google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TPA Edukasi hingga RDF, Strategi Baru Pengelolaan Sampah Kabupaten Malang

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan optimisme tinggi dalam meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan, khususnya di sektor persampahan. Sejumlah terobosan dilakukan untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah yang kian kompleks, mulai dari pengembangan tempat pembuangan akhir (TPA) berbasis edukasi hingga pemanfaatan teknologi modern berbasis ekonomi sirkular.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kabupaten Malang, Ahmad Dzulfikar Nurrahman, mengatakan pengelolaan sampah tidak lagi diposisikan semata sebagai persoalan akhir, melainkan bagian dari sistem terpadu yang memiliki nilai edukasi dan ekonomi.

“Salah satu contoh nyata adalah TPA Talangagung di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, yang kini dikembangkan sebagai TPA wisata edukasi. Lokasi tersebut bahkan telah menjadi rujukan berbagai daerah di Indonesia untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu,” sebutnya.

“TPA Talangagung selama ini menjadi tempat studi banding banyak daerah yang ingin belajar pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir,” ujar dia.

Selain Talangagung, DLH Kabupaten Malang juga mengembangkan sistem pengelolaan sampah modern di TPA Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo. TPA ini menerapkan metode landfill mining, sebuah pendekatan yang dinilai efektif untuk mengatasi timbunan sampah lama. Melalui metode tersebut, timbunan sampah yang telah lama tertimbun digali kembali untuk dilakukan pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan ulang. Hasilnya dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF), serta material lain yang memiliki nilai guna.

“TPA Paras sendiri telah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung, termasuk mesin pengolahan RDF. Produk RDF yang dihasilkan saat ini telah dipasarkan ke PT Semen Indonesia Group melalui Solusi Bangun Indonesia, sebagai bentuk pemanfaatan sampah menjadi sumber energi alternatif bagi industri,” bebernya.

Dzulfikar yang akrab disapa Avi menilai langkah tersebut menjadi titik penting dalam transformasi pengelolaan sampah di Kabupaten Malang. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberi nilai tambah secara ekonomi.

“Ini membuat kami semakin optimistis. DLH berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan,” tutur Avi.

Meski demikian, Avi mengakui pengembangan pengelolaan sampah modern membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit. Namun, ia menegaskan bahwa pembiayaan bukan satu-satunya kunci keberhasilan.

“Tidak hanya soal anggaran, tetapi juga kolaborasi lintas sektor agar program-program DLH bisa berkelanjutan,” katanya.

DLH Kabupaten Malang juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat melalui Program Bersih Indonesia, sebagai bagian dari upaya perubahan perilaku dalam pengelolaan lingkungan. Menurut Avi, partisipasi masyarakat menjadi faktor krusial agar kebijakan lingkungan tidak berhenti pada tataran program. Selain itu, DLH menekankan pentingnya menjadikan penghargaan lingkungan sebagai instrumen perubahan perilaku, bukan sekadar capaian seremonial.

“Setiap penghargaan yang diraih diharapkan mampu mendorong keberlanjutan program dan diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Dalam pengembangannya, DLH Kabupaten Malang juga membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas, akademisi, dunia usaha, hingga media,” ungkap dia.

“Kami mengarahkan kolaborasi pada inovasi pengelolaan lingkungan dari masyarakat dan komunitas, riset terapan bersama BRIN terkait penanaman pohon di lahan bekas tambang, penguatan pembiayaan melalui CSR sektor usaha, hingga penyediaan bibit tanaman untuk penghijauan TPA,” terang dia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *