google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Krisis Ekologi dan Hilangnya Pengetahuan Lokal Masyarakat Desa

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Dalam beberapa waktu terakhir, keresahan petani di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, semakin terasa. Serangan hama tikus mulai meluas di sejumlah kawasan pertanian masyarakat. Tanaman pangan rusak, ladang terganggu, dan sebagian petani mulai menghadapi penurunan hasil produksi.

Bagi masyarakat desa yang hidup dari tanah dan musim, gejala seperti ini sering dipahami sebagai tanda terganggunya keseimbangan ekologis. Ledakan hama, menurunnya kualitas tanah, dan perubahan lingkungan yang semakin sulit diprediksi memperlihatkan adanya relasi yang mulai retak antara manusia dan alam.

Fenomena yang mulai terlihat di Pakpak Bharat sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Keresahan serupa berkembang di banyak wilayah Indonesia. Petani menghadapi tekanan biaya produksi, penurunan kesuburan tanah, ketergantungan terhadap pestisida, serta kerusakan lingkungan pertanian yang berlangsung perlahan.

Di sejumlah daerah, persoalan tersebut bahkan mulai terlihat lebih serius. Beberapa waktu terakhir, keresahan terhadap ledakan hama dan dampak penggunaan pestisida juga muncul di sejumlah kawasan pertanian di Papua Barat. Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan ekologi pertanian telah berkembang menjadi kecemasan nasional.

Degradasi Ekologi Pertanian

Indonesia terus berbicara tentang peningkatan produksi pangan dan modernisasi pertanian. Namun pada saat yang sama, banyak lahan pertanian rakyat sedang menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat.

Struktur tanah mulai melemah. Biodiversitas menurun. Sumber air terganggu. Keseimbangan hayati yang selama ini menopang kehidupan desa perlahan mengalami degradasi.

Dalam beberapa dekade terakhir, pertanian modern berkembang sangat cepat melalui penggunaan pestisida, herbisida, dan berbagai zat kimia pertanian lainnya. Pendekatan ini memang mampu meningkatkan produksi dalam waktu singkat. Akan tetapi, penggunaan yang berlangsung terus-menerus tanpa keseimbangan ekologis memunculkan dampak jangka panjang yang serius.

Ketika racun pertanian digunakan secara berlebihan, dampaknya tidak berhenti pada hama sasaran. Predator alami seperti ular, burung pemangsa, dan organisme tanah ikut berkurang. Mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah melemah. Rantai kehidupan yang sebelumnya bekerja secara alami mulai terganggu.

Ancaman terhadap Ketahanan Pangan Nasional

Kerusakan ekologis pertanian yang berlangsung perlahan menjadi ancaman serius bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan besarnya produksi, tetapi juga sangat ditentukan oleh kemampuan lingkungan menopang kehidupan secara berkelanjutan.

Menanda Tahun dan Pengetahuan Ekologis Masyarakat Pakpak

Dalam masyarakat Pakpak dikenal tradisi Menanda Tahun sebagai bagian dari sistem pengetahuan ekologis masyarakat agraris. Tradisi ini memuat fungsi sosial, ekologis, spiritual, sekaligus sistem manajemen pertanian masyarakat.

Melalui runggu atau musyawarah adat, masyarakat menentukan waktu tanam serentak, pola perladangan, dan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi musim serta lingkungan.

Tradisi Menanda Tahun juga memuat dimensi spiritualitas ekologis yang kuat. Dalam praktik adat masyarakat Pakpak terdapat berbagai bentuk rebu atau larangan adat yang berfungsi menjaga kawasan hutan, sumber air, dan ruang-ruang ekologis masyarakat agar tidak dieksploitasi secara berlebihan.

Kearifan Lokal sebagai Solusi Nasional

Di tengah krisis ekologis global hari ini, pengetahuan lokal seperti itu justru menjadi semakin relevan. Dunia modern mungkin memiliki teknologi pertanian yang semakin maju, tetapi masyarakat tradisional menyimpan pengalaman panjang tentang cara menjaga keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, solusi terhadap krisis pertanian nasional tidak cukup bertumpu pada peningkatan produksi, bantuan pupuk, atau pendekatan teknokratis semata. Indonesia membutuhkan rekonstruksi kebijakan pertanian yang lebih ekologis dengan menempatkan pengetahuan lokal masyarakat sebagai bagian penting pembangunan nasional.

Membaca Ulang Masa Depan Pertanian Indonesia

Krisis lingkungan sering tumbuh perlahan dari kerusakan-kerusakan kecil yang lama diabaikan: tanah yang kehilangan kesuburan, air yang mulai tercemar, hilangnya keseimbangan hayati, hingga ledakan hama yang semakin sulit dikendalikan.

Produksi memang penting, tetapi keberlanjutan ekologis jauh lebih menentukan masa depan.

Mungkin sudah waktunya pembangunan pertanian nasional kembali belajar dari desa-desa. Sebab di banyak tempat, masyarakat tradisional telah lama memahami bahwa ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusia pada akhirnya akan ikut kehilangan masa depannya sendiri.

Penulis: Saut Boangmanalu (Anggota Bawaslu Provinsi Sumatera Utara, praktisi komunikasi publik, pelaku UMKM, petani kopi, dan pegiat pengembangan masyarakat berbasis kearifan lokal di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Saat ini sedang menempuh Program Doktoral Manajemen di Universitas Prima Indonesia Medan)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *