google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Rocky Gerung: Gen Z Jangan Sekadar Marah, Marahlah dengan Arah

  • Bagikan
Rocky Gerung dalam bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z di Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (24/7/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/iKoneksi.com)
banner 468x60
Rocky Gerung dalam bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z di Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (24/7/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/iKoneksi.com)

Kota Malang, iKoneksi.com – Generasi Z dinilai tengah mengalami kelelahan berpikir akibat banjir informasi dan kegagalan politik menghadirkan harapan. Karena itu, mereka tidak cukup hanya bersikap kritis dan marah terhadap situasi yang terjadi, tetapi harus mampu mengarahkan kemarahannya melalui pengetahuan dan pembacaan yang mendalam. Pesan tersebut disampaikan Rocky Gerung dalam bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z di Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (24/7/2026).

Menurut Rocky, kelelahan yang dialami generasi muda saat ini bukan disebabkan banyaknya aktivitas, melainkan karena terus-menerus mengonsumsi informasi tanpa sempat melakukan refleksi. Isu politik, korupsi, hingga kebijakan pemerintah silih berganti muncul di media sosial dan memaksa masyarakat untuk terus bereaksi.

“Anda capek karena setiap hari disodorkan isu tentang korupsi, makan bergizi gratis, dan berbagai persoalan politik. Tapi Anda sendiri tidak punya pengetahuan tentang persoalan itu sehingga akhirnya lelah sendiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, generasi muda saat ini hidup dalam kondisi burn out society, yakni kehilangan harapan tetapi juga tidak melakukan pembatalan terhadap keadaan yang membuat mereka lelah. Kondisi tersebut diperparah oleh budaya scrolling di media sosial yang membuat seseorang terus berbunyi tanpa pernah memiliki waktu untuk merenung.

Rocky kemudian memperkenalkan konsep otium, sebuah gagasan dari filsafat Yunani yang berarti menghentikan sejenak percakapan dan kembali kepada perenungan. Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang untuk membaca dan berpikir agar tidak terjebak menjadi konsumen informasi semata.

“Kebiasaan kita adalah melihat, bukan membaca. Kita melihat YouTube, melihat perdebatan, tetapi tidak membaca isi perdebatan. Itu yang menyebabkan frustrasi,” katanya.

Ia juga mengkritik kecenderungan mahasiswa yang menggantungkan perubahan kepada figur publik atau menunggu orang lain bersikap kritis. Menurutnya, perubahan hanya dapat dilakukan apabila seseorang memiliki fondasi berpikir dan keberanian menyusun argumentasinya sendiri.

“Kalau Anda ingin perubahan, Anda jadi tokoh sendiri. Jangan mengandalkan orang lain. Kalau mengandalkan orang lain artinya Anda pengikut,” tegasnya.

Rocky menambahkan, membaca merupakan cara paling sederhana untuk menghentikan kelelahan epistemik yang dialami generasi muda. Buku tidak dimaksudkan untuk menciptakan pengikut pemikiran tertentu, tetapi untuk membangun masyarakat yang argumentatif dan mampu memproduksi gagasannya sendiri.

Ia menutup paparannya dengan ajakan agar generasi muda tidak sekadar meluapkan kemarahan di media sosial, melainkan mengubahnya menjadi kemarahan yang produktif dan memiliki arah perjuangan yang jelas.

“Marahlah dengan arah. Arah itu dibangun melalui membaca dan memahami persoalan secara utuh,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *