google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

BEM Undip Mundur dari BEM SI Usai Munas Ricuh

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Semarang, iKoneksi.com — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip) secara resmi menyatakan keluar dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan. Keputusan ini diumumkan pada Ahad, 20 Juli 2025, sehari setelah pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) BEM SI di Universitas Dharma Andalas, Padang, Sumatera Barat, yang digelar pada 13–19 Juli 2025.

Keputusan mundur ini bukan tanpa alasan. Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq, menyoroti kehadiran sejumlah tokoh politik, pejabat daerah, hingga aparat keamanan dan intelijen dalam Munas tersebut. Menurutnya, kehadiran mereka mencederai semangat gerakan mahasiswa yang selama ini mengedepankan independensi dan keberpihakan terhadap rakyat.

Kritik Terhadap Kehadiran Pejabat dan Aparat

Ariq menyebut forum Munas seharusnya menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah perjuangan mahasiswa, bukan panggung politik praktis. Ia menyayangkan hadirnya sejumlah tokoh seperti Ketua Umum Partai Perindo, Menteri Pemuda dan Olahraga, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Kapolda Sumbar, hingga perwakilan dari Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Sumbar.

“Tak pantas, ketika mahasiswa di berbagai daerah menghadapi represi dalam menyuarakan aspirasi, Munas malah dipenuhi ucapan selamat dan foto bersama dengan pejabat dan BIN. Seharusnya forum itu membahas eskalasi gerakan dan solidaritas, bukan mencari muka,” tegas Ariq.

Keberadaan karangan bunga dari Kepala BIN Daerah Sumbar yang bertuliskan ucapan selamat dan sukses juga menjadi sorotan tajam. Meski kemudian karangan bunga tersebut diturunkan oleh panitia, keberadaannya sempat tersebar luas di media sosial dan memicu gelombang kritik terhadap independensi forum mahasiswa tersebut.

Munas Ricuh, BEM Undip Tegas Ambil Sikap

Menurut Ariq, Munas kali ini tidak mencerminkan nilai-nilai intelektualisme dan demokrasi. Justru sebaliknya, forum tersebut dianggap telah terseret dalam kepentingan politik dan kekuasaan. Bahkan, dalam proses pemilihan pengurus aliansi yang baru, kericuhan tak terhindarkan dan beberapa peserta dilaporkan mengalami luka-luka.

“Alih-alih memperkuat gerakan mahasiswa, Munas justru menunjukkan kemunduran dan potensi perpecahan,” ujar Ariq.

Oleh karena itu, setelah menggelar musyawarah internal bersama aliansi BEM se-Undip, pihaknya memutuskan untuk tidak lagi menjadi bagian dari BEM SI.

Seruan Refleksi dan Jaga Integritas Gerakan

Keputusan BEM Undip keluar dari aliansi ini bukan semata-mata sebagai aksi protes, tetapi juga sebagai ajakan refleksi bagi seluruh elemen gerakan mahasiswa di Indonesia. Ariq menekankan pentingnya menjaga integritas dan kemandirian gerakan, serta menjunjung tinggi musyawarah dan nilai demokrasi.

“Kami tidak ingin menjadi bagian dari gerakan yang kehilangan arah dan terlalu dekat dengan kekuasaan,” tegasnya.

Langkah BEM Undip ini mengikuti jejak BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga lebih dulu menyatakan keluar dari BEM SI sehari sebelumnya. Munculnya dua sikap tegas dari kampus-kampus besar ini menandakan adanya keresahan kolektif atas arah dan integritas gerakan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi tersebut.

Klarifikasi dari Panitia Munas

Ketua BEM Universitas Dharma Andalas, Rifaldi, yang juga menjabat sebagai panitia Munas, memberikan klarifikasi. Menurutnya, kehadiran pejabat, politisi, dan aparat keamanan merupakan bagian dari teknis acara. Ia menyebut kehadiran mereka didasarkan pada permintaan pengelola Asrama Haji tempat peserta menginap yang mensyaratkan pelaksanaan acara diketahui oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumbar.

“Kami tidak punya maksud memberi ruang politik kepada siapapun. Ini murni bagian dari prosedur teknis dan koordinasi daerah,” kata Rifaldi.

Mengenai karangan bunga dari BIN, Rifaldi menegaskan pihak panitia tidak mengetahui sebelumnya dan langsung menurunkannya begitu diketahui.

Ia juga menepis tudingan bahwa kehadiran para pejabat telah mengganggu independensi mahasiswa.

“Kami tetap kritis terhadap kekuasaan, kehadiran mereka tidak mengubah komitmen itu,” imbuhnya.

Menanti Arah Baru Gerakan Mahasiswa

Munas kali ini diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai kampus ternama di Indonesia, termasuk Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Semarang, hingga Institut Teknologi Bandung dan ITS Surabaya. Namun, dinamika yang terjadi di forum tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai masa depan gerakan mahasiswa Indonesia.

“Langkah BEM Undip menarik diri dari aliansi menjadi penanda penting bahwa gerakan mahasiswa masih memiliki kekuatan untuk menjaga arah dan integritasnya. Kini, tinggal menunggu apakah kampus-kampus lain akan mengikuti jejak serupa, atau justru tetap bertahan di dalam aliansi dengan segala tantangannya,” pungkas Ariq. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *