google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

14 Mahasiswa Kehutanan UB Turun ke Pesisir Wonorejo, Tanam 10 Ribu Bibit Mangrove

  • Bagikan
banner 468x60

Surabaya, iKoneksi.com – Peringatan Hari Mangrove Sedunia tidak sekadar dirayakan dengan seremonial. Sebanyak 14 mahasiswa Program Studi Kehutanan Fakultas Bio-Industri, Pertanian, dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) turun langsung ke kawasan pesisir Wonorejo, Surabaya, untuk ikut menanam 10 ribu bibit mangrove, Minggu (26/7/2026).

Penanaman tersebut menjadi bagian dari aksi rehabilitasi ekosistem pesisir yang digagas Wahana Visi Indonesia bersama sejumlah pihak. Mulai dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi, Dinas Kelautan dan Perikanan, BPDAS Brantas Sampean, kelompok nelayan, hingga masyarakat setempat.

Bibit mangrove ditanam menggunakan metode rumpun berjarak atau cluster planting. Teknik tersebut mengatur pola dan jarak tanam agar lebih menyesuaikan kondisi lingkungan pesisir sehingga peluang bibit untuk tumbuh dapat ditingkatkan.

Bagi mahasiswa Kehutanan FBiPK UB, keterlibatan tersebut menjadi bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Sekaligus menjadi kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang selama ini diperoleh di bangku kuliah.

Mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir. Vegetasi tersebut dapat menjadi benteng alami untuk menekan abrasi dan intrusi air laut. Selain itu, ekosistem mangrove juga berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim karena mampu menyerap sekaligus menyimpan karbon atau blue carbon.

Cadangan karbon tidak hanya tersimpan pada biomassa mangrove. Serasah dan sedimen tanah di kawasan tersebut juga menjadi bagian dari penyimpanan karbon dalam jumlah besar.

Tak berhenti pada pemulihan lingkungan, program tersebut turut menyentuh sisi ekonomi masyarakat pesisir. Livelihood Coordinator Wahana Visi Indonesia Jumpa Sitopu, S.IP. mengatakan pihaknya menggandeng UMKM Semanggi untuk mengembangkan potensi buah mangrove jenis Sonneratia caseolaris atau yang dikenal masyarakat sebagai buah bogem.

Sekitar 10 anggota UMKM telah mendapatkan pendampingan untuk mengolah buah tersebut menjadi sejumlah produk. Di antaranya Sambal Mangrove, Mangrove Infuse Water, dan Nastar Mangrove.

Pendampingan juga dilakukan pada sisi pemasaran. Produk olahan tersebut diperkenalkan melalui kegiatan bazar untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya pesisir.

Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman langsung yang tidak sepenuhnya bisa diperoleh dari pembelajaran di ruang kelas. Salah seorang peserta, Arya Pratama, mengaku mendapat pengalaman baru mengenai kondisi ekosistem pesisir sekaligus bertemu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

“Seru sekali bisa mendapat pengalaman baru menanam mangrove, memahami lingkungan pesisir, dan berkenalan dengan teman-teman dari kampus lain. Semoga ke depannya program serupa dari Wahana Visi Indonesia terus berlanjut,” ujarnya.

Peserta lainnya, Najla Hannan Rizaldiantara, menyebut kegiatan tersebut membuatnya bisa melihat langsung tantangan rehabilitasi mangrove. Kondisi lapangan yang panas dan berlumpur justru menjadi bagian dari pengalaman yang berharga.

“Biasanya hanya mengetahui teori di kelas, tetapi kali ini saya dapat melihat langsung tantangan rehabilitasi mangrove di lapangan. Walaupun harus berpanas-panasan dan berlumpur, semuanya terbayar dengan pengalaman yang sangat berharga,” tuturnya.

Dosen Pendamping Program Studi Kehutanan FBiPK UB, Arif Delviawan, S.Hut., M.Agr., Ph.D. menilai pembelajaran lapangan menjadi bagian penting dalam pendidikan calon rimbawan.

Menurutnya, konservasi mangrove tidak cukup hanya dipahami secara teoritis. Mahasiswa perlu melihat langsung kondisi ekosistem dan memahami persoalan yang muncul di lapangan.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar mengenai pentingnya kolaborasi, memahami kompleksitas ekosistem pesisir, serta menyadari bahwa rehabilitasi mangrove merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.

Arif berharap pengalaman tersebut dapat membentuk kepedulian mahasiswa sekaligus mendorong mereka untuk terus berkontribusi dalam menjaga lingkungan berbasis ilmu pengetahuan dan aksi nyata.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, organisasi, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada momentum Hari Mangrove Sedunia. Upaya rehabilitasi dan pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan perlu dilakukan secara konsisten agar manfaat ekologis sekaligus ekonomi dapat dirasakan masyarakat pesisir.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *