google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

BI Malang Catat Normalisasi Konsumsi, Ritel Koreksi di Januari

  • Bagikan
Ilustrasi Penjual eceran (Sumber foto: Tribun Solo/iKoneksi.com)
banner 468x60

Malang, iKoneksi.com —Survei Penjualan Eceran (SPE) merupakan salah satu survei yang dipublikasikan secara bulanan yang digunakan sebagai indikator untuk mengetahui perkembangan kondisi ekonomi di wilayah kerja Bank Indonesia Malang. Survei ini bertujuan untuk mengetahui sumber tekanan inflasi dari sisi permintaan dan memperoleh gambaran mengenai kecenderungan perkembangan penjualan eceran serta konsumsi masyarakat.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Dedy Prasetyo, menyampaikan bahwa hasil survei ini menjadi acuan penting dalam membaca dinamika konsumsi masyarakat. Kinerja penjualan eceran di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang pada Januari 2026 diperkirakan mengalami penurunan. Hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) menunjukkan penjualan ritel secara bulanan (month to month/mtm) terkontraksi sebesar -4,66 persen, berbalik dari Desember sebelumnya yang masih tumbuh 8,21 persen (mtm). Survei ini digunakan sebagai salah satu indikator untuk membaca pergerakan konsumsi masyarakat sekaligus potensi tekanan inflasi dari sisi permintaan.

“Tiga kelompok komoditas menjadi penyumbang utama penurunan omzet. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kontraksi terdalam, yakni -13,74 persen (mtm), setelah bulan sebelumnya melonjak 17,37 persen. Disusul kelompok barang budaya dan rekreasi yang turun -10,78 persen, serta peralatan dan komunikasi di toko yang diprakirakan melemah -8,92 persen (mtm),” kata Dedi.

Dedi menuturkan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, pelemahan terutama berasal dari subsektor bahan makanan yang menyusut -15,85 persen (mtm). Kondisi ini dipengaruhi turunnya permintaan bahan-bahan kue kering setelah berakhirnya momen Natal dan Tahun Baru. Pola konsumsi musiman yang mereda membuat belanja masyarakat kembali normal.

“Sementara itu, kelompok barang budaya dan rekreasi juga terkoreksi setelah periode sebelumnya tumbuh tinggi. Penurunan paling terasa pada penjualan kertas, karton, dan barang cetakan yang terkontraksi -20,43 persen (mtm). Meredanya kebutuhan kemasan untuk hampers dan bingkisan turut menekan penjualan sektor ini,” jelas Dedi.

Kinerja kelompok peralatan dan komunikasi di tingkat toko pun ikut melemah. Subsektor perlengkapan telekomunikasi tercatat turun -10,26 persen (mtm). Responden survei mengaitkan penurunan ini dengan berakhirnya berbagai program promosi dan diskon yang sebelumnya mendorong pembelian.

“Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat maupun daerah guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kota Malang di tengah perlambatan konsumsi pascamusiman tersebut,” tutup Dedi

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *