google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Biaya Kuliah Meningkat, Penghasilan Terbatas, Emak-emak Medan Kelimpungan Atur Keuangan

  • Bagikan
banner 468x60

Medan, iKoneksi.com – Kenaikan biaya kebutuhan rumah tangga dan tingginya biaya pendidikan di tengah pemasukan yang terbatas membuat sejumlah ibu rumah tangga di Kota Medan mengaku semakin kewalahan mengatur keuangan keluarga. Kondisi tersebut memaksa mereka menghemat pengeluaran hingga mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi sebagian ibu rumah tangga, persoalan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dapur. Biaya sekolah dan kuliah anak, cicilan, kebutuhan kesehatan hingga kebutuhan tak terduga juga harus dipenuhi dengan pendapatan yang dinilai semakin tidak sebanding dengan pengeluaran.

Suci, salah seorang ibu rumah tangga di Marindal, mengaku harus memutar otak untuk mengatur penghasilan suaminya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online. Menurutnya, pendapatan tersebut harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak dan cicilan.

“Sebagai istri dari suami yang hanya bekerja sebagai ojek online, saya benar-benar pusing mengatur pengeluaran. Harus cukup untuk kebutuhan dapur, kebutuhan sekolah anak dan cicilan kami. Sempat mencoba usaha jualan kecil-kecilan di depan rumah, tapi tidak lama karena modalnya banyak, pembeli kurang, akhirnya saya putuskan untuk bekerja sebagai karyawan di salah satu toko grosir pakaian di pusat pasar,” ungkap Suci.

Menurut Suci, persoalan semakin berat ketika ada anggota keluarga yang sakit dan membutuhkan perawatan. Meski telah memiliki BPJS, ia mengatakan masih terdapat kebutuhan obat tertentu yang harus dibeli sendiri.

“Belum lagi kalau tiba-tiba ada yang sakit dan harus dirawat inap, makin bingung saya. Meski dapat BPJS gratis, tapi ada obat-obat tertentu yang tetap harus dibeli sendiri dan sangat mahal,” katanya.

Ia juga menyebut suaminya yang merupakan lulusan sarjana ekonomi kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidang pendidikan. Kondisi itu membuat keluarga tersebut harus bertahan dengan penghasilan yang ada.

Keluhan serupa disampaikan Irma, warga Sunggal yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Meski memiliki penghasilan bulanan, ia mengaku tetap kewalahan memenuhi kebutuhan pendidikan kedua anaknya yang sedang kuliah.

Bahkan, anak sulungnya yang telah menyelesaikan pendidikan selama dua tahun hingga kini belum mendapatkan pekerjaan. Kondisi tersebut menambah beban ekonomi keluarga.

Irma mengaku pernah menggadaikan hingga menjual perhiasan peninggalan ibunya untuk memenuhi kebutuhan biaya kuliah anak.

“Biaya kuliah sekarang sangat tinggi. Meski salah satu anak saya mendapat program beasiswa, kebutuhan perlengkapan kuliahnya tetap membuat kering dompet setiap bulannya. Makin ke sini tekanan ekonomi semakin terasa. Gaji tak seberapa, sementara pengeluaran tidak terkira dan makin hari semuanya terasa makin sulit,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai program pemerintah yang ditujukan untuk membantu masyarakat memang patut diapresiasi. Namun, ia berharap kebijakan tersebut dibarengi dengan kemudahan masyarakat mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang lebih layak.

Keluhan mengenai kondisi ekonomi juga disampaikan Tika, ibu rumah tangga yang memilih berjualan pakaian untuk membantu perekonomian keluarganya. Ia menilai pembukaan lapangan pekerjaan menjadi salah satu hal yang lebih dibutuhkan masyarakat agar dapat memiliki sumber penghasilan yang stabil.

Tika juga menyoroti program bantuan pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, anggaran program tersebut sebaiknya turut dipertimbangkan untuk memperkuat sektor pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik.

“Bagusnya dana MBG itu dialihkan saja untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan tenaga pendidiknya, karena tanpa MBG pun anak-anak tetap diberi makan oleh orangtuanya. Sementara itu ada banyak fasilitas sekolah dan guru yang terabaikan nasibnya,” harap Tika.

Meski demikian, masyarakat mengakui sejumlah program bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) memberikan manfaat bagi sebagian penerima. Namun, mereka berharap program bantuan tersebut semakin tepat sasaran dan diikuti kebijakan yang mampu menciptakan sumber pendapatan jangka panjang.

Di tengah kenaikan kebutuhan hidup, masyarakat berpenghasilan rendah dinilai menghadapi tekanan karena pertumbuhan pengeluaran yang dirasakan lebih cepat dibandingkan peningkatan pemasukan. Kondisi tersebut membuat ibu rumah tangga harus mencari berbagai cara agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Sejumlah ibu rumah tangga berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang mampu menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok, memperluas lapangan pekerjaan serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan dan penghasilan yang layak.

Mereka berharap persoalan ekonomi keluarga tidak terus berlarut karena tekanan biaya hidup yang berkepanjangan dapat memengaruhi kondisi keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *