google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Dalam Kemah Pancasila Ketua Bawaslu Jatim Tegaskan Peran Mahasiswa Jaga Kedaulatan Demokrasi

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com — Suasana hangat menyelimuti area perkemahan P-WEC Kota Malang pada Sabtu (8/11/2025) ketika Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Jawa Timur, A. Warits, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Kemah Pancasila yang diinisiasi oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila (Lapasila) Universitas Negeri Malang (UM). Dalam kesempatan tersebut, A. Warits mengajak para mahasiswa dan peserta kemah untuk memahami kembali hakikat Pancasila sebagai inspirasi dalam memperkuat kepemimpinan, demokrasi, dan partisipasi publik di tengah dinamika politik nasional.

Dalam paparannya bertajuk “Pancasila sebagai Inspirasi Partisipasi Aktif Mahasiswa dalam Penguatan Kepemimpinan dan Demokrasi,” Warits menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti pada tataran normatif. Ia menyebut Pancasila harus dihidupkan dalam tindakan nyata, terutama di ranah demokrasi. “Kedaulatan rakyat bukan sekadar kalimat indah dalam Pembukaan UUD 1945. Ia adalah amanah sejarah yang harus dijaga dan diperjuangkan oleh setiap warga negara,” tegasnya di hadapan puluhan mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut.

Warits menyoroti pentingnya partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga integritas Pemilu. Menurutnya, partisipasi bukan hanya sekadar datang ke TPS dan mencoblos, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan setiap proses demokrasi berjalan jujur, adil, dan bermartabat.

“Pemilu adalah sarana rakyat berdaulat, bukan sekadar rutinitas politik lima tahunan. Ketika rakyat mengawasi, rakyat sedang melindungi dirinya sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan ancaman nyata terhadap kedaulatan rakyat yang kerap muncul menjelang Pemilu, seperti politik uang, intimidasi, serta pembodohan publik melalui kampanye manipulatif dan penyebaran hoaks. Warits menilai, jika partisipasi rakyat melemah, maka demokrasi akan kehilangan ruhnya.

“Demokrasi hanya akan hidup bila rakyatnya hidup. Tapi kalau rakyatnya diam, demokrasi akan mati perlahan,” tegasnya dengan nada serius.

Selain mengulas filosofi dasar demokrasi, Ketua Bawaslu Jatim juga memaparkan langkah konkret lembaganya dalam meningkatkan transparansi dan efektivitas pengawasan. Salah satu terobosan yang ia perkenalkan adalah sistem “Rumah Data”, sebuah inovasi digital yang dirancang sebagai wadah laporan pengawasan, kanal konsolidasi informasi, dan sarana pengendalian kecurangan Pemilu. Menurutnya, sistem ini memastikan setiap proses pengawasan tidak hanya bergantung pada laporan manual, tetapi berbasis data terverifikasi.

“Rumah Data bukan sekadar aplikasi. Ia adalah sistem kendali yang memastikan setiap jajaran pengawas bekerja sesuai aturan. Dengan data yang rapi dan terverifikasi, pengawasan menjadi lebih cepat, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan. Ini cara kami menjaga kedaulatan rakyat melalui disiplin prosedur,” paparnya.

Warits menambahkan, pengawasan yang kuat tidak bisa hanya mengandalkan lembaga pengawas, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat luas. Ia menyebut mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan yang bisa menjadi motor literasi politik di lingkungannya.

“Mahasiswa memiliki energi, kreativitas, dan keberanian untuk mewujudkan Pemilu yang jujur dan berintegritas. Sejarah bangsa telah membuktikan, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas bangsa,” katanya, disambut tepuk tangan peserta.

Lebih lanjut, Warits menekankan pentingnya literasi politik sebagai bekal bagi mahasiswa dalam memahami dinamika kepemimpinan dan demokrasi. Ia mendorong agar kegiatan akademik tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada praktik sosial yang membangun kesadaran kritis terhadap isu kebangsaan.

“Literasi politik harus berbasis pada peristiwa nyata, bukan sekadar teori di ruang kelas. Dengan begitu, mahasiswa bisa berkontribusi nyata dalam memperkuat demokrasi Indonesia,” jelasnya.

Kegiatan Kemah Pancasila yang digelar Lapasila UM ini tidak hanya menjadi ruang refleksi nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga ajang pembentukan karakter kepemimpinan bagi generasi muda. Dalam suasana penuh semangat kebersamaan, peserta diajak berdialog, berdiskusi, dan berinteraksi langsung dengan para narasumber untuk menggali makna Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Menutup pemaparannya, A. Warits mengajak seluruh mahasiswa untuk terus menjaga semangat partisipasi aktif dalam demokrasi. Ia mengingatkan bahwa perjuangan menjaga kejujuran Pemilu bukan hanya tugas lembaga seperti Bawaslu, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia.

“Menjaga Pemilu berarti menjaga Indonesia. Jika kita ingin masa depan bangsa ini bermartabat, maka kita semua harus ikut mengawalnya,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *