google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tari Topeng Bapang Memukau Dunia di Pegunungan Yaoli

  • Bagikan
banner 468x60

Tiongkok, iKoneksi.com – Tepuk tangan meriah menggema di antara perbukitan Yaoli, Zhejiang, Tiongkok, saat sekelompok penari muda dari Sanggar Tari Sailendra, Desa Kranggan, Kabupaten Malang, mempersembahkan Tari Topeng Bapang. Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan pertunjukan yang menggetarkan jiwa melalui irama dinamis dan gerakan penuh makna. Mereka tampil dalam forum seni budaya internasional bertajuk Yaoli Village International Artistic Symbiosis Project, yang digelar pada 12–16 Juli 2025.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program Globalizing UB yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) dan didukung Department of Cultural Industry Peking University serta UNESCO Chair China. Proyek ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga menjadi simbol kuat dari diplomasi budaya lintas negara.

Tari Topeng Bapang Jadi Magnet Utama

Dalam festival seni internasional ini, Tari Topeng Bapang tampil menonjol. Tarian tradisional khas Jawa Timur ini menggambarkan karakter ksatria pewayangan: kuat, bijaksana, dan berani. Balutan kostum berwarna mencolok dan gerakan tegas para penari menjadi magnet utama yang memikat perhatian penonton dari berbagai negara, mulai dari Thailand, Singapura, Vietnam, Korea Selatan, hingga masyarakat lokal Tiongkok.

Bersanding dengan irama gamelan yang mengalun di tengah lanskap Tiongkok, tari ini tak hanya memukau mata, tetapi juga menyampaikan pesan budaya yang dalam. Penonton pun terpukau hingga berdiri memberikan standing ovation, sembari merekam momen langka itu dengan kamera ponsel. Tak sedikit pula yang mengucap spontan, “Indonesia sangat kaya budaya!”

Diplomasi Budaya Lewat Gerak dan Irama

Pertunjukan ini digarap secara kolaboratif oleh Yang Nadia Miranti, M.Pd., dosen Sastra China FIB UB, dan Prof. Hardy (Xiang Yong) dari Peking University. Keduanya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya ajang pementasan seni, melainkan pertemuan makna antara dua kebudayaan besar.

“Ia menghubungkan dua bangsa lewat bahasa universal: seni dan budaya,” kata Yang Nadia.

Tari Topeng Bapang, yang telah diwariskan turun-temurun di Malang, kini melampaui batas geografis dan menjelma sebagai representasi kuat diplomasi budaya Indonesia. Di tangan para penari muda, warisan budaya ini dihidupkan kembali dalam bentuk yang mampu menyentuh hati dunia.

Dari Desa Kranggan ke Dunia Internasional
Tak berhenti di pertunjukan, kerja sama ini juga melahirkan inisiatif besar: rencana pembentukan konsep Sister Village antara Desa Kranggan (Malang) dan Desa Yaoli (Zhejiang). Program ini bertujuan menjalin pertukaran budaya dan pengetahuan antara dua komunitas desa di dua negara berbeda. Selain itu, FIB UB tengah mempersiapkan kelas budaya dan bahasa Indonesia di Yaoli sebagai bentuk penguatan kerja sama berkelanjutan.

“Ini bukan hanya pertunjukan, tapi awal dari pertukaran budaya yang mendalam dan saling memperkaya,” jelas Yang Nadia.

Globalizing UB: Visi Humaniora yang Berdampak

FIB UB melalui program Globalizing UB menunjukkan komitmen kuat untuk membawa ilmu humaniora Indonesia ke ranah global. Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa budaya bukan sekadar objek kajian, melainkan modal sosial yang hidup dan berdampak.

“Inilah wujud nyata dari humaniora yang berdampak. Budaya tak sekadar dikaji, tetapi dipraktikkan dan disebarluaskan,” tutup Yang Nadia. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *