google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kolaborasi HKN UM–SMP Immanuel Batu Bangun Generasi Toleran

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com — Di tengah meningkatnya tensi politik dan maraknya intoleransi di ruang digital, dunia pendidikan kembali mengambil peran strategis untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Kamis (13/11/2025), Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi dengan SMP Immanuel Batu menggelar Sosialisasi Politik dan Toleransi (Potel) bagi para peserta didik. Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut diikuti 220 siswa, menggugah semangat baru untuk mencetak generasi muda yang kritis, bijak, serta mampu memahami politik secara sehat dan bertanggung jawab.

Mengusung tema “Wujudkan Generasi Muda yang Kritis, Bijak, dan Toleran melalui Pendidikan Politik yang Berintegritas”, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa dan institusi pendidikan dalam menjaga kualitas demokrasi. Program Potel sejak dini ini juga menegaskan bahwa politik tidak selamanya kotor atau menakutkan, melainkan ruang belajar untuk memahami bagaimana negara bekerja, bagaimana hak-hak warga negara dilindungi, sekaligus bagaimana sikap toleransi menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Ketua pelaksana kegiatan, Paber Efraim Sitorus, menegaskan pendidikan politik seharusnya tak lagi menunggu seseorang mencapai usia pemilih, tetapi dimulai sejak bangku sekolah. Menurutnya, semakin dini seorang anak memahami politik, semakin besar peluang mereka tumbuh menjadi warga negara yang tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terjebak hoaks, dan mampu berpikir kritis dalam membaca dinamika sosial.

“Kegiatan ini lahir dari keprihatinan kami melihat banyak remaja yang terpapar informasi politik secara liar di media sosial. Tanpa pendampingan, mereka mudah terjebak pada polarisasi atau sikap intoleran. Kami ingin memberikan ruang belajar yang benar, sehat, dan menyenangkan, sehingga politik tidak lagi dianggap menakutkan, tetapi menjadi wadah mereka memahami negaranya,” kata Paber kepada iKoneksi.com, Kamis (13/11/2025).

Paber menambahkan mahasiswa HKN UM juga ingin mendorong siswa SMP untuk memahami bagaimana Pancasila menjadi titik temu keberagaman, sekaligus benteng yang menjaga generasi muda dari pengaruh ideologi transnasional yang kian masif di era digital. Ia berharap kegiatan Potel ini menjadi program berkelanjutan di sekolah-sekolah lain, bukan hanya seremonial semata.

Sementara itu, Kepala SMP Immanuel Batu, Dian Natalia, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, SMP sebagai lembaga yang menjadi titik awal pembentukan karakter membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk memperkaya wawasan peserta didik, terutama dalam hal toleransi dan dinamika politik kebangsaan.

“Kami menyambut baik kolaborasi dengan mahasiswa HKN UM. Anak-anak kami harus mulai mengenal politik sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan. Politik bukan berarti konflik, politik adalah cara bagaimana bangsa ini berjalan. Dan toleransi merupakan nilai penting yang harus selalu mereka bawa ke mana pun mereka melangkah,” jelas Dian.

Ia juga menilai, di tengah gempuran arus informasi digital yang sering kali menyesatkan, pendidikan politik yang terstruktur sangat dibutuhkan. Banyak siswa yang terpapar berita bohong atau ujaran kebencian tanpa memahami konteksnya. Karena itu, SMP Immanuel Batu ingin memastikan para siswanya memiliki fondasi literasi digital, literasi politik, dan literasi sosial yang mumpuni.

Kegiatan Potel ini berlangsung interaktif. Mahasiswa HKN UM memandu siswa untuk memahami dasar-dasar demokrasi, fungsi lembaga negara, pentingnya pemilu, serta bagaimana toleransi menjadi modal utama dalam keberagaman Indonesia. Siswa juga diajak berdiskusi melalui studi kasus sederhana mulai dari konflik antar kelompok hingga pemahaman hoaks agar mereka mampu berpikir kritis dan berani mengemukakan pendapat.

Menariknya, beberapa siswa mengaku baru pertama kali mendapatkan penjelasan politik secara sistematis. Mereka merasa lebih memahami peran warga negara, makna perbedaan, dan bagaimana menjaga harmoni dalam masyarakat multikultural.

Dian Natalia berharap kegiatan ini mampu menjadi titik awal perubahan pola berpikir siswa, sehingga mereka tumbuh menjadi remaja yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga matang dalam menyikapi perbedaan.

“Kalau mereka sejak SMP sudah belajar berdialog dengan sehat, belajar menahan ego, belajar berpikir kritis, saya percaya kelak mereka menjadi generasi yang tidak mudah terpecah belah. Itu harapan terbesar kami,” tegasnya.

Potel diharapkan Paber menjadi gerakan pendidikan yang menjangkau lebih banyak sekolah di Malang Raya.

“Kegiatan ini menegaskan masa depan demokrasi Indonesia bergantung pada kualitas generasi mudanya. Dan upaya membangun generasi yang kritis, bijak, serta toleran harus dimulai dari ruang-ruang belajar seperti yang dilakukan UM dan SMP Immanuel Batu,” tutup Paber.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *