google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kasus Bundir Soehat, Ketua DPRD Kota Malang Usul Evaluasi Sistem Penerimaan Kampus

  • Bagikan
filter: 0; jpegRotation: 180; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Night; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 0.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani, menyebut maraknya kasus bunuh diri di Jembatan Soekarno-Hatta sebagai kondisi yang memprihatinkan dan harus segera ditangani secara serius serta kolektif. Ia menilai, melekatnya stigma “destinasi bunuh diri” pada salah satu ikon Kota Malang merupakan alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Hari ini Jembatan Soekarno-Hatta dikenal sebagai wisata tanda petik bunuh diri. Ini memprihatinkan dan harus kita atasi bersama,” tutur Amithya.

Menurut Amithya, meski sebagian korban bukan warga asli Kota Malang, hal tersebut tidak mengurangi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Ia menegaskan, Kota Malang tidak boleh dibiarkan menjadi tempat yang secara simbolik diasosiasikan dengan tragedi kemanusiaan.

“Kenapa kita bisa jadi destinasi bunuh diri? Itu bukan sesuatu yang baik dan tidak boleh dinormalisasi,” ujarnya.

Amithya juga menyoroti kuatnya pengaruh disrupsi teknologi dan arus informasi digital terhadap kondisi kesehatan mental masyarakat, khususnya generasi muda. Ia menilai narasi-narasi tentang bunuh diri yang beredar di ruang digital dapat menjadi pemicu bagi individu yang sedang mengalami ketidakstabilan mental.

“Narasi-narasi ini bisa menjadi pengantar ide. Mereka akhirnya tahu, ‘oh di sana’ dan menganggapnya sebagai pilihan,” kata Amithya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pengendalian narasi dan peningkatan literasi digital agar teknologi tidak justru memperparah kerentanan mental masyarakat. Menurutnya, persoalan bunuh diri tidak bisa dilepaskan dari akar masalah kesehatan mental yang lebih luas.

“Kita harus mengurai apa yang menyebabkan ketidakstabilan mental. Ada banyak keresahan yang dialami generasi kita hari ini,” sebutnya.

Amithya menegaskan, penyelesaian masalah ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, termasuk komunitas psikolog atau tenaga kesehatan mental. Lingkungan sosial, keluarga, pertemanan, hingga institusi pendidikan memiliki peran yang sama penting.

“Lingkungan itu sangat mempengaruhi. Relasi pertemanan, hubungan dengan orang tua, dengan orang dewasa di sekelilingnya, termasuk di institusi pendidikan, semuanya harus terlibat,” tekan Mia sapaan akrabnya.

Ia mendorong pendekatan komprehensif dengan memetakan persoalan secara menyeluruh, bukan reaktif terhadap kejadian. Tujuan akhirnya, kata Amithya, adalah menurunkan angka percobaan bunuh diri hingga nol.

“Kalau bisa, zero. Tidak ada lagi orang yang menjadikan bunuh diri sebagai solusi atas persoalan hidup,” tekan Mia.

Salah satu gagasan yang disampaikan Mia adalah pentingnya skrining kesehatan mental sejak awal, khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Ia menilai, tes kesehatan mental dapat disandingkan dengan tes kesehatan fisik yang selama ini sudah menjadi prosedur umum.

“Masuk kampus saja ada tes kesehatan. Ditambahkan saja item kesehatan mental,” ungkap Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang itu.

Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap catatan awal mahasiswa baru yang menunjukkan indikasi di luar kondisi normal. Menurutnya, catatan tersebut tidak boleh diabaikan dan harus menjadi bahan evaluasi bagi para pendidik dan pengelola kampus.

“Kalau ada sesuatu yang tidak normal, itu harus jadi perhatian orang dewasa di sekelilingnya. Kalau tidak, itu bisa jadi bom waktu,” ucap Mia.

Mia mengingatkan tekanan akademik, persoalan keluarga, dan dinamika pertemanan dapat menjadi pemicu yang memperburuk kondisi mental seseorang. Karena itu, ia mendorong penguatan sistem pendampingan dan kewaspadaan dini.

Ia mengungkapkan telah merekomendasikan kepada Wali Kota Malang untuk menggelar pertemuan bersama para akademisi dan pimpinan perguruan tinggi guna membahas solusi komprehensif berbasis kajian ilmiah.

“Kampus punya banyak bekal analisa dan kajian. Kami butuh dipandu, apa yang harus dilakukan secara komprehensif,” beber Mia.

Menurut Amithya, kebijakan pencegahan bunuh diri harus dirumuskan berdasarkan dialog lintas sektor, bukan semata intuisi atau respons sesaat. Ia berharap langkah tersebut dapat menghentikan stigma negatif sekaligus mencegah tragedi serupa terulang.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *