google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Hari Pahlawan, Saatnya Bangsa Menolak Lupa dan Menyala Kembali

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Padang, iKoneksi.com — Suara perjuangan kembali menggema di seluruh penjuru negeri setiap kali tanggal 10 November tiba. Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni mengenang pertempuran, tetapi sebuah panggilan moral bagi bangsa untuk menatap ke belakang sekaligus melangkah ke depan dengan semangat baru. Di Padang, Humas Aliansi Cyber Pers Aktivis Indonesia (ACPAI) menggaungkan pesan mendalam kepada masyarakat: “jangan biarkan semangat para pahlawan padam dalam ingatan dan tindakan.”

Refleksi Perjuangan di Tengah Zaman Digital

Kepala Humas ACPAI, Ziqro Fernando, menegaskan bahwa Hari Pahlawan seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan menjadi momentum untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Ia menilai, semangat perjuangan para pahlawan di masa lalu kini harus diterjemahkan dalam konteks zaman modern, yakni melalui perjuangan moral dan intelektual di era digital.

“Menjadi pahlawan di masa kini berarti berani menjaga nilai kejujuran, kebenaran, dan persatuan di tengah kemerosotan moral dan kepentingan politik praktis,” tegas Ziqro.

Menurutnya, medan pertempuran generasi sekarang bukan lagi di medan perang, melainkan di ruang publik digital yang dipenuhi informasi, hoaks, dan kepentingan yang bisa menggerus moralitas.

“Kalau dulu pejuang melawan penjajah dengan senjata, kini anak muda berjuang dengan pikiran kritis dan integritas,” sebutnya.

Semangat “Merdeka atau Mati” Tak Boleh Padam

ACPAI menilai, makna Hari Pahlawan 10 November 1945 di Surabaya saat rakyat bersatu melawan penjajahan harus terus dihidupkan dalam berbagai bentuk perjuangan masa kini. Bagi mereka, keberanian rakyat mempertahankan martabat bangsa kala itu menjadi simbol bahwa Indonesia dibangun dari darah dan tekad yang tidak bisa ditawar.

“Semangat itu harus menjadi napas kehidupan bangsa. Jika dulu melawan penjajah asing, kini kita melawan bentuk penjajahan baru yaitu kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan disinformasi,” ujar Ziqro.

Hari Pahlawan, menurut ACPAI, seharusnya memantik kesadaran kolektif untuk tidak mengkhianati pengorbanan para pejuang yang gugur. Dalam pandangan mereka, lupa terhadap sejarah berarti kehilangan arah bangsa.

Soal Gelar Pahlawan untuk Soeharto, ACPAI Serukan Kajian Mendalam

Dalam konteks nasional, ACPAI juga menyoroti wacana publik terkait rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Menurut Ziqro, setiap gelar kehormatan harus melalui kajian moral dan sejarah yang mendalam, bukan keputusan politis semata.

“Pahlawan bukan hanya soal jabatan dan kekuasaan masa lalu, tetapi tentang jejak moral dan kemanusiaan yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya,” sebut Ziqro..

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa ACPAI menolak politisasi sejarah. Mereka mengingatkan, penghargaan kepada tokoh nasional harus benar-benar mencerminkan kontribusi nyata terhadap kemanusiaan dan keutuhan bangsa, bukan sekadar prestasi kekuasaan.

Menolak Lupa dan Menyalakan Semangat Baru

Lebih lanjut, ACPAI menyerukan agar masyarakat terutama kaum muda menjadikan Hari Pahlawan sebagai ajang refleksi nasional. Refleksi untuk menolak lupa, menghormati pengorbanan, dan meneguhkan tekad menjaga bangsa dari penjajahan dalam bentuk baru, termasuk korupsi moral dan kemerosotan etika publik.

“Semangat para pahlawan harus menjadi energi kolektif untuk melawan ketidakadilan, menjaga integritas bangsa, dan memperjuangkan kebenaran di semua lini kehidupan,” beber Ziqro Fernando dengan tegas.

Semangat yang Tak Boleh Redup

Peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang harus terus dijaga. Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi moral, pesan dari ACPAI menggema sebagai seruan untuk menyalakan kembali api perjuangan — bukan dengan peluru, melainkan dengan nurani, pengetahuan, dan keberanian menjaga kebenaran.

“Karena menjadi pahlawan hari ini bukan soal berperang di medan laga, tetapi tentang keberanian berdiri tegak di tengah kebohongan, tetap jujur meski sendirian, dan berani melawan ketidakadilan meski kecil kemungkinan untuk menang. Dan dari Padang, semangat itu kembali dihidupkan: menolak lupa, menjaga kebenaran, dan melanjutkan perjuangan,” tandasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *