google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

UMM dan FKUB Magelang Satukan Langkah Perkuat Moderasi Beragama

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Magelang, iKoneksi.com – Upaya memperkuat moderasi beragama di Kota Magelang kini mendapat dukungan kuat dari kalangan akademisi. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Magelang berkolaborasi dengan Program Studi Magister Sosiologi, Departemen Pascasarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peran, Permasalahan, dan Tantangan FKUB dalam Memperkuat Kebijakan Moderasi Beragama.”

Kegiatan ini berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 2 Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Magelang, Senin (20/10/2025). Hadir dua birokrat dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta 13 pengurus dan anggota FKUB. Forum tersebut menjadi ruang dialog yang mempertemukan pengalaman praktis dan pendekatan akademis dalam memperkuat strategi kebijakan moderasi beragama di tingkat lokal.

Ketua Program Studi Magister Sosiologi UMM, Rachmad K. Dwi Susilo, Ph.D, yang menjadi pemantik diskusi, menjelaskan penguatan moderasi beragama tidak bisa dilepaskan dari upaya membangun tata kelola kolaboratif (collaborative governance) di tingkat daerah. Menurutnya, model ini memungkinkan berbagai pihak seperti pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat sipil bekerja bersama secara terukur.

“Dengan tata kelola kolaboratif, capaian pekerjaan pemerintah kota bisa lebih terukur, dan pemberdayaan sosial serta keagamaan dapat berjalan lebih efektif,” kata Rachmad.

Ia menilai, selama ini masih ada kesenjangan koordinasi antara aktor-aktor moderasi beragama di tingkat kota. Banyak lembaga, ormas, dan tokoh agama yang sudah bekerja keras dalam menjaga kerukunan, namun sering berjalan secara terpisah.

“Secara sosiologis, para aktor moderasi di banyak kota masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal, jika mereka berkolaborasi, beban kerja bisa lebih ringan dan hasilnya jauh lebih terasa. Pemerintah juga perlu mendorong agar relasi produktif antaraktor bisa meningkat,” sebut akademisi yang juga alumni Hosei University, Jepang, itu.

Magelang, Kota Toleran dengan Tantangan Baru

Kota Magelang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah paling toleran di Indonesia. Berdasarkan data Indeks Kota Toleran (IKT), Magelang menempati posisi keempat secara nasional. Namun, capaian itu justru menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat setempat untuk terus memperkuat nilai-nilai kebhinekaan dan harmoni sosial.

Ketua FKUB Kota Magelang, KH. Achmad Rifai, mengapresiasi kegiatan FGD yang diinisiasi bersama UMM. Ia menyebut forum ini penting untuk memperkuat sinergi antara lembaga keagamaan, akademisi, dan pemerintah daerah dalam menjaga keharmonisan antarumat beragama.

“Program dan capaian FKUB sejatinya bukan hanya prestasi lembaga, tapi tantangan bersama warga Kota Magelang. Kerja sama dengan perguruan tinggi seperti UMM adalah langkah strategis agar upaya moderasi ini punya fondasi ilmiah dan arah yang jelas,” ucap Rifai.

Ia menambahkan FKUB telah menjalin banyak kemitraan dengan lembaga pendidikan dan instansi pemerintah.

“Kami berharap tahun depan, Magelang bisa naik peringkat menjadi kota paling toleran di Indonesia. Minimal, bisa masuk dua besar,” tegasnya dengan optimisme.

Penguatan Kelembagaan dan Kolaborasi Sosial

Dalam kesempatan yang sama, Tohir Palisoa, Sekretaris FKUB Kota Magelang, menuturkan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga keberlanjutan toleransi di kota ini melalui berbagai program konkret. Salah satunya dengan mengintegrasikan kegiatan FKUB dengan program kampung religi, kampung moderasi, serta kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan.

“Integrasi ini penting agar semangat toleransi tidak berhenti di tingkat wacana, tetapi menjadi budaya masyarakat. Kami berharap ada penguatan kelembagaan dan kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki visi bersama,” jelas Tohir.

Menurutnya, tantangan terbesar FKUB ke depan adalah memastikan bahwa semangat moderasi beragama tidak hanya dipegang oleh para tokoh, melainkan juga dirasakan langsung oleh warga di akar rumput.

Dari Akademik Menuju Kebijakan Nyata

Rachmad menyebutkan FGD yang dikemas dalam suasana santai namun serius ini diharapkan menghasilkan dua capaian utama. Dari sisi akademis, forum ini akan melahirkan model tata kelola kolaboratif berbasis pemberdayaan yang dapat dijadikan acuan untuk memperkuat kebijakan kota dalam bidang moderasi beragama.

Sedangkan dari sisi kebijakan pemerintah, hasil FGD diharapkan dapat memantik lahirnya ide-ide baru untuk meningkatkan Indeks Kota Toleran (IKT) Magelang agar masuk dalam tiga besar nasional.

“Kegiatan ini juga menunjukkan bagaimana dunia kampus mampu mengambil peran aktif dalam memperkuat fondasi sosial di masyarakat. Kolaborasi antara FKUB dan UMM menjadi bukti bahwa kerja sama lintas sektor antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci menuju harmoni beragama yang berkelanjutan. FGD iyi menegaskan satu pesan penting yaitu moderasi beragama bukan sekadar jargon, tetapi sebuah proses panjang yang membutuhkan komitmen, kerja sama, dan inovasi dari semua pihak,” tutupnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *