google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sound Horeg, Akademisi FK UB: Tradisi Baru yang Perlahan Menggerogoti Pendengaran

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Di tengah derasnya arus tren musik jalanan dan pesta rakyat, fenomena “sound horeg” makin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Namun di balik dentuman bass yang mengguncang tanah dan memecah keheningan malam, tersembunyi bahaya besar yang mengintai indera pendengaran kita terutama bagi anak-anak, lansia, bahkan bayi.

dr. Meyrna Heryaning Putri, Sp.T.H.T.B.K.L., FICS., seorang spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Universitas Brawijaya, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap maraknya penggunaan sound horeg di berbagai acara sosial. Dalam wawancara khusus, ia menjelaskan bagaimana intensitas suara berlebih dapat menyebabkan kerusakan telinga permanen, bahkan tuli total.

Ketika Desibel Jadi Ancaman Nyata

Telinga manusia memiliki batas toleransi suara yang sangat spesifik. Menurut dr. Meyrna, ambang aman telinga adalah 85 desibel (db) selama 8 jam. Namun, jika volume suara meningkat menjadi 88 db, toleransi menurun drastis menjadi hanya 4 jam. Di angka 91 db, batasnya menyusut lagi menjadi 2 jam.

“Suara dengan intensitas 140 db, walau hanya didengar dalam waktu singkat, bisa menyebabkan kerusakan fatal. Bukan hanya saraf pendengaran, tapi juga gendang telinga, tulang-tulang pendengaran, hingga rumah siput (cochlea) bisa hancur tak bisa pulih,” kata Meyrna.

Sound horeg, menurutnya, bisa mencapai level 130 db, hanya 10 db di bawah ambang mutlak yang tak bisa ditoleransi oleh telinga manusia. Artinya, kerusakan bisa terjadi bahkan sebelum kita menyadarinya.

Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Meyrna menjelaskan bahwa gangguan pendengaran tidak selalu muncul tiba-tiba. Beberapa gejala awal yang patut diwaspadai meliputi:

  • Telinga terasa penuh atau seperti tertutup

  • Muncul dengingan halus (tinnitus)

  • Kesulitan mendengar percakapan pelan

“Pada tahap ini, bisa jadi telah terjadi temporary threshold shift pergeseran ambang dengar sementara. Namun bila sering terjadi, maka akan berkembang menjadi hearing loss permanen yang dapat berkisar dari ringan hingga sangat berat,” ungkapnya.

Siapa yang Paling Rentan?

Menurut Meyrna, tidak semua orang memiliki sistem pendengaran yang sama kuat. Ada beberapa kelompok yang sangat rentan terhadap dampak sound horeg, yaitu:

  • Anak-anak dan bayi, karena sistem pendengaran mereka belum matang

  • Lansia, yang telinganya telah mengalami degenerasi alami

  • Penderita penyakit telinga bawaan atau infeksi kronis

  • Individu dengan kelainan rumah siput atau sel rambut telinga

“Tragisnya, justru kelompok inilah yang sering kali tidak mampu menghindar dari paparan suara ekstrem, apalagi saat sound horeg hadir di lingkungan sekitar mereka,” beber Meyrna.

Dilema Sound Horeg

Tak bisa dimungkiri, Meyrna menerangkan sound horeg kini telah menjadi bagian dari budaya lokal di berbagai daerah. Dianggap sebagai penanda kemeriahan dan hiburan rakyat, keberadaannya bahkan mulai dilestarikan.

“Sound horeg bukan sesuatu yang salah. Namun persepsi budaya ini berbahaya jika tidak disertai pemahaman medis tentang risikonya,” tekan Meyrna.

Musik memang memiliki efek terapeutik bagi otak, seperti mengurangi stres dan membuat tubuh relaks. Namun, volume dan durasi harus menjadi pertimbangan utama.

Tanggung Jawab Kolektif, Bukan Hanya Dokter

Yang menarik, Meyrna menekankan edukasi soal risiko sound horeg bukan hanya tugas dokter THT. “Siapa pun bisa menjadi agen perubahan, asal paham dan peduli terhadap dampaknya,” tuturnya.

Ia mendorong masyarakat untuk:

  • Menggunakan pelindung telinga saat berada di dekat sumber suara keras (earplug, earmuff)

  • Menghindari paparan langsung dalam waktu lama

  • Mengukur level suara jika memungkinkan

  • Mengedukasi orang terdekat, terutama anak-anak dan lansia

Nikmati Musik, Tapi Jangan Abaikan Batasnya

Menikmati musik bukanlah kesalahan. Namun, menikmati suara keras tanpa batasan adalah kelalaian yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Sound horeg boleh jadi identitas budaya, tapi keselamatan pendengaran kita tetap harus menjadi prioritas utama.

“Karena telinga hanya satu pasang, dan tak ada versi penggantinya. Apakah Anda siap menjadi bagian dari gerakan menyelamatkan pendengaran generasi Indonesia?<” pungkas Meyrna. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *