google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

UMM Bangun Sistem Pengolahan Sampah Terpadu, Olah 1,2 Ton Limbah Harian

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Universitas Muhammadiyah Malang membangun sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus sebagai solusi atas produksi limbah harian yang mencapai sekitar 1,2 ton. Sistem yang dirancang dan diproduksi internal oleh dosen dan mahasiswa ini dihadirkan untuk menjawab persoalan lingkungan, mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), serta memperkuat indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings.

Berdasarkan laporan kegiatan, dari total 1,2 ton sampah per hari yang dihasilkan sekitar 35.000 warga akademik, komposisinya meliputi 45 persen plastik atau sekitar 540 kilogram, 30 persen limbah organik terkontaminasi plastik sebanyak 360 kilogram, dan 25 persen limbah ranting atau sekitar 300 kilogram. Sebelum sistem ini dibangun, TPS UMM hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sementara tanpa teknologi pengolahan, sehingga sebagian besar sampah masih diangkut keluar kampus.

Ketua pelaksana proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM., menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berawal dari kebutuhan kampus untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang terukur.

“Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” ujarnya kepada iKoneksi.com.

Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM, unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik yang biasa menangani proyek rekayasa industri dan sertifikasi internasional. Seluruh proses, mulai dari perancangan teknik, manufaktur, hingga instalasi, dilakukan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek.

“Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” kata Iis.

Sistem tersebut terdiri atas tiga mesin utama. Pertama, mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam yang menghasilkan serpihan berukuran 5–10 milimeter untuk meningkatkan nilai jual limbah botol plastik. Kedua, mesin pencacah ranting berkapasitas 300–500 kilogram per jam yang menghasilkan serbuk biomassa untuk media tanam atau kompos. Ketiga, alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen.

“Alur pengolahan dirancang terintegrasi. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dapat dimasukkan langsung bersama kantong plastik ke mesin pemilah. Plastik ringan akan terlempar ke bagian belakang mesin, sedangkan sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk diproses lebih lanjut,” bebernya.

Iis menambahkan, tim perancang telah menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Posisi TPS yang berada di area lereng dimanfaatkan untuk mengalirkan limbah organik cair secara gravitasi menuju toren fermentasi tanpa pompa tambahan.

“Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya.

Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas teknis, tetapi juga menjadi pusat edukasi lingkungan dan riset berkelanjutan.

“Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang ditargetkan mampu mendorong lahirnya inovasi teknologi tepat guna sekaligus memperkuat komitmen kampus terhadap pembangunan berkelanjutan,” tutupnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *