google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

UM Ubah Sampah Jadi Energi Hijau, HPSN 2026 Jadi Titik Balik

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Dalam momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, Universitas Negeri Malang (UM) mengambil langkah konkret dengan menggelar program bertajuk Green Education. Kegiatan ini dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) kampus sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem pendidikan berbasis lingkungan.

Program ini bukan sekadar seremoni tahunan. UM menegaskan posisinya sebagai kampus hijau yang aktif mengedukasi sekaligus mempraktikkan pengelolaan sampah berkelanjutan.

Melalui pendekatan edukatif, mahasiswa dan sivitas akademika diajak memahami bahwa sampah bukan akhir dari siklus, melainkan awal dari proses baru yang bernilai.

Langkah ini sekaligus menjadi respons atas meningkatnya tantangan pengelolaan limbah di perkotaan, yang membutuhkan solusi inovatif berbasis ilmu pengetahuan.

Dari Limbah Dapur Jadi Pupuk Bernilai Tinggi

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah praktik langsung pembuatan eco enzyme dan Biomol dari limbah organik seperti sisa sayuran, buah, dan gula merah. Inovasi ini memperlihatkan bagaimana limbah rumah tangga dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan. Biomol yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mempercepat proses fermentasi daun yang telah dicacah, menghasilkan kompos berkualitas tinggi.

Proses ini didukung teknologi mesin pencacah dan metode dekomposisi modern, sehingga pengolahan limbah menjadi lebih efisien dan terukur.

Hasil akhirnya tidak berhenti sebagai produk, tetapi langsung dimanfaatkan untuk pemeliharaan ruang terbuka hijau di lingkungan kampus, menciptakan siklus ekosistem tertutup yang mandiri.

Kampus Jadi Laboratorium Hidup Lingkungan

Ketua program Green Campus UM, Sumarmi, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai transformasi budaya, bukan sekadar kegiatan insidental. Menurutnya, kampus harus menjadi laboratorium hidup yang mampu memberi contoh nyata dalam pelestarian lingkungan.

“Selain pengolahan sampah, UM juga mengoptimalkan program Ecofarming dengan menanam berbagai tanaman pangan lokal seperti labu, singkong, ubi jalar, dan sayuran di sekitar TPST,” sebut Sumarmi.

Sumarmi menegaskan pendekatan ini tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga edukatif, karena mahasiswa dapat belajar langsung tentang keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pengelolaan sumber daya alam.

Dorong Kesadaran Lingkungan dan Target SDGs

Sumarmi menyenutkan program Green Education ini secara langsung mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 13 terkait penanganan perubahan iklim. Pengolahan limbah organik menjadi kompos dinilai mampu mengurangi emisi gas metana yang selama ini dihasilkan dari penumpukan sampah.

“Kami ingin memastikan lulusan UM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap krisis lingkungan,” ujar Sumarmi.

“Melalui langkah ini, UM berharap dapat membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab terhadap masa depan bumi,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *