google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tumbuhkan Solidaritas Sosial, DPRD Jatim Dorong Masyarakat Malang Jadi Lebih Tangguh

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial kembali digaungkan di Kota Malang. Melalui kegiatan bertajuk “Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas Sosial Menuju Masyarakat yang Tangguh dan Berdaya,” Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur Saifuddin Zuhri menginisiasi sosialisasi yang digelar di Gedung LPK Malang, Jalan Raya Kepuh No. 15, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Sabtu (8/11/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk tokoh pemuda, perwakilan organisasi masyarakat, dan komunitas sosial di wilayah Sukun. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh semangat, terlebih saat dua narasumber utama memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana membangun masyarakat tangguh melalui kepedulian dan solidaritas sosial.

Narasumber pertama, Marhaen, memaparkan krisis solidaritas menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan sosial modern. Menurutnya, pembangunan fisik dan ekonomi tidak akan berjalan berkelanjutan tanpa keseimbangan antara kepedulian sosial dan kesadaran kolektif terhadap masalah bersama.

“Hari ini banyak yang berpikir maju secara individu, tapi lupa bahwa keberhasilan sejati justru lahir dari kebersamaan. Rasa saling tolong-menolong dan empati antarwarga harus terus dijaga agar masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya,” jelasnya di hadapan peserta.

Ia menegaskan masyarakat yang tangguh bukan hanya yang kuat secara ekonomi, tetapi juga yang mampu berdiri bersama saat menghadapi kesulitan. Marhaen mencontohkan bahwa pada masa pandemi, solidaritas masyarakat menjadi kekuatan utama ketika banyak keluarga saling membantu tanpa menunggu perintah dari pihak pemerintah.

Sementara itu, narasumber kedua, Lea Mahdarina, yang juga merupakan anggota Komisi C DPRD Kota Malang, menyoroti pentingnya sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga sosial dalam membangun daya tahan sosial di tingkat lokal.

“Masyarakat yang berdaya lahir dari kolaborasi. Pemerintah memang punya kewenangan dan program, tapi tanpa partisipasi aktif masyarakat, program tersebut tidak akan berjalan optimal. Maka, tugas kita bersama adalah menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kepedulian bukan hanya urusan pribadi, tetapi tanggung jawab bersama,” ujar Lea Mahdarina.

Lea menambahkan, dalam konteks pembangunan daerah, kepedulian sosial juga menjadi penopang bagi terciptanya kesejahteraan yang merata. Ia menyoroti perlunya peningkatan program pemberdayaan berbasis komunitas, agar masyarakat di tingkat akar rumput bisa berperan aktif dan tidak sekadar menjadi penerima manfaat.

“Kita ingin masyarakat tidak hanya tangguh menghadapi perubahan, tetapi juga berdaya untuk menciptakan perubahan itu sendiri. Kepedulian dan solidaritas menjadi modal penting untuk mewujudkan hal tersebut,” tegasnya.

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dengan suasana dinamis. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman tentang bagaimana membangun kepedulian sosial di lingkungan masing-masing. Beberapa di antaranya menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga nilai gotong royong di tengah perubahan gaya hidup yang semakin individualistis.

Dalam sesi penutup, Marhaen menegaskan kegiatan semacam ini merupakan bagian dari upaya pendidikan sosial politik bagi masyarakat agar tidak apatis terhadap lingkungan sosialnya.

“Kita harus bersama-sama menjaga nilai kemanusiaan yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan bermasyarakat yang harus terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi,” serunya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan muncul kesadaran baru di kalangan masyarakat Kota Malang untuk memperkuat jejaring sosial dan solidaritas antarwarga. Karena di tengah dinamika sosial yang cepat berubah, kekuatan sejati masyarakat bukan hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kepedulian dan kebersamaan yang terus hidup di antara mereka.

“Sosialisasi ini menegaskan bahwa solidaritas sosial bukan konsep lama yang usang, melainkan nilai yang terus relevan dan menjadi penentu masa depan bangsa. Kita boleh hidup di era modern, tapi nilai gotong royong harus tetap menjadi denyut nadi bangsa,” tutup Marhaen.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *