google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bantengan Mojokerto, Warisan Mistis yang Terancam Punah

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Mojokerto, iKoneksi.com – Di tengah geliat modernisasi dan arus hiburan digital, sebuah pertunjukan kuno nan mistis masih bertahan di Desa Made, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Di desa yang berada di lereng Gunung Welirang ini, suara terompet dan gemuruh gamelan menandai dimulainya salah satu kesenian rakyat paling unik di Jawa Timur: Bantengan.

Seorang lelaki muda, usianya sekitar 26 tahun, tampak menggenggam kepala banteng replika di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya erat memegang sehelai kain hitam yang berfungsi sebagai badan dan penutup pertunjukan. Beberapa saat kemudian, lelaki lain datang menghampiri. Mereka berdua masuk ke dalam kain, membentuk sosok banteng utuh—lengkap dengan kepala dan ekor.

Banteng hidup itu pun mulai menari, mengikuti irama musik khas yang dimainkan para pengiring. Di atas panggung sederhana atau tanah lapang, dua ekor banteng, jantan dan betina, bergerak lincah. Gerakannya seakan memiliki nyawa sendiri, seperti kerasukan roh gaib yang mendiami simbol kepala banteng itu.

Tak Sekadar Hiburan, Ada Silat, Tari, dan Ritual

Pertunjukan Bantengan bukan hanya menampilkan dua penari utama. Di sekelilingnya, perempuan muda turut menari anggun, sementara para lelaki memperagakan jurus-jurus pencak silat atau kanuragan. Tak jarang, terdengar mantra mistis dilantunkan oleh pawang sebelum salah satu peserta “kesurupan” atau mengalami trans spiritual yang membuat penampilan semakin magis.

Suara gamelan, gong, dan terompet bersahut-sahutan, membangun suasana yang menghipnotis. Beberapa penonton tertawa dan tersenyum, tapi ada juga yang memilih menjauh ketika bantengan mendekat. Perasaan antara takut dan terpesona menyatu, menjadikan Bantengan bukan sekadar tontonan, tapi pengalaman budaya yang menggugah indera.

Warisan Leluhur yang Kian Tergerus Zaman

Sayangnya, kesenian rakyat yang sarat nilai spiritual dan budaya ini kini berada di ujung tanduk. Arus zaman yang bergerak cepat membuat generasi muda kian asing dengan tradisi semacam ini. Bantengan mulai jarang dipentaskan. Kelompok-kelompok keseniannya pun mulai kesulitan bertahan karena minimnya dukungan, baik dari segi dana, tempat, maupun regenerasi pelaku seni.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebenarnya telah menetapkan Bantengan sebagai warisan budaya rakyat asal Desa Made. Namun pengakuan formal saja tidak cukup untuk menyelamatkan tradisi ini dari kepunahan.

Seruan Wakil Rakyat: Bantengan Harus Diselamatkan

Dalam diskusi kebudayaan yang berlangsung di Balai Diklat Claket, Kecamatan Pacet, Rabu (11/6/2025), Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Mojokerto, Elia Joko Sambodo, menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi kesenian Bantengan.

Ia menyebut kesenian ini sebagai percikan dari surga warisan budaya spiritual yang tak boleh hilang begitu saja.

“Bantengan bukan hanya hiburan, tapi cermin nilai-nilai spiritual, solidaritas, dan kekuatan masyarakat lokal. Kita harus perjuangkan kelestariannya,” tegas Joko di hadapan warga dan seniman lokal.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu hadir secara konkret: dengan memberikan bantuan, menyelenggarakan pementasan berkala, dan membangun sistem regenerasi pelaku seni.

“Subsidi untuk kelompok seni, pelatihan bagi generasi muda, serta kampanye budaya di sekolah-sekolah dinilai sebagai langkah strategis yang harus segera diambil,” tutur Joko.

Bantengan dan Masa Depan Budaya Lokal

Bantengan ditekankan Joko bukan hanya tradisi tua, tetapi jendela yang memperlihatkan bagaimana leluhur memadukan keindahan seni, kekuatan batin, dan hubungan dengan alam dalam satu pertunjukan. Ini bukan sekadar kesenian, tetapi identitas.

“Jika tidak segera dilestarikan, Bantengan hanya akan tinggal cerita dalam buku sejarah, kehilangan nyawanya di tengah gempuran budaya populer yang serba instan. Padahal di setiap gerakan, hentakan musik, dan teriakan pawang, tersimpan nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi kebanggaan generasi muda,” jelas Joko.

“Kini, semua mata tertuju pada kebijakan dan niat baik dari para pemangku kepentingan. Apakah Bantengan akan terus hidup dan berkembang, atau terkubur diam-diam oleh modernitas? Jawabannya tergantung dari seberapa besar kita menghargai warisan leluhur. Sebab budaya yang tidak dijaga, adalah jati diri yang dilupakan,” tutup Joko. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *