google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

UB Luncurkan Brawijaya Corpora untuk Mendunia

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan kelasnya sebagai kampus riset yang progresif dengan meluncurkan Soft Launching Brawijaya Corpora Project (BCP) pada Rabu (19/11/2025). Inisiatif ambisius ini digagas oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) melalui Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, bekerja sama dengan Fakultat Ilmu Komputer (FILKOM) untuk membawa kekayaan budaya Jawa Timur ke panggung internasional melalui platform digital yang imersif, interaktif, dan inklusif.

BCP disebut sebagai salah satu terobosan terbesar UB dalam bidang digital humanities, sebuah pendekatan yang menggabungkan humaniora, teknologi informasi, serta dokumentasi budaya berbasis multimodal. Proyek ini lahir dari program Globalizing UB di bawah koordinasi Wakil Rektor 4, dengan target memperkenalkan subkultur Jawa Timur ke masyarakat global secara relevan dan modern.

Ketua Proyek BCP, Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah membangun korpus digital yang berisi kosa kata budaya, narasi, artefak, serta ekspresi verbal masyarakat Jawa Timur dalam format yang mudah dipahami oleh publik internasional. Prosesnya melibatkan transliterasi, penginggrisan makna, hingga pengecekan langsung oleh penutur asli untuk memastikan akurasi dan keterbacaan.

“Kami mencoba mencari makna yang otoritatif dari berbagai sumber, lalu ditransliterasikan dan di-Inggriskan. Setelah itu dicek oleh native speaker agar tetap mudah dipahami,” kata Wahyu.

Lebih dari Sekadar Kumpulan Kata

Tidak berhenti di teks, tim BCP mengembangkan dokumentasi budaya dalam bentuk foto, video, hingga model 3D. Banyak ekspresi verbal khas Jawa Timur yang memang tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Karena itu, melalui pendekatan multimodal, BCP ingin memberikan pengalaman budaya yang lebih lengkap.

“Kami melibatkan tim media untuk melengkapi kata dan frasa ini dengan visual. Ada foto, video, hingga model 3D yang memberikan kesan mendalam bagi viewers. Mereka bisa melihat bukan hanya kata, tetapi juga artefak budaya yang menyertainya,” tutur Wahyu.

Wakil Ketua Proyek, Bayu Priyambadha, memastikan bahwa platform BCP dirancang agar ramah pengguna. Platform ini tidak hanya ditujukan untuk peneliti atau akademisi, tetapi juga generasi muda, wisatawan, hingga masyarakat umum yang ingin belajar budaya secara menyenangkan.

“Korpus ini bisa diakses siapa saja. Tidak hanya teks, tetapi nanti juga hasil pencarian bisa berupa gambar, video, musik, atau rekaman budaya lainnya,” jelas Bayu.

Teknologi Imersif untuk Jelajah Budaya

Konsep digital humanities menjadi fondasi utama proyek ini. Melalui teknologi seperti pemodelan 3D, pemetaan budaya, visualisasi multimodal, hingga simulasi ritual berbasis video, BCP menawarkan pengalaman imersif bagi pengunjung website nantinya. Mereka seolah diajak memasuki ruang budaya tanpa harus datang ke lokasi.

Pada tahun rintisan 2025, BCP fokus pada dua subkultur besar yang menjadi ikon Jawa Timur:

  • Komunitas Tengger di kawasan Gunung Bromo
  • Komunitas Panaraga di Ponorogo

“Tim peneliti melakukan kunjungan lapangan ke Tengger pada Agustus 2025 untuk berdiskusi dengan dukun pandita dan mendokumentasikan ritual budaya secara langsung,” beber Bayu.

Kontributor wilayah Tengger, Sony Sukmawan, menyebut bahwa Tengger memiliki potensi kultural yang sangat kuat.

“Tengger adalah bagian penting dari peradaban. Ikatan emosional masyarakatnya dengan alam itu sangat unik dan layak diberitakan ke dunia,” ujarnya optimis.

Mengangkat Reog Ponorogo ke Pentas Global

Wahyu menyebutkan untuk wilayah Ponorogo, proyek ini menjadi sangat strategis terutama setelah Reog mendapatkan pengakuan dari UNESCO (UCCN). BCP bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan komunitas pelaku seni untuk mendigitalisasi narasi Reog agar semakin mudah dikenal publik internasional.

Proyek ini juga menggandeng pakar dunia untuk memastikan kualitas risetnya. Di antaranya Miguel Escobar Varela dari National University of Singapore (NUS), serta Bernard Arps dan Gina van Ling dari Leiden University, Belanda.

“Kami juga mengajak Michael Finner dari program Maritime Asian Heritage. Ini bagian dari diplomasi budaya untuk menjadikan UB pusat rujukan global studi Jawa Timur,” kata Wahyu.

Roadmap 2026–2027: Menuju Unit Khusus yang Mandiri

Tahun 2026 menjadi fase perluasan konten dan persiapan peluncuran website resmi BCP. Sementara tahun 2027, proyek ini akan diresmikan sebagai unit kerja mandiri di bawah manajemen universitas. Langkah ini memastikan keberlanjutan proyek dan pembaruan data secara berkala.

“Harapannya, Brawijaya Corpora Project tidak sekadar proyek yang selesai lalu hilang. Tapi menjadi legacy yang menjaga warisan budaya lokal kita,” tutup Wahyu.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *