google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

BPIP dan Yasonna Laoly Perkuat 300 Relawan Kebajikan Pancasila di USU

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggandeng Anggota Komisi XIII DPR RI Yasonna H. Laoly untuk memperkuat Gerakan Relawan Kebajikan Pancasila di Auditorium Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU), Minggu (14/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 mahasiswa Fakultas Hukum USU yang disiapkan menjadi agen penyebar nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

Dalam kegiatan itu, Yasonna menegaskan penguatan ideologi Pancasila tidak cukup hanya melalui pemahaman teori. Menurutnya, generasi muda juga perlu dibekali nilai spiritualitas dan keagamaan agar mampu menjadi pribadi yang berintegritas serta menghormati perbedaan. Ia menilai BPIP telah melakukan berbagai langkah dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Namun, pendekatan yang digunakan harus semakin kreatif dan masif agar mampu menjangkau mahasiswa dan generasi muda yang memiliki pola komunikasi berbeda dibanding generasi sebelumnya.

“Generasi muda membutuhkan metode dan media yang sesuai dengan perkembangan zaman agar pesan-pesan kebangsaan dapat diterima secara efektif,” ujar Yasonna kepada iKoneksi.com, Minggu (14/6/2026).

Kebhinekaan Harus Menjadi Kekuatan Bangsa

Yasonna mengingatkan Indonesia merupakan negara yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Karena itu, penguatan ideologi Pancasila menjadi sangat penting untuk mencegah munculnya kembali konflik sosial yang pernah terjadi akibat perbedaan identitas. Menurutnya, pengalaman sejarah bangsa harus menjadi pelajaran berharga agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah persatuan nasional.

Ia menekankan keberagaman tidak boleh dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, kebhinekaan harus menjadi kekuatan yang memperkokoh persatuan bangsa menuju Indonesia yang lebih maju.

“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai teori atau sekadar dibacakan dalam kegiatan seremonial. Nilai persatuan, gotong royong, toleransi, dan saling menghormati harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” tegas politikus PDI Perjuangan tersebut.

Dekan FH USU: Pancasila Bukan Barang Antik

Dekan Fakultas Hukum USU, Mahmul Siregar, menyampaikan bahwa Pancasila tidak boleh diperlakukan seperti benda pusaka yang hanya dikeluarkan pada momen tertentu. Menurutnya, Pancasila harus terus dihidupkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Mahmul menilai tantangan kebangsaan saat ini semakin kompleks seiring berkembangnya era disrupsi, globalisasi, dan keterbukaan informasi.

“Kondisi tersebut membuat generasi muda menghadapi berbagai pengaruh yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka,” sebutnya.

Karena itu, nilai-nilai luhur Pancasila harus diwariskan secara berkelanjutan agar tetap relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.

“Pancasila bukan sekadar simbol atau warisan sejarah, tetapi pedoman hidup yang harus hadir dalam tindakan nyata masyarakat setiap hari,” tutur dia.

Mahasiswa Kritis adalah Aset Demokrasi

Menanggapi fenomena demonstrasi mahasiswa, Mahmul berpandangan penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Kampus, kata dia, memang menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan mengawasi jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menjelaskan mahasiswa memiliki banyak saluran dalam menyampaikan gagasan, mulai dari tulisan, penelitian, diskusi akademik hingga aksi sosial dan demonstrasi.

“Namun demikian, penyampaian pendapat harus dilakukan secara tertib, damai, demokratis, serta tetap menghormati hukum dan nilai-nilai Pancasila. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah generasi muda yang kritis, peduli terhadap persoalan bangsa, dan mampu menyampaikan gagasan secara konstruktif demi kemajuan Indonesia,” ujarnya.

BPIP: Mahasiswa Harus Jadi Agen Perubahan

Analis Kebijakan Ahli Madya Deputi I BPIP, Galuh Ibrahim, mengatakan mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjaga masa depan bangsa. Menurutnya, kampus merupakan laboratorium peradaban tempat lahirnya gagasan-gagasan besar yang dapat mengubah Indonesia. Galuh menegaskan Pancasila bukanlah doktrin masa lalu maupun sekadar materi hafalan. Pancasila adalah ideologi yang hidup dan harus diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.

Ia menyebut mahasiswa yang melakukan advokasi sosial, membantu UMKM, menolak diskriminasi, hingga mengedukasi masyarakat sejatinya sedang membumikan nilai-nilai Pancasila.

“Perubahan tidak akan lahir dari penonton yang hanya duduk diam. Perubahan lahir dari mereka yang berani turun ke lapangan dan bekerja untuk masyarakat,” tekannya.

Tokoh Nasional dan Akademisi Dukung Penguatan Pancasila

Tokoh penggerak pemuda sekaligus praktisi hukum, Robby Christian Tamba, menilai gerakan Relawan Kebajikan Pancasila menjadi langkah strategis untuk memperkuat karakter kebangsaan generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital.

“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor persatuan, penegak hukum yang berintegritas, sekaligus penjaga nilai kebhinekaan di ruang publik maupun media sosial,” serunya.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H., M.S., menegaskan bahwa Pancasila harus terus menjadi fondasi dalam pembangunan hukum nasional.

“Saya menilai penguatan ideologi Pancasila di lingkungan kampus penting untuk melahirkan generasi intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap persatuan, keadilan sosial, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” lugasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *