google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

SINTAS dan FIB Unej Satukan Langkah Selamatkan Gumuk Jember

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Jember, iKoneksi.com — Setelah melalui proses panjang penuh diskusi dan pertukaran gagasan lintas bulan, akhirnya Asosiasi Sejarah Lintas Batas (SINTAS) dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) resmi menjalin kerja sama strategis. Penandatanganan nota kesepahaman antara kedua lembaga ini berlangsung khidmat di Aula Sutan Takdir Alisyahbana, FIB Unej, Selasa (7/10/2025).

Dari pihak SINTAS, kerja sama ini ditandatangani oleh Diana Trisnawati, Co-Founder SINTAS sekaligus Direktur Sintas Karya Bernas (SKB). Sementara dari pihak FIB Unej diwakili oleh Dr. Ikwan Setiawan, Wakil Dekan I FIB.

Kolaborasi ini tidak muncul begitu saja, melainkan berangkat dari kesamaan misi besar mengarusutamakan sejarah lingkungan dan memperkuat kesadaran ekologis di tengah masyarakat Indonesia. Sejarah tidak hanya dilihat sebagai kisah masa lalu, tetapi juga sebagai jembatan pemahaman antara manusia dan alam.

Gumuk: Jejak Alam, Identitas, dan Ekologi

Sebagai langkah awal dari kerja sama ini, SINTAS dan FIB Unej menggelar roundtable discussion dan workshop bertajuk “Gumuk: Sejarah, Ekologi, dan Memori”. Acara ini berlangsung selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 Oktober 2025, dan dihadiri hampir 100 peserta dari berbagai lembaga, komunitas, serta akademisi.

Fokus pembahasan jatuh pada fenomena gumuk, lanskap alam unik yang menjadi ciri khas Jember. Gumuk bukan sekadar gundukan tanah atau bukit kecil, tetapi bagian penting dari ekosistem yang menjaga keseimbangan lingkungan.

Dalam sambutannya, Dr. Ikwan Setiawan, Wakil Dekan I FIB, menegaskan pentingnya gumuk bagi wilayah Jember.

“Gumuk berfungsi sebagai penahan angin. Di daerah yang gumuknya hilang, sering terjadi puting beliung. Karena itu, kita perlu menjaga gumuk agar tidak punah,” katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan urgensi pelestarian gumuk bukan hanya sebagai warisan geologis, tetapi juga sebagai pelindung alami dari bencana. Lewat kolaborasi ini, Ikwan berharap lahir berbagai gagasan lintas disiplin untuk menelusuri sejarah, fungsi, dan nilai ekologis gumuk bagi masyarakat Jember.

Cerita Alam dan Manusia: Dari Jember untuk Indonesia

Nada serupa disampaikan Diana Trisnawati, yang melihat Jember sebagai wilayah dengan lanskap alam luar biasa.

“Jember ini kaya ada gunung, sungai, pesisir, perbukitan, dan gumuk yang unik. Semua itu bukan hanya pemandangan, tapi menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat di sini,” tuturnya.

Menurut Diana, kegiatan ini adalah upaya menggali cerita-cerita lokal yang selama ini belum banyak diangkat, dan menghubungkannya dengan gerakan pelestarian lingkungan. Bagi SINTAS, kolaborasi ini menjadi langkah konkret menjembatani ilmu sejarah dengan aktivisme ekologi.

“Selama tiga hari pelaksanaan, diskusi yang berlangsung intensif berhasil menghasilkan rencana tindak lanjut awal. Salah satunya, komitmen untuk memperbanyak narasi dan riset tentang gumuk di Jember. SINTAS, sebagai lembaga nirlaba, juga menyatakan kesiapannya untuk berperan aktif dalam gerakan ini secara kolektif bersama civitas akademika Unej,” jelas Diana.

Dua Tahun ke Depan: Menulis Ulang Sejarah Gumuk

Ikwan menerangkan kerja sama antara FIB Unej dan SINTAS ini akan berlanjut hingga tahun 2027. Selama dua tahun ke depan, keduanya berencana menjadikan gumuk sebagai pusat kajian bersama baik melalui riset kolaboratif, seminar, kuliah umum, maupun penerbitan akademik.

“Gumuk dipilih bukan tanpa alasan. Bentuk alamiah ini tidak banyak ditemukan di dunia; hanya ada di Jember, Tasikmalaya, dan Jepang. Oleh karena itu, gumuk memiliki nilai ilmiah, ekologis, sekaligus budaya yang penting untuk terus dikaji,” ungkap Ikwan.

Kolaborasi ini menurut Ikwan juga sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan simbolis, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang menghasilkan dampak nyata bagi pelestarian lingkungan dan kesadaran sejarah di tingkat lokal maupun nasional,” bebernya.

Sejarah Baru dari Tanah Gumuk

Lebih dari sekadar perjanjian kerja sama, kemitraan antara SINTAS dan FIB Unej adalah langkah kecil yang membawa makna besar. Ia menjadi bukti sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan yang lestari.

“Melalui riset, diskusi, dan karya bersama, dua lembaga ini ingin menulis ulang sejarah dari perspektif alam dari gumuk yang sunyi menjadi pusat perhatian baru dunia akademik dan masyarakat. Kolaborasi ini adalah ajakan untuk melihat kembali tanah tempat kita berpijak. Bahwa di balik setiap gumuk, tersimpan kisah panjang manusia dan alam yang saling menjaga, dan kini menanti untuk kembali diceritakan,” pungkas Ikwan.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *