google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sekolah Darurat Danatara Pulihkan Semangat Anak Korban Bencana

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Aceh Tamiang, iKoneksi.com — Di tengah proses pemulihan pasca-bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, aktivitas belajar kembali terdengar dari Sekolah Darurat Danatara, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (24/2/2026). Puluhan anak usia Sekolah Dasar (SD) mengikuti kegiatan edukatif yang dikemas melalui metode belajar sambil bermain.

Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 WIB itu diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD yang terdampak langsung bencana. Meski berlangsung di ruang belajar darurat dengan fasilitas terbatas, suasana terlihat hidup. Tawa anak-anak terdengar saat relawan mahasiswa mengajak mereka membaca, berhitung, bernyanyi, hingga bermain permainan edukatif.

Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Metode belajar sambil bermain dipilih sebagai bagian dari upaya pemulihan psikososial atau trauma healing bagi anak-anak yang masih merasakan dampak bencana.

Dua relawan mahasiswa, Dewi Astuti dan Salinda, memimpin kegiatan tersebut. Selain memberikan materi dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, keduanya menyisipkan permainan kolaboratif dan aktivitas interaktif untuk membangun kembali rasa percaya diri anak-anak.

“Kami ingin anak-anak kembali melihat sekolah sebagai ruang yang menyenangkan, terutama dalam situasi sulit seperti ini,” kata Dewi di sela kegiatan.

Menurutnya, mengembalikan rutinitas belajar menjadi langkah penting dalam membantu anak-anak keluar dari bayang-bayang trauma. Dengan aktivitas yang menyenangkan, perhatian mereka perlahan teralihkan dari pengalaman bencana.

Salinda menambahkan, antusiasme siswa menjadi indikator positif proses pemulihan. Ia melihat anak-anak kembali aktif bertanya, berdiskusi, dan bekerja sama dalam kelompok kecil.

“Anak-anak merindukan suasana belajar bersama teman-temannya. Fokus kami adalah mengembalikan senyum dan semangat mereka,” ucap dia.

Sekolah Darurat Danatara berdiri sebagai inisiatif swadaya masyarakat dan relawan untuk memastikan hak pendidikan anak tetap terpenuhi di masa krisis. Fasilitas yang tersedia masih sederhana, namun dinilai cukup untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar sambil menunggu pemulihan sekolah permanen.

“Kehadiran sekolah darurat ini menjadi simbol harapan di tengah keterbatasan. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses akademik, tetapi juga sebagai ruang pemulihan emosional bagi anak-anak korban bencana,” jelas dia.

Salinda berharap dukungan berbagai pihak terus mengalir agar kegiatan pendampingan dapat berlangsung berkelanjutan. Dengan demikian, pemulihan pasca-bencana tidak hanya menyentuh infrastruktur fisik, tetapi juga aspek psikologis generasi muda.

“Di Aceh Tamiang, dari ruang kelas sederhana itulah, semangat baru perlahan tumbuh,” tutupnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *