google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Polemik Tugu Soekarno Mojokerto, Dikbud Siapkan Forum Sejarah

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Mojokerto, iKoneksi.com — Narasi sejarah Bung Karno yang tertulis pada tugu di kompleks SDN Purwotengah Kota Mojokerto memicu kontroversi yang terus meluas di tengah masyarakat. Munculnya keraguan terhadap keakuratan data yang tercantum dalam tugu tersebut membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Mojokerto mengambil langkah tegas. Kepala Dikbud, Ruby Hartoyo, menyatakan bahwa pihaknya tengah merancang forum musyawarah lintas elemen untuk membahas persoalan tersebut secara terbuka dan mendalam.

“Kami siap menampung saran dan kritik dari masyarakat. Dalam waktu dekat ini, kami akan duduk bersama dengan para pihak yang berkompeten di bidang sejarah,” kata Ruby kepada iKoneksi.com saat ditemui di kantornya, Jumat (14/6/2025).

Rencana pembahasan ini, lanjut Ruby, akan melibatkan berbagai kalangan, termasuk Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto, akademisi, sejarawan lokal, hingga para pegiat sejarah yang secara aktif menelusuri jejak Bung Karno di masa kecilnya. Tujuannya adalah untuk mengkaji ulang dan memperkuat narasi sejarah dengan merujuk pada data serta dokumen valid, termasuk literatur dan arsip resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami ingin memastikan bahwa narasi sejarah yang ada di tugu tersebut benar-benar sahih. Ini bukan sekadar soal bangunan, tetapi soal warisan sejarah nasional yang menyangkut sosok proklamator bangsa,” tegasnya.

Polemik ini mencuat lantaran narasi yang terukir pada tugu penanda menyebut bahwa Soekarno menempuh pendidikan di Kota Mojokerto sejak tahun 1907, tepatnya di Sekolah Ongko Loro atau Tweede Klassen Inlandsche School. Namun, sejumlah pemerhati sejarah mempertanyakan validitas informasi tersebut. Mereka menilai berdasarkan surat keputusan (besluit) mutasi ayah Bung Karno, Raden Soekeni, keluarga kecil Soekarno baru pindah ke Mojokerto pada tahun 1909. Dari sana, Bung Karno diyakini bersekolah di Eerste Klasse Inlandsche School atau Sekolah Ongko Siji, bukan Ongko Loro.

Minimnya referensi pustaka yang menyertai penulisan narasi di tugu itu memperkuat anggapan penyajian data dilakukan tanpa verifikasi historis yang matang. Hal ini menjadi sorotan tajam, terutama karena lokasi tugu berada di dalam kompleks Galeri Soekarno Kecil, yang selama ini menjadi bagian dari wisata edukatif sejarah di Mojokerto.

Dengan menggulirkan forum diskusi bersama, Ruby berharap polemik ini segera mendapatkan titik terang. Selain menjadi ajang klarifikasi, forum tersebut diharapkan mampu melahirkan narasi sejarah yang lebih utuh, akurat, dan berakar pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami tidak ingin sejarah yang diwariskan kepada generasi muda justru terdistorsi karena kekeliruan data. Maka dari itu, keterlibatan para ahli sangat penting untuk memastikan keakuratan informasi,” tutup Ruby.

Langkah ini diapresiasi sejumlah kalangan yang menilai bahwa penyelesaian masalah sejarah tak cukup hanya dengan retorika, tetapi harus dibangun di atas dasar akademis dan integritas keilmuan. Tugu Soekarno di SDN Purwotengah pun kini menjadi simbol penting perlunya kehati-hatian dalam menyusun narasi sejarah nasional. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *