google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Digdaya Merawat Budaya, Ketika Pelestarian Tradisi Terancam Putus oleh Hilangnya Regenerasi

  • Bagikan
banner 468x60
Dialog budaya bertajuk “Digdaya Merawat Budaya”. Senin (22/6/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/ikoneksi.com)

Kota Malang, ikoneksi.com – Ancaman kepunahan pelaku dan pembuat alat musik tradisional menjadi sorotan dalam dialog budaya bertajuk “Digdaya Merawat Budaya, Presisi Menjaga Tradisi” yang digelar Komunitas Kumpul Rencang Sareng di Sareng Indonesian Culinary, Jalan Merbabu No. 30 Kota Malang, Senin (22/6/2026). Acara menghadirkan musisi sekaligus budayawan Bejo Sandy dan Rohmat Yasin untuk membahas tantangan pelestarian warisan budaya Nusantara, mulai dari minimnya regenerasi hingga rendahnya nilai ekonomi yang diterima para pelaku budaya.

Dalam forum tersebut, Bejo Sandy mengungkapkan bahwa perjalanan riset dan pertemuannya dengan para pembuat alat musik tradisional di berbagai daerah justru memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan. Banyak perajin yang telah berusia lanjut dan tidak memiliki penerus.

“Rata-rata pembuat alat musik yang saya temui berumur 86 tahun. Mereka secara lugas menyatakan bahwa mereka adalah generasi terakhir. Saya sampai menangis mendengar itu. Kalimat tersebut menjadi motivasi saya untuk terus berjalan dan konsisten mendokumentasikan serta mengenalkan alat musik tradisional. Kalau mereka berhenti dan tidak ada penerus, maka pengetahuan itu ikut hilang,” ujarnya.

Menurut Bejo, persoalan terbesar bukan sekadar kurangnya perhatian masyarakat, melainkan hilangnya mata rantai ekonomi yang membuat generasi muda enggan meneruskan profesi sebagai pembuat alat musik tradisional. Ia mencontohkan sejumlah alat musik yang dahulu memiliki nilai budaya tinggi kini hanya dianggap barang murah tanpa nilai jual yang layak.

“Kenapa banyak pelestari atau pembuat alat musik tradisional berhenti? Karena tidak ada transaksi. Tidak ada nilai ekonomi yang membuat mereka bertahan. Bahkan ada alat musik yang akhirnya dijual dengan harga sangat murah. Padahal di balik alat itu ada sejarah, pengetahuan, filosofi, dan identitas budaya yang luar biasa. Kalau tidak ada yang membeli dan menghargai, bagaimana mereka bisa terus membuatnya?” katanya.

Rohmat Yasin, budayawan sekaligus juru pelihara Situs Petirtaan Ngawonggo. Senin (22/6/2026) (Aisyah Dyah Novayanti Suep/ ikoneksi.com)

Sementara itu, Rohmat Yasin, budayawan sekaligus juru pelihara Situs Petirtaan Ngawonggo, menilai pelestarian budaya tidak bisa dilepaskan dari keterikatan masyarakat terhadap lingkungan dan warisan leluhurnya. Ia mengaku konsisten menjaga situs budaya di kampung halamannya karena dorongan pesan para sesepuh agar warisan nenek moyang tidak ditinggalkan.

“Sejak kecil saya selalu penasaran dengan warisan budaya yang ada di depan saya. Saya sering bertanya ini peninggalan siapa dan kenapa harus dijaga. Kemudian para sesepuh desa selalu berpesan bahwa budaya lokal jangan ditinggalkan. Ada nilai sepi ing pamrih, rame ing gawe yang terus saya pegang. Itulah yang membuat saya bertahan di Ngawonggo, meski dengan segala keterbatasan. Saya tidak malu mengenalkan desa dan warisan budaya saya sendiri kepada siapa pun yang datang,” tuturnya.

Diskusi juga menyinggung pentingnya keterlibatan sektor usaha dalam menjaga keberlanjutan budaya.

Ketua Umum HIPMI Kota Malang, Hendi, yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai pelestarian budaya membutuhkan dukungan promosi dan jejaring yang lebih luas agar memiliki dampak ekonomi bagi para pelakunya.

“Value budaya itu harus diceritakan. Hari ini saya menjadi lebih terbuka bahwa karya-karya seperti ini memiliki nilai luar biasa. Kami ingin membantu mengenalkannya ke berbagai forum bisnis dan kabupaten/kota di Jawa Timur. Mungkin dampaknya tidak terasa sekarang, tetapi apa yang ditanam hari ini bisa menjadi investasi budaya beberapa tahun ke depan,” katanya.

Hendi menyebutkan selain dialog, kegiatan tersebut juga menampilkan demonstrasi permainan alat musik tradisional yang memperlihatkan kekayaan bunyi Nusantara sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui seremoni, melainkan membutuhkan regenerasi, dokumentasi, dan dukungan ekonomi agar tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *