google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tragedi Longsor Pacet-Cangar, Satu Keluarga Tewas Terjebak

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Tragedi memilukan terjadi di jalur Pacet–Cangar, Jawa Timur. Enam penumpang mobil Innova, termasuk pasangan suami istri dan seorang anak kecil, tewas setelah kendaraan yang mereka tumpangi dihantam longsor dan tertimbun material berat. Proses evakuasi berlangsung dramatis dan penuh perjuangan karena kendaraan korban terjepit batu besar dan pepohonan yang tumbang akibat longsor dahsyat tersebut.

Kepala BPBD Jawa Timur, Andi Hartono, menjelaskan seluruh jenazah dievakuasi dalam kondisi terjepit di dalam satu unit mobil Innova berpelat nomor Sidoarjo. Mobil tersebut terseret lumpur deras, terhempas, lalu terhenti setelah tertahan oleh bongkahan batu dan pepohonan besar di lereng Pacet-Cangar.

Evakuasi Penuh Perjuangan: Mobil Harus Dipotong 40 Persen

“Mobil ini diambil dari satu titik, kondisinya benar-benar parah. Terjepit di antara pohon dan batu besar. Lumpur juga sudah menutupi sebagian besar bodi mobil,” kata Andi dalam keterangan persnya.

Proses evakuasi berlangsung penuh tantangan. Tim SAR gabungan harus bekerja selama berjam-jam untuk membebaskan para korban. Bahkan, hampir 40 persen struktur mobil harus dipotong agar tim medis dan relawan bisa mengevakuasi jenazah dengan aman.

“Tim harus melakukan pemotongan di bagian atap dan sisi mobil, karena korban terjepit dan tidak bisa dikeluarkan dalam posisi normal. Kondisinya menyulitkan,” jelas Andi.

Satu Keluarga Tewas Bersama Anak Kecil

“Di antara enam korban tewas, diketahui ada satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan anak mereka yang masih balita. Informasi ini diperoleh dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh Tim DVI RS Bhayangkara Hasta Brata Kota Batu,” terang Andi.

Kabiddokkes Polda Jawa Timur, Kombes Pol Dr. dr. Mohammad Khusnan Marzuki, menyatakan bahwa dari enam jenazah yang berhasil dievakuasi, dua di antaranya adalah anak-anak berusia 2 dan 6 tahun.

“Total ada enam korban. Dua anak kecil, satu perempuan dewasa, dan tiga laki-laki dewasa. Kami melakukan proses identifikasi berlapis dengan lima tahapan, mulai dari olah TKP, pemeriksaan postmortem, hingga pencocokan data antemortem dari keluarga korban,” jelasnya.

Dari hasil identifikasi awal, salah satu korban bernama Masjid Zatmo Setio (30), warga Desa Kloposepuluh, Sukodono, Sidoarjo.

“Jenazah Masjid telah diambil oleh pihak keluarga dan dimakamkan malam itu juga di TPU Dusun Paseban,” ungkap Marzuki.

Empat Korban Sudah Teridentifikasi, Dua Masih Proses

Sampai berita ini ditulis, sudah empat dari enam jenazah yang berhasil diidentifikasi. Tiga di antaranya masih menjalani proses identifikasi di RS Bhayangkara dengan bantuan data keluarga dan dokumen pendukung. Dua jenazah lainnya masih dalam tahap pencocokan karena kondisi fisik yang sudah rusak akibat tertimbun material longsor selama berjam-jam.

“Identifikasi tidak mudah, karena kondisi tubuh korban sudah mengalami luka berat dan beberapa mengalami deformasi. Namun, tim forensik kami bekerja maksimal dan dibantu pihak keluarga untuk mempercepat proses,” ujar Marzuki.

Saksi Mata Ungkap Detik-detik Kejadian

Seorang saksi mata bernama Sutrisno, yang saat kejadian berada beberapa ratus meter dari lokasi longsor, menyatakan bahwa suara longsor terdengar seperti ledakan keras.

“Awalnya saya kira gempa, tapi ternyata batu dan pohon besar meluncur dari atas. Semua orang panik, yang sempat lari langsung menyelamatkan diri,” ungkapnya.

Tak lama setelah longsor terjadi, sejumlah kendaraan hilang dari pandangan, tertelan material longsor yang menutup badan jalan.

“Termasuk di antaranya mobil Innova nahas yang ditumpangi oleh enam korban tersebut,” sebutnya.

Jalur Pacet-Cangar Sering Makan Korban

Andi menyebutkan tragedi ini bukan yang pertama terjadi di jalur Pacet–Cangar. Jalur yang dikenal dengan keindahan alamnya ini juga memiliki catatan kelam sebagai salah satu ruas paling rawan longsor di Jawa Timur, terutama saat musim hujan.

“Kondisi lereng curam, vegetasi yang terus berkurang, serta minimnya sistem peringatan dini menjadi kombinasi mematikan bagi pengguna jalan yang melintasi kawasan ini. Pemerintah daerah dan instansi terkait pun kami minta untuk segera mengambil tindakan konkret, seperti memperkuat tebing dengan bronjong dan memasang sistem peringatan dini longsor,” seru Andi.

Pemerintah Diminta Turun Tangan

Warga dan keluarga korban berharap pemerintah pusat maupun daerah segera turun tangan untuk memperbaiki jalur Pacet–Cangar agar lebih aman. Selain itu, proses tanggap darurat juga perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali merenggut korban jiwa.

“Harus ada peringatan atau pembatasan lalu lintas di saat kondisi hujan deras. Jangan sampai orang-orang terus menjadi korban hanya karena lalai mengantisipasi potensi bencana,” ujar Ahmad Fauzi, kerabat salah satu korban.

Kini, jalur Pacet–Cangar ditutup sementara waktu untuk proses pembersihan material longsor dan evakuasi lanjutan. Andi membeberkan parat gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan terus berjaga di lokasi.

“Tragedi ini menjadi pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja. Dan kesiapsiagaan, baik dari pemerintah maupun masyarakat, adalah kunci untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak lagi,” tutup Andi. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *