google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

UB Gandeng Alamku Hijau Bahas Krisis Sampah dalam Forum Lingkungan Hidup

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Universitas Brawijaya (UB) Malang kembali menunjukkan komitmennya terhadap isu lingkungan hidup dengan menggelar forum diskusi bertajuk Share Water Challenge Discussion. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (15/4/2025) pukul 08.00–12.00 WIB di Aula Fakultas Pertanian UB, dan mengangkat isu krusial yang sudah lama menjadi keresahan masyarakat: limbah sampah.

Forum ini bukan sekadar agenda diskusi akademik biasa. UB mengemasnya menjadi wadah dialog multi-pihak dengan melibatkan para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, swasta, hingga akademisi. Di tengah membludaknya limbah dan belum optimalnya sistem pengelolaan sampah di berbagai wilayah, kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan solusi nyata yang berkelanjutan.

Dibuka Oleh Dekan, Dipandu Aktivis Lingkungan

Forum dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Prof. M. Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, Purnomo menekankan pentingnya membangun sinergi antara dunia akademik dan sektor publik serta swasta dalam menanggulangi persoalan lingkungan, terutama yang berhubungan dengan sampah dan pencemaran air.

Kegiatan diskusi ini dipandu oleh moderator yang juga dikenal luas di kalangan pegiat lingkungan, Fitri Harianto alias Cak Ndan. Sosoknya tak asing lagi karena merupakan Founder Alamku Hijau sekaligus Ketua Umum Baskosmas. Dengan gaya komunikatif dan kritis, Cak Ndan menghidupkan diskusi dan mendorong keterlibatan aktif peserta.

Sesi Pertama: Soroti Penanggulangan Sampah dan Drainase

Founder Alamku Hijau, Fitri Harianto, menyebutkan sesi pertama diisi oleh para pembicara dari dinas-dinas terkait. Di antaranya adalah Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman, S.T., M.T., yang merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang. Turut hadir pula Agnes Samosir, Sustainability Manager Bentoel Group, serta Agung Praptadi, S.ST., M.Sc., Plt Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Brantas Sampean,” jelas Fitri.

Menurutnya topik utama dalam sesi ini adalah penanggulangan limbah sampah dan pengelolaan drainase di Kabupaten Malang. Diskusi berlangsung dinamis, terutama saat sesi tanya jawab dibuka.

“Sejumlah peserta mengungkapkan keresahan masyarakat soal pengelolaan sampah yang dinilai belum maksimal, termasuk praktik pembuangan sampah yang kerap dilakukan saat warga sedang beristirahat,” terang Cak Ndan sapaan akrabnya.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala DLH Kabupaten Malang, Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman, S.T., M.T., mengakui masih adanya kekurangan dalam pengawasan dan teknis pelaksanaan. Namun, ia menegaskan DLH terus berupaya memperbaiki sistem dan memperluas edukasi masyarakat agar pengelolaan limbah berjalan lebih baik dan ramah lingkungan.

Senada dengan hal itu, Agung Praptadi, S.ST., M.Sc., Plt Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Brantas Sampean, mengungkapkan Bendungan Sengguruh di Kabupaten Malang juga turut terdampak dari limpahan sampah yang terbawa aliran sungai.

“Setiap musim hujan, tumpukan sampah di bendungan semakin parah. Ini jelas mengganggu ekosistem dan kualitas air yang masuk ke jaringan irigasi,” jelasnya.

Sesi Kedua: Perspektif Akademisi dan Infrastruktur Air

Memasuki sesi kedua, forum menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi dan lembaga pengelola air. Prof. Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Pertanian UB sekaligus Wakil Ketua Forum DAS, serta Ir. Sugik Edy Sartono, S.T., M.T., Vice President Perencanaan, Teknologi Informasi dan Infrastruktur SDA Perum Jasa Tirta.

Didik menyoroti pentingnya kesadaran kolektif dan pendidikan lingkungan sejak dini sebagai pilar utama pengendalian sampah. Ia menekankan bahwa pendekatan ilmiah dan teknologi tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat.

Sementara itu, Sugik menegaskan pentingnya kolaborasi antarinstansi untuk membangun infrastruktur pengelolaan air bersih yang tangguh terhadap ancaman pencemaran.

“Jaringan pengairan tidak akan bisa berfungsi maksimal jika sumber air kita terus tercemar oleh limbah rumah tangga maupun industri,” tegasnya.

Harapan Bersama untuk Lingkungan yang Lebih Bersih

Forum diskusi Share Water Challenge Discussion ini ditegaskan Cak Ndan menjadi bukti isu lingkungan tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Butuh sinergi, konsistensi, dan kesadaran kolektif dari berbagai kalangan. Universitas Brawijaya dengan perannya sebagai institusi pendidikan telah memfasilitasi ruang dialog yang konstruktif bagi semua pihak yang peduli akan masa depan lingkungan.

“Di akhir acara, seluruh peserta menyatakan komitmennya untuk terus mendorong langkah nyata dalam penanggulangan sampah dan menjaga kualitas air. Harapan bersama muncul: agar lingkungan kembali bersih, sehat, dan berkelanjutan demi generasi mendatang,” pungkas Cak Ndan. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *