google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bedah Buku Serentak, Bawaslu Jatim Gagas Literasi Demokrasi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Surabaya, iKoneksi.com – Dalam upaya membumikan nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Timur meluncurkan agenda besar bertajuk bedah buku se-Jawa Timur. Kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya nyata menyemarakkan literasi politik yang lebih substantif dan menyentuh akar persoalan demokrasi Indonesia. Rencana ini disampaikan langsung oleh Ketua Bawaslu Jatim, A. Warits, dalam apel resmi yang digelar Senin, (21/7/2025).

Literasi Demokrasi Masih Belum Merata

Dalam sambutannya, Warits menyampaikan keprihatinan bahwa literasi tentang demokrasi di tengah masyarakat masih belum tersebar secara merata, bahkan cenderung terjebak pada aspek teknis semata.

“Selama ini demokrasi yang kita pelajari banyak soal teknis dan prosedural. Padahal, esensinya jauh lebih dalam, yaitu bagaimana kedaulatan rakyat diwujudkan dalam kehidupan nyata,” tegasnya.

Menurut pria yang juga alumni Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang ini, pemahaman tentang demokrasi tidak boleh berhenti pada soal pencoblosan, daftar pemilih, atau sengketa pemilu.

“Demokrasi sejatinya adalah kesadaran kolektif tentang peran rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi,” ucap Warits.

Tujuh Buku Bawaslu Jadi Bahan Diskusi

Untuk mengisi celah literasi tersebut, Bawaslu Jatim telah menerbitkan tujuh buku penting sepanjang 2024 hingga 2025. Buku-buku tersebut antara lain:

  1. Merawat Daulat Rakyat: Digitalisasi Pengawasan sebagai Ikhtiar Membangun Literasi Politik
  2. Mengawasi Demokrasi
  3. Bawaslu Mengawasi
  4. Ronda Demokrasi
  5. Pengawasan dalam Mata Lensa
  6. Antologi Kehumasan: Tak Nampak Tapi Berjejak
  7. Sekali Berarti Sesudah Itu Abadi

“Ketujuh buku tersebut lahir dari pengalaman langsung Bawaslu dalam mengawasi Pemilu dan Pemilihan di berbagai daerah. Setiap buku mengandung refleksi, catatan pengawasan, hingga narasi tentang perjuangan mewujudkan pemilu yang adil dan berintegritas,” beber Warits.

Bedah Buku Jadi Sarana Pencerahan Politik

Melalui agenda bedah buku di berbagai daerah di Jawa Timur, Bawaslu berharap bisa mendorong kesadaran politik masyarakat secara kolektif. Warits menilai bahwa literasi politik bukanlah monopoli akademisi atau pengamat politik saja, tapi harus menjangkau masyarakat luas, termasuk pemilih pemula, pelajar, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat.

“Buku-buku ini bukan hanya karya dokumenter, tapi alat edukasi. Dari pengalaman pengawasan yang ditulis dalam buku-buku itu, kita bisa melihat langsung wajah demokrasi di lapangan apa adanya. Maka dari itu, kami ingin menghadirkan diskusi yang terbuka di seluruh daerah di Jawa Timur,” lugasnya.

Afirmasi Demokrasi Lewat Kata-Kata

Langkah Bawaslu Jatim ini patut diapresiasi sebagai upaya mengafirmasi demokrasi bukan hanya lewat peraturan, tetapi juga lewat kata-kata yang membangun kesadaran.

“Bedah buku yang melibatkan masyarakat luas akan menjadi momen penting membumikan nilai-nilai demokrasi sejati: bukan sekadar memilih, tapi juga memahami dan menjaga kedaulatan rakyat secara berkelanjutan,” tukas Warits. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *