google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Aston Gresik Hidupkan Kembali Tradisi Damar Kurung Lewat Kelas Seni

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Gresik, iKoneksi.com — Di tengah riuh modernisasi dan kilau kota industri, lentera-lentera kecil berbingkai kertas tampak berkelip di sebuah ruangan. Cahayanya lembut, seperti napas masa lalu yang menuntun kehangatan tradisi. Itulah Damar Kurung, karya seni khas Gresik yang telah diwariskan turun-temurun dan menjadi simbol kehidupan masyarakat kota santri. Namun kini, lentera penuh makna itu tak hanya menyala di rumah-rumah warga, tetapi juga di ruang modern tepatnya di Aston Gresik Hotel & Conference Center, tempat tradisi bertemu kreativitas zaman baru.

Dalam upaya menjaga denyut warisan budaya daerah, Aston Gresik Hotel & Conference Center menggandeng Budayawan Gresik, Kris Adji, menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Eksplorasi Seni Tradisional: Kelas Membuat Damar Kurung”. Acara yang digelar pada Sabtu, 25 Oktober 2025 di Nira Restaurant ini menjadi wadah interaktif yang mempertemukan seniman, masyarakat, dan pecinta budaya untuk belajar langsung cara menghias serta merangkai Damar Kurung.

Merangkai Cahaya Tradisi di Tengah Modernitas

Sejak sore menjelang pukul 15.30 WIB, suasana di Nira Restaurant terasa semarak. Meja-meja diisi dengan kuas, cat warna, lem, dan kertas bergambar peralatan sederhana namun sarat makna. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak yang antusias bereksperimen dengan warna, hingga orang dewasa yang ingin mengenang masa kecil mereka bersama Damar Kurung.

Acara dibuka dengan pembagian goodie bag dari para sponsor dan sesi foto bersama maskot Asto & Nia, dua karakter ikonik Aston Gresik yang selalu menjadi magnet bagi peserta cilik. Tak lama kemudian, lantai acara bergemuruh oleh tepukan tangan penonton ketika Sanggar Tari Wikus Gresik tampil membawakan Tari Damar Kurung. Lewat gerak yang lembut dan ekspresif, para penari seakan menghidupkan kembali kisah rakyat yang dulu diabadikan di balik lentera tradisional itu.

Budayawan Kris Adji: Menghidupkan Kembali Jejak Sejarah

Puncak acara tiba ketika Kris Adji, budayawan yang telah lama meneliti dan memperjuangkan pelestarian Damar Kurung, tampil memberikan pemaparan. Dengan tutur yang hangat, ia menceritakan asal-usul lentera khas Gresik tersebut bagaimana ia lahir dari tangan seniman perempuan legendaris, Sriati Masmundari, dan berkembang menjadi simbol identitas masyarakat Gresik.

“Damar Kurung bukan sekadar lampion. Ia adalah catatan visual tentang kehidupan. Tentang pasar, keluarga, doa, hingga cinta,” ujar Kris Adji di hadapan peserta.

Sebuah video dokumenter singkat kemudian diputar, menampilkan perjalanan panjang Damar Kurung dari masa ke masa. Sorot mata peserta tampak terpaku, sebagian larut dalam nostalgia, sebagian lainnya baru pertama kali menyadari betapa kaya warisan budaya yang dimiliki Gresik.

Dari Lukisan Kertas Menjadi Ikatan Generasi

Setelah sesi pemaparan, seluruh peserta mulai berkarya. Anak-anak dengan ceria mencampur warna-warna cerah, sementara para orang tua tampak serius menorehkan pola klasik. Dalam suasana hangat itu, budaya menjadi jembatan yang mempertemukan generasi bukan sekadar untuk dikenang, tetapi dihidupkan kembali melalui tangan dan kreativitas bersama.

“Kolaborasi seperti ini harus terus dilakukan. Selain memperkenalkan budaya Gresik, kegiatan ini menjadi bentuk konsistensi Aston Gresik dalam mendukung pelestarian warisan budaya lokal,” kata S. Paminta Nugraha, General Manager Aston Gresik Hotel & Conference Center.

Paminta menegaskan bahwa Aston Gresik bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga ruang yang menghidupkan nilai-nilai budaya daerah.

“Kami percaya, hotel bukan sekadar ruang fisik. Ia juga bisa menjadi rumah bagi tradisi,” serunya.

Budaya, Ekonomi Kreatif, dan Semangat Kolaborasi

Acara ini turut melibatkan berbagai mitra yang memiliki kepedulian terhadap budaya dan UMKM lokal, seperti Gerakan Satu Rumah Satu Damar Kurung, Skin+ Gressmall Gresik, Stesa Official, dan Sanggar Tari Wikus Gresik. Kolaborasi lintas sektor ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi kreatif.

“Melalui kegiatan ini, Aston Gresik menegaskan perannya bukan hanya sebagai pelaku industri perhotelan, tetapi juga sebagai penggerak budaya. Kelas membuat Damar Kurung menjadi contoh konkret bagaimana nilai tradisional dapat disinergikan dengan dunia modern, menghadirkan pengalaman berharga bagi masyarakat sekaligus memperkuat citra Gresik sebagai kota berbudaya,” beber Paminta.

Lentera yang Tak Pernah Padam

Lebih dari sekadar acara seni, kegiatan “Eksplorasi Seni Tradisional: Kelas Membuat Damar Kurung” adalah refleksi tentang bagaimana warisan budaya bisa terus menyala di tengah perubahan zaman. Lentera-lentera kecil itu mungkin terbuat dari kertas, namun cahaya yang dipancarkannya jauh lebih besar menerangi perjalanan masyarakat Gresik dalam menjaga identitas dan kebanggaannya.

“Seperti Damar Kurung yang menyimpan kisah di setiap sisinya, demikian pula kegiatan ini menjadi simbol bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan juga harapan masa depan,” pungkas Paminta.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *