google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Megawati dan Hasto Hadiri Bela Sungkawa di Denpasar, Momen Penuh Simbol Politik

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Denpasar, iKoneksi.com — Suasana haru menyelimuti Banjar Saba, Penatih, Denpasar, pada Senin siang. Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri hadir melayat ke rumah duka Ni Jero Samiarsa, ibunda Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara. Kehadiran Megawati bukan hanya membawa ucapan duka, tetapi juga menjadi momen yang sarat makna politik.

Tiba sekitar pukul 11.00 Wita, Megawati mengenakan pakaian serba putih, warna yang kerap melambangkan kesucian dan penghormatan terakhir. Ia tidak datang sendiri. Putranya, Prananda Prabowo, turut mendampingi, bersama mantan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto — sosok yang baru saja menghirup udara bebas setelah mendapat amnesti dari Presiden Prabowo Subianto.

Pertemuan yang Disorot Publik

Kedatangan rombongan Megawati langsung disambut hangat oleh Jaya Negara dan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati alias Bintang Puspayoga. Di tengah suasana duka, interaksi hangat di antara mereka menjadi sorotan, mengingat tokoh-tokoh yang hadir adalah figur penting dalam lingkaran politik Bali dan nasional.

Deretan karangan bunga ucapan belasungkawa terlihat memenuhi halaman rumah duka. Bunga-bunga itu datang dari berbagai pihak, mulai dari Megawati sendiri, jajaran DPP dan DPD PDIP, hingga tokoh-tokoh politik nasional. Jalan Padma yang menuju lokasi telah ditutup oleh Dinas Perhubungan Denpasar sejak pagi, sebagai persiapan prosesi palebon atau pembakaran jenazah yang dijadwalkan berlangsung siang ini.

Kepergian Sosok Ibu yang Dihormati

Ni Jero Samiarsa, ibunda Wali Kota Denpasar, berpulang pada Kamis, 17 Juli 2025, di usia 90 tahun. Beliau dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat setempat dan dihormati karena kebijaksanaannya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga Denpasar yang mengenal beliau.

Prosesi palebon yang digelar siang ini bukan sekadar ritual adat, melainkan juga bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan peran beliau dalam membesarkan keluarga yang kini berada di garis depan pemerintahan kota.

Hasto Kembali Muncul di Panggung Publik

Kehadiran Hasto Kristiyanto dalam rombongan Megawati menjadi bagian menarik dari peristiwa ini. Setelah bebas dari tahanan KPK pada 1 Agustus 2025, usai menerima amnesti dari Presiden Prabowo Subianto dalam kasus Harun Masiku, Hasto langsung kembali aktif di arena politik.

Hanya sehari setelah kebebasannya, ia terlihat menghadiri penutupan Kongres ke-6 PDIP di Bali pada 2 Agustus. Kini, dua hari kemudian, ia tampil mendampingi Megawati dalam momen duka ini. Bagi sebagian pengamat, langkah Hasto ini menunjukkan sinyal bahwa ia tetap menjadi bagian dari lingkaran politik PDIP, meski posisinya tidak lagi berada di struktur kepengurusan.

Simbol Kehadiran yang Mengundang Tafsir

Bagi publik, kehadiran Megawati dan Hasto di Denpasar bukan hanya bentuk belasungkawa, tetapi juga simbol persatuan di tengah dinamika politik yang tengah memanas. Dalam politik, setiap momen publikasi sering kali mengandung pesan tersirat.

Di satu sisi, Megawati menunjukkan bahwa hubungan personal dan solidaritas keluarga besar PDIP tetap terjaga. Di sisi lain, kemunculan Hasto di samping Megawati pasca-kebebasannya bisa dibaca sebagai sinyal bahwa ia masih memiliki tempat di hati sang Ketua Umum, sekalipun badai politik dan hukum sempat mengguncang namanya.

Bali Jadi Panggung Emosional dan Politik

Bali, yang kerap menjadi basis dukungan kuat PDIP, kini kembali menjadi latar peristiwa penting yang memadukan rasa duka dan dinamika politik. Prosesi adat, penghormatan kepada tokoh yang berpulang, dan kemunculan figur-figur nasional di satu tempat, menghadirkan suasana yang emosional sekaligus penuh tafsir.

Meski hari ini adalah tentang penghormatan terakhir bagi Ni Jero Samiarsa, kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Megawati dan Hasto membuat publik sulit memisahkan antara duka pribadi dan panggung politik. Momen ini mengingatkan bahwa di Indonesia, bahkan di tengah kesedihan, politik tetap berjalan, menyusup halus ke setiap pertemuan, tatapan, dan gestur yang terekam kamera. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *