google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Rektor UM: Pancasila Bukan Sekadar Toleransi, Generasi Muda Harus Kuasai Teknologi

  • Bagikan
Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menekankan pentingnya generasi muda menjadikan Pancasila sebagai nilai kebajikan yang diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi masa depan Indonesia. Pesan tersebut disampaikan dalam Kuliah Kebangsaan bertema “Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Kota Malang” yang digelar di Universitas Negeri Malang, Sabtu (8/8/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/iKoneksi.com)
banner 468x60
Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menekankan pentingnya generasi muda menjadikan Pancasila sebagai nilai kebajikan yang diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi masa depan Indonesia. Pesan tersebut disampaikan dalam Kuliah Kebangsaan bertema “Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Kota Malang” yang digelar di Universitas Negeri Malang, Sabtu (8/8/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/iKoneksi.com)

Kota Malang, iKoneksi.com – Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menekankan pentingnya generasi muda menjadikan Pancasila sebagai nilai kebajikan yang diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi masa depan Indonesia. Pesan tersebut disampaikan dalam Kuliah Kebangsaan bertema “Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Kota Malang” yang digelar di Universitas Negeri Malang, Sabtu (8/8/2026), sebagai ruang diskusi untuk memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan masyarakat.

Dalam sambutannya, Hariyono mengatakan Pancasila tidak semestinya berhenti pada pemahaman mengenai toleransi dan persatuan. Menurutnya, Pancasila juga harus mendorong bangsa Indonesia membangun kesejahteraan, keadilan, kemandirian, serta kemampuan menguasai teknologi.

“Pancasila tolong tidak berhenti pada aspek toleransi. Itu betul. Bahwa kita sebagai sebuah bangsa harus bersatu, ada toleransi. Tapi tidak mungkin kita bisa menjadi negara yang berdaulat, negara yang makmur kalau tidak menguasai teknologi,” ujar Hariyono.

Ia menilai penguasaan teknologi merupakan bagian dari pengamalan nilai kebajikan Pancasila. Karena itu, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu memiliki peran dalam menerjemahkan Pancasila ke dalam bidang masing-masing.

Hariyono secara khusus menyinggung mahasiswa yang mempelajari bidang STEM, seperti teknik dan matematika serta ilmu pengetahuan alam. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga merupakan bentuk pengamalan kebajikan karena Pancasila tidak hanya menjadi ruang kajian bagi mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

“Pancasila bukan monopolinya program studi PPKN saja,” katanya.

Menurut Hariyono, Pancasila memiliki nilai yang tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga bersifat universal. Ia mencontohkan pemikiran Soekarno mengenai berbagai ideologi dunia yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Marxisme, misalnya, memiliki perhatian terhadap persoalan keadilan, tetapi dinilai memiliki keterbatasan dalam aspek kebebasan. Sementara kapitalisme memiliki kekuatan dalam mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan, tetapi dinilai memiliki persoalan dalam aspek keadilan.

Dalam konteks tersebut, Hariyono menilai Pancasila menawarkan keseimbangan antara kesejahteraan, keadilan, dan nilai ketuhanan.

Ia juga mengingatkan mahasiswa bahwa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat dunia. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat internasional menjadi salah satu kebutuhan generasi muda.

Hariyono menyampaikan bahwa UM saat ini mendorong mahasiswa untuk menguasai bahasa internasional. Langkah tersebut, menurutnya, diperlukan karena UM tidak akan dapat menjadi world class university apabila dosen dan alumninya tidak mampu bekerja atau melanjutkan studi di berbagai belahan dunia.

Lebih jauh, Hariyono mengajak mahasiswa memandang Indonesia sebagai sebuah perjuangan yang berorientasi pada masa depan. Ia mengutip pemikiran Bung Hatta bahwa Indonesia bukan sekadar impian, melainkan sebuah perjuangan.

Karena itu, menurut dia, bangsa Indonesia membutuhkan visi kolektif yang dapat menjaga kesinambungan pembangunan meskipun terjadi pergantian pemimpin. Ia mencontohkan gagasan Rencana Pembangunan Nasional Semesta yang pernah dirancang pada masa sebelumnya sebagai bentuk upaya membangun kesinambungan arah pembangunan nasional.

Hariyono kemudian mengaitkan keberlanjutan Indonesia dengan peran generasi muda. Menurutnya, sebuah nilai tidak akan berjalan tanpa adanya orang-orang yang menjadi agennya. Mahasiswa dan anak muda, kata dia, menjadi salah satu kelompok yang dapat membawa nilai kebajikan tersebut ke tengah masyarakat.

“Indonesia adalah masa depan. Untuk itulah Indonesia perlu berjuang. Di dalam perjuangan itulah dibutuhkan sebuah value, tapi value tidak akan mungkin terjadi kalau tidak ada agensi. Dan salah satu agensinya adalah anak-anak muda yang punya cita-cita,” tuturnya.

Ia juga mengajak mahasiswa membangun pengendalian dan pengelolaan diri sebagai bagian dari kebajikan. Menurutnya, generasi muda harus mampu menjaga pikiran tetap positif dan melihat realitas secara lebih luas agar dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Hariyono juga mendorong mahasiswa untuk aktif bertanya dan menyampaikan gagasan. Ia menegaskan bahwa kampus tidak seharusnya menjadi ruang yang membatasi pertanyaan mahasiswa karena pertanyaan merupakan bagian penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

“Kita sebagai sebuah kampus tidak melarang orang untuk bertanya karena pertanyaan adalah mesin ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami Pancasila sebagai materi akademik, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi tindakan nyata sebagai relawan kebajikan Pancasila di masyarakat.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *