google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kisah I Made Riandiana Kartika, Minoritas yang Dipercaya Jadi Ketua RW hingga Ketua DPRD di Kota Malang

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Anggota DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, mengungkap kisah personal yang mencerminkan kuatnya nilai toleransi di Kota Malang. Pria asal Jembrana, Bali, ini mengaku langsung jatuh hati pada kota tersebut sejak pertama kali datang untuk menempuh pendidikan di usia 18 tahun.

Bukan hanya soal pendidikan, pengalaman hidup di tengah masyarakat yang beragam menjadi alasan utama ia memilih menetap dan mengabdikan diri di Kota Malang.

Awal Perjalanan: Datang sebagai Mahasiswa

Made pertama kali menginjakkan kaki di Malang sebagai mahasiswa. Sejak awal, ia tidak hanya fokus pada aktivitas akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Minat tersebut sudah terbentuk sejak masa sekolah. Ia dikenal aktif dalam kegiatan pramuka dan pencinta alam saat duduk di bangku SMP, yang kemudian membentuk kepekaan sosialnya.

Aktivitas tersebut membawanya berinteraksi dengan berbagai kalangan, sekaligus memperkaya pengalamannya dalam memahami kehidupan sosial masyarakat.

Menemukan Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari

Selama tinggal di Kota Malang, Made mengaku tidak pernah merasakan diskriminasi, meski berasal dari latar belakang agama dan daerah yang berbeda. Sebagai seorang Hindu Bali yang hidup di lingkungan mayoritas Muslim, ia justru merasakan penerimaan yang kuat dari masyarakat sekitar.

“Tidak pernah ada yang mempertanyakan latar belakang saya. Itu yang membuat saya merasa diterima,” sebutnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Malang telah melampaui sekat-sekat identitas, dan lebih mengedepankan nilai kebersamaan.

Dipercaya Pimpin Lingkungan Mayoritas

Pengalaman paling berkesan bagi Made adalah ketika ia dipercaya memimpin lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Tlogomas. Di wilayah yang didominasi warga Muslim, ia justru diberi kepercayaan menjadi Ketua RT, bahkan kemudian Ketua RW.

Padahal, sebagai penganut Hindu, ia merupakan satu-satunya warga dengan latar belakang tersebut di lingkungan itu.

“Di lingkungan saya, hampir semua warga Muslim. Tapi saya tetap dipercaya memimpin,” lugasnya.

Kepercayaan tersebut, menurut Made, menjadi bukti nyata bahwa masyarakat tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang dalam kehidupan sosial.

Toleransi Jadi Alasan Bertahan di Malang

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat Made semakin yakin untuk menetap di Kota Malang. Ia menilai, kota ini tidak hanya memberikan ruang hidup, tetapi juga rasa aman dan penerimaan. Nilai toleransi yang tinggi menjadi faktor utama yang membuatnya merasa memiliki ikatan kuat dengan kota ini.

Bagi Made, Kota Malang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang tumbuh yang membentuk perjalanan hidupnya.

Dari Pengalaman ke Pengabdian Politik

Kesadaran akan pentingnya menjaga harmoni sosial mendorong Made untuk terjun ke dunia politik. Ia melihat politik sebagai sarana untuk memperluas kontribusi bagi masyarakat. Kini, sebagai anggota DPRD Kota Malang, ia berupaya membawa nilai-nilai toleransi tersebut ke dalam kebijakan dan pelayanan publik.

Selain menjalankan tugas sebagai legislator, Made tetap aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.

Aktif di Kegiatan Keagamaan dan Sosial

Made juga terlibat dalam organisasi umat Hindu di Kota Malang. Ia turut berperan dalam panitia perayaan Hari Raya Nyepi tingkat kota. Keterlibatan ini bertujuan memastikan bahwa kebutuhan keagamaan umat Hindu dapat terakomodasi dengan baik.

Ia menilai, keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan lintas komunitas menjadi salah satu cara menjaga keharmonisan sosial.

Keberagaman sebagai Kekuatan Kota

Menurut Made, keberagaman yang hidup berdampingan dengan saling menghormati merupakan kekuatan utama Kota Malang.

Ia menegaskan, tingginya nilai toleransi di masyarakat menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah hambatan, melainkan potensi untuk membangun kebersamaan.

“Perbedaan itu tidak menghalangi kita untuk hidup bersama,” terangnya.

Menjaga Nilai Toleransi ke Depan

Made berharap nilai toleransi yang telah terbangun di Kota Malang dapat terus dijaga dan diperkuat. Ia menekankan pentingnya peran semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dalam mempertahankan harmoni sosial.

“Dengan pengalaman yang dimilikinya, saya optimis Kota Malang dapat terus menjadi contoh kehidupan masyarakat yang inklusif dan harmonis,” tandasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *