google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bobibos Jerami, Harapan Baru Energi Murah dari Jonggol

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Peluncuran Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos! atau Bobibos kembali menyedot perhatian publik setelah resmi diperkenalkan di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor, pada Ahad (2/11/2025). Di balik antusiasme yang menguat, publik dikejutkan oleh fakta bahwa bahan bakar alternatif tersebut dibuat dari jerami limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai strategis. Klaim inovasi ini langsung memantik rasa ingin tahu, perdebatan, hingga dorongan agar Bobibos menjalani uji resmi sesuai standar pemerintah.

Pendiri Bobibos, M Iklas Thamrin, menjelaskan pemilihan jerami bukan keputusan instan. Riset panjang dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan massal, kemudahan akses, serta kemampuan bahan baku menekan harga pokok produksi (HPP). Ia menegaskan, penggunaan jerami membuat biaya produksi lebih kompetitif dibandingkan bila memakai tanaman lainnya seperti mikroalga yang pernah diuji sebelumnya.

“Poinnya kenapa jerami? Dari riset kami, jerami yang membuat HPP bisa bersaing,” kata Iklas dalam kegiatan peluncuran tersebut.

Jerami yang diperoleh dari petani diproses melalui lima tahap ekstraksi, memanfaatkan mesin yang dirancang sendiri oleh tim Bobibos. Prosesnya melibatkan penyuntikan serum khusus yang membuat jerami dapat dikonversi menjadi bahan bakar nabati dengan performa tinggi. Meski begitu, Iklas enggan membuka seluruh formula dan detail mekanisme karena dianggap sebagai resep teknologi yang bersifat rahasia perusahaan.

“Gunakan bio chemistry dengan tahapan yang memang kami bangun dari nol. Hasilnya bahan bakar nabati berkinerja tinggi,” ucapnya.

Temuan ini sempat membuat masyarakat berbondong-bondong ingin mencoba produk tersebut. Mulyadi, anggota DPR RI sekaligus pembina Bobibos, mengaku kewalahan menerima permintaan masyarakat setelah peluncuran. Namun ia menegaskan bahwa Bobibos masih berada di tahap uji coba dan belum bisa diperjualbelikan.

“Setelah launching kami kewalahan. Padahal ini baru uji coba. Belum ada izin edar dan izin produksi,” sebut Mulyadi.

Menurutnya, Bobibos sama sekali tidak ingin menjadi pesaing produsen bahan bakar lain, termasuk Pertamina. Bobibos justru hadir sebagai opsi energi yang dapat dipilih masyarakat, sama seperti pilihan antara kendaraan berbahan bakar fosil dan kendaraan listrik.

“Kami tidak dalam kapasitas bersaing dengan siapapun. Kami hanya alternatif,” tutur Mulyadi.

Ia mengaku juga telah berdiskusi dengan Pertamina dan mendapat dukungan agar inovasi tersebut melalui proses perizinan yang benar.

Mulyadi bahkan mengungkapkan para pengembang Bobibos sempat ditawari pindah kewarganegaraan oleh negara lain, sebuah indikator bahwa inovasi mereka diapresiasi di luar negeri. Ia menegaskan bahwa Bobibos muncul untuk memberi ruang bagi anak bangsa berkreasi.

“Intinya saya ingin menghormati anak bangsa. Semoga ini jadi solusi bagi tata kelola energi Indonesia,” ujarnya.

“Meski memiliki potensi besar, Bobibos tetap harus tunduk pada regulasi energi nasional,” sambungnya.

Praktisi migas, Hadi Ismoyo, mengingatkan bahwa setiap bahan bakar baru wajib melalui tiga tahap utama pengujian mutu, perizinan usaha, dan pengawasan distribusi. Pengujian mutu bahkan menjadi tahap paling berat karena mencakup uji laboratorium meliputi penilaian oktan, sulfur, stabilitas oksidasi hingga uji lapangan yang menguji performa bahan bakar pada berbagai jenis mesin dan suhu.

“Semua BBM yang beredar harus memenuhi standar mutu pemerintah,” ujar Hadi.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, sebelumnya menegaskan bahwa inovasi bahan bakar baru memerlukan sedikitnya delapan bulan proses evaluasi teknis sebelum dinyatakan layak edar. Pengujian yang dilakukan di Lemigas juga masih menjadi dokumen tertutup dan belum dapat dipublikasikan. Laode menegaskan, pemerintah sangat terbuka terhadap inovasi energi dalam negeri, namun setiap produk wajib melalui jalur legal yang sama.

Meski demikian, harapan Bobibos dapat menjadi solusi energi yang lebih murah tetap menguat. Apalagi Indonesia masih menanggung beban subsidi BBM yang mencapai ratusan triliun setiap tahunnya. Mulyadi berharap bila Bobibos terbukti layak dan efisien, produk ini dapat menekan beban subsidi dan mengalihkan anggaran ke sektor pendidikan maupun kesehatan.

“Kami ingin membantu negara agar anggaran tidak habis untuk subsidi,” lugas Mulyadi.

Untuk saat ini, kapasitas produksi Bobibos masih di angka 300 liter per hari, menyesuaikan ketersediaan jerami. Bobibos ditargetkan mulai diuji coba terbatas kepada warga Jonggol dan sekitarnya pada awal 2026.

“Setelah Februari, kami mulai produksi untuk uji coba. Masyarakat bisa mencoba di Bumi Sultan,” terang Mulyadi.

“Dengan potensi bahan baku melimpah, komitmen tim pengembang, serta dorongan untuk menghadirkan energi terjangkau, Bobibos kini berada di garis awal menuju jalur resmi nasional,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *