa, memperjuangkan keadilan sosial, dan membangun peradaban yang berkeadilan dan berakhlak.

Dalam suasana dialog yang penuh keakraban, Saifuddin juga memberikan apresiasi kepada Kompas yang secara konsisten memberikan ruang edukatif bagi tokoh publik dan masyarakat dalam membahas isu-isu kebangsaan. Ia menilai langkah Kompas menghadirkan tema tentang Hari Santri sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi kebangsaan dan spiritual yang semakin dibutuhkan di era digital.

“Podcast seperti ini menjadi wadah penting agar nilai-nilai luhur bangsa tidak hanya menjadi wacana, tapi bisa ditransfer dengan cara yang modern, disukai generasi muda,” ungkapnya.

Selain membahas aspek historis dan nilai perjuangan, Saifuddin juga menyampaikan pandangannya tentang masa depan pendidikan pesantren dan kontribusi santri terhadap pembangunan nasional. Ia berharap agar para santri tidak hanya menjadi penghafal kitab, tetapi juga menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi.

“Santri harus berani tampil di ruang publik, memimpin, berinovasi, dan menjadi contoh. Santri bukan lagi kelompok pinggiran. Mereka adalah bagian dari arus utama pembangunan bangsa,” tekan Alumnus UIN Malang itu.

Lebih jauh, Saifuddin mengajak semua pihak, terutama pemerintah daerah, untuk memberikan perhatian lebih pada pengembangan pesantren. Ia menilai pesantren adalah benteng terakhir moral bangsa, tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat.

“Kalau bangsa ini ingin maju tapi kehilangan nilai, itu artinya kita kehilangan arah. Karena itu, menjaga nilai bangsa adalah tugas kita bersama, dan santri punya peran sentral di dalamnya,” ucapnya menutup diskusi.

Podcast berdurasi hampir satu jam itu ditutup dengan pesan mendalam dari Saifuddin Zuhri: agar santri masa kini tetap rendah hati, tetapi juga memiliki semangat besar untuk berkontribusi bagi bangsa dan dunia.

“Santri harus tetap membumi, tapi pikirannya menembus langit,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *