google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Macapat Idol Kota Batu Tak Lagi Sekadar Lomba, Disparta Bidik Regenerasi Budaya di Era Digital

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Tembang macapat menghadapi tantangan baru di tengah derasnya budaya pop dan perkembangan digital. Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu memilih tidak membiarkan seni tradisi Jawa berhenti sebagai warisan masa lalu. Melalui workshop dan Technical Meeting (TM) Macapat Idol 2026, Rabu (12/8/2026), Disparta mulai memperkuat strategi regenerasi dengan melibatkan guru, peserta didik, komunitas seni hingga platform digital.

Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto mengatakan, Macapat Idol dirancang untuk menjaga keberlanjutan seni tradisi Jawa sekaligus memastikan generasi muda tetap mengenal dan bangga terhadap budaya daerah.

“Kota Batu tidak hanya berfokus pada pengembangan wisata alam dan buatan, tetapi juga bertumpu pada penguatan akar budaya lokal,” kata Onny kepada iKoneksi.com di sela-sela kegiatan, Rabu (12/8/2026).

88 Guru Bahasa Jawa Jadi Garda Depan

Workshop kali ini secara khusus menyasar 88 guru Bahasa Jawa tingkat sekolah dasar se-Kota Batu. Mereka diposisikan sebagai garda terdepan dalam mengenalkan macapat kepada peserta didik. Pembekalan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman sekaligus teknik pengajaran macapat agar lebih seragam, adaptif, dan mudah diterima anak-anak.

“Sementara itu, kompetisi Macapat Idol menyasar pelajar SD/MI sederajat berusia 7–12 tahun. Disparta juga mulai membuka ruang pembinaan secara bertahap hingga jenjang SMP usia 13–15 tahun untuk menjaga kesinambungan regenerasi. Puncak Macapat Idol 2026 dijadwalkan berlangsung pada 29 Agustus mendatang,” terang dia.

Nama “Idol” Jadi Strategi Dekatkan Macapat dengan Anak Muda

Disparta menyadari tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan macapat, tetapi membuat seni tradisi tersebut tetap relevan bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi dan media sosial. Karena itu, penggunaan nama “Macapat Idol” bukan tanpa alasan. Branding tersebut sengaja dibuat lebih familiar, modern, dan memiliki daya tarik kompetisi bagi anak-anak muda.

“Langkah itu diharapkan mampu mengikis anggapan bahwa macapat merupakan kesenian yang kaku atau kuno. “Macapat Idol” juga tidak berdiri sendiri. Pembinaan akan diintegrasikan dengan pembelajaran muatan lokal di sekolah melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Jawa serta dukungan sanggar seni di desa dan kelurahan,” beber mantan Kadiskominfo Kota Batu itu.

Dari Panggung Lomba ke Media Sosial

Strategi berikutnya menyentuh ruang yang paling dekat dengan generasi muda: dunia digital. Penampilan peserta Macapat Idol nantinya akan dikemas menjadi konten audio-visual pendek untuk dipublikasikan melalui kanal media sosial Pemerintah Kota Batu dan Disparta.

“Dengan cara tersebut, macapat tidak hanya ditonton oleh peserta dan keluarga di lokasi lomba, tetapi berpeluang menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui platform digital. Disparta ingin teknologi tidak menjadi ancaman bagi seni tradisi, melainkan justru menjadi alat untuk memperkenalkannya dengan kemasan yang lebih sesuai dengan kebiasaan generasi sekarang,” jelas dia.

Macapat Dibawa ke Desa Wisata

Pengembangan macapat juga diarahkan keluar dari panggung kompetisi. Disparta tengah mendorong agar pementasan macapat dan mocopatan dapat menjadi bagian dari atraksi budaya di desa-desa wisata. Pertunjukan dapat dikemas sebagai agenda budaya harian atau mingguan, ditampilkan di ruang publik seperti Alun-Alun dan museum, hingga masuk dalam rangkaian Batu Culture Festival.

“Konsep tersebut sekaligus membuka peluang bagi wisatawan mendapatkan pengalaman budaya yang lebih autentik. Dengan demikian, macapat tidak hanya dipertahankan sebagai seni pertunjukan, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian dari daya tarik pariwisata berbasis budaya Kota Batu,” papar dia.

Menjaga Tradisi Tanpa Menjauh dari Zaman

Onny menekankan, keberlanjutan Macapat Idol bergantung pada kemampuan semua pihak menciptakan ruang pembinaan yang berkesinambungan. Sekolah menjadi tempat regenerasi, sanggar menjadi ruang pengembangan talenta, sedangkan teknologi menjadi sarana memperluas jangkauan.

Melalui pola tersebut, Disparta berharap anak-anak Kota Batu tidak hanya mampu melantunkan tembang macapat, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Macapat Idol pun diarahkan menjadi lebih dari sekadar kompetisi tahunan: sebuah strategi untuk memastikan seni tradisi Jawa tetap hidup di tengah perubahan zaman sekaligus menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya Kota Batu,” tukas dia

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *