google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Memudarnya Tukang Jahit di Tengah Tren Fast Fashion

  • Bagikan
Sumber gambar: Magnific
banner 468x60

Kota Semarang, iKoneksi.com — Saat kancing lepas atau celana robek, banyak orang kini memilih membeli pakaian baru daripada memperbaikinya. Perubahan kebiasaan yang tampak sepele tersebut secara perlahan menggeser keberadaan tukang jahit dan layanan permak pakaian yang sebelumnya mudah dijumpai di kawasan permukiman serta pasar tradisional.

Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Kemudahan berbelanja secara online membuat masyarakat mudah dalam mendapatkan pakaian dengan harga yang lebih murah. Akibatnya, memperbaiki pakaian tidak lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian orang.

Penny Bintani, penjahit asli Semarang. Mengatakan jumlah pelanggan terus berkurang dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, masyarakat kini lebih sering membeli pakaian secara daring daripada menjahit pakaian baru. 

“Sekarang pelanggan berkurang karena semakin banyak toko online. Mereka lebih suka membeli pakaian secara online, meskipun kadang kualitas jahitannya tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Penjahit Wanita (Sumber Gambar: Magnific)

Ia menambahkan, banyak pelanggan menganggap ongkos jahit lebih mahal dibanding membeli pakaian jadi. Di sisi lain, persoalan ini juga berkaitan dengan meningkatnya limbah tekstil. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Tingginya konsumsi pakaian dan tren fesyen yang terus berubah menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan jumlah limbah tersebut.

Padahal, memperbaiki pakaian dapat menjadi cara sederhana untuk memperpanjang masa pakai barang sekaligus mengurangi sampah tekstil. Praktik yang dahulu umum dilakukan masyarakat kini mulai tergeser oleh budaya membeli baru yang dianggap lebih praktis. Di tengah budaya konsumsi yang semakin cepat, keberadaan tukang jahit menjadi pengingat bahwa tidak semua pakaian yang rusak harus berakhir di tempat sampah. 

 

Sumber: Wawancara dengan Penny Bintani, penjahit Semarang (Juni 2026); Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK); Sistem informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN)

 

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *