google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

WhatsApp Pejabat Pemkot Malang Diretas, Waspada Modus Baru

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Kasus peretasan nomor WhatsApp pejabat Pemerintah Kota Malang kembali mencuat dan menimbulkan kehebohan. Bukan sekadar gangguan teknis, peretasan ini sudah merambah pada upaya penipuan yang berpotensi merugikan banyak pihak.

Dua nama teridentifikasi sebagai korban. Pertama, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, yang saat ini masih aktif menjabat. Kedua, Totok Kasianto, mantan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) yang sudah pensiun.

Meski berbeda status, keduanya sama-sama menjadi sasaran aksi para peretas yang lihai memainkan modus. Mereka tak hanya meretas akun pribadi, tetapi juga mengirimkan pesan penipuan dan permintaan uang ke sejumlah kontak korban.

Modus Licik: Undangan Aplikasi dan Phishing

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, mengungkapkan bahwa metode yang digunakan kemungkinan besar adalah phishing.

“Kemungkinan ini metode phishing. Sebelumnya, kedua orang tersebut sempat mengklik sesuatu. Setelah dibuka, WhatsApp mereka ditarik pelaku,” jelas Wiwid, sapaan akrabnya kepada iKoneksi.com, Kamis (11/9/2025).

Modus ini semakin berbahaya karena para pelaku menggunakan teknik psikologi. Pesan yang dikirim seolah-olah berasal dari orang dekat. Dengan cara itu, penerima pesan bisa saja merasa familiar, percaya, dan tanpa curiga menyetujui permintaan pelaku.

“Selain pesan penipuan, pelaku juga memanfaatkan undangan aplikasi dalam format file yang dikirim via WhatsApp. Begitu korban mengklik tautan yang disertakan, sistem keamanan akun pun diretas dan dikuasai,” kata Wiwid.

Mengapa Pejabat Menjadi Target

Menurut Wiwid, bukan tanpa alasan jika pelaku memilih menyasar kepala dinas dan pejabat publik. Posisi mereka yang memiliki jaringan luas menjadi daya tarik tersendiri. Jika seorang pejabat terjebak, potensi dampak yang ditimbulkan jauh lebih besar karena menyangkut kepercayaan banyak orang di lingkaran mereka.

“Target peretasan sengaja menyasar kepala dinas karena jaringan mereka luas. Ini juga menyangkut pendekatan psikologi, pelaku memanfaatkan rasa percaya antar-rekan kerja maupun kolega,” tegas Wiwid.

Peringatan untuk ASN dan Masyarakat

Kasus ini menjadi alarm penting bagi masyarakat, terutama para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Malang. Wiwid mengingatkan agar lebih berhati-hati ketika menerima tautan atau aplikasi yang sumbernya tidak jelas.

“Jangan mudah mengklik aplikasi sembarangan. Hal itu berpotensi menjadi pintu masuk peretasan,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya langkah pencegahan, mulai dari memverifikasi setiap tautan, mengabaikan pesan mencurigakan, hingga mengaktifkan keamanan tambahan seperti verifikasi dua langkah pada aplikasi WhatsApp.

Momentum Kewaspadaan Digital

Kasus ini sekali lagi membuktikan bahwa era digital membawa dua sisi sekaligus: kemudahan dan kerentanan. Bagi pejabat publik, menjaga keamanan komunikasi bukan hanya soal privasi, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik.

Peretasan seperti yang dialami Baihaqi dan Totok Kasianto bisa menjadi pintu masuk kerugian lebih luas jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, kesadaran digital harus menjadi budaya bersama, tidak hanya di kalangan ASN, tetapi juga masyarakat umum.

“Kasus ini bukan yang pertama, dan bisa jadi bukan yang terakhir. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat kuat bahwa kewaspadaan digital adalah pertahanan pertama menghadapi kejahatan siber yang terus berkembang,” tukas Wiwid. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *