google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Budaya Kekerasan Bayangi Pematangsiantar, Angka Kasus Masih Tinggi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com – Di balik predikatnya sebagai salah satu kota toleran di Indonesia, Pematangsiantar ternyata menyimpan sisi kelam yang kian mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi momok, meski secara statistik sempat diklaim menurun. Data terbaru justru mengungkap kenyataan lain: budaya kekerasan seolah terus berakar dalam kehidupan masyarakat.

Angka Kasus yang Mengkhawatirkan

Dinas Sosial Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Pematangsiantar mencatat 23 kasus kekerasan sepanjang Januari hingga Agustus 2025. Dari jumlah itu, 6 kasus menimpa perempuan dewasa dan sebagian besar terjadi di lingkup rumah tangga. Kekerasan fisik mendominasi, memperlihatkan rapuhnya ikatan dalam keluarga.

Yang lebih memprihatinkan, 17 kasus lainnya melibatkan anak-anak sebagai korban. Dari angka tersebut, 14 korban adalah pelajar perempuan. Fakta ini memperlihatkan bagaimana anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan aman justru menjadi sasaran tindakan kejam, baik di rumah maupun di sekolah.

Faktor Ekonomi Jadi Pemicu

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Dinsos P3A Pematangsiantar, Ariandi Armas, menjelaskan bahwa persoalan ekonomi kerap menjadi pemicu utama pecahnya konflik domestik.

“Banyak keluarga yang tidak harmonis dipicu persoalan ekonomi. Misalnya kepala keluarga yang tidak bekerja,” ungkap Ariandi kepada iKoneksi.com, Kamis (11/9/2025).

Menurutnya, kondisi ekonomi yang sulit sering kali menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga. Tekanan ini kemudian bermuara pada kekerasan, baik fisik maupun psikis, yang justru memperburuk kondisi keluarga.

Kekerasan di Sekolah

Lebih dari itu, Ariandi juga menyoroti fenomena kekerasan yang merambah ke sekolah. Salah satu kasus yang ditangani pihaknya adalah bullying terhadap pelajar.

“Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan suportif bagi tumbuh kembang anak ternyata juga bisa menjadi arena reproduksi kekerasan. Situasi ini memperlihatkan bahwa kekerasan bukan hanya persoalan rumah tangga, melainkan juga masalah sistemik yang terjadi di ruang publik,” beber Ariandi.

Mediasi Jadi Jalur Utama

Dalam penanganan kasus, Dinsos P3A Pematangsiantar mengutamakan jalur mediasi. Proses ini mempertemukan korban, pelaku, dan pihak terkait seperti sekolah. Mediasi biasanya ditutup dengan berita acara perjanjian, di mana pelaku diwajibkan tidak mengulangi perbuatannya.

“Namun, metode mediasi ini kerap menimbulkan pertanyaan. Apakah cukup kuat untuk memberikan efek jera? Atau hanya menjadi formalitas tanpa menyentuh akar persoalan?,” tanya Ariandi.

Upaya Pencegahan dan Edukasi

Meski demikian, langkah pencegahan tetap dilakukan. Dinsos P3A bekerja sama dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pematangsiantar untuk memberikan edukasi di sekolah-sekolah dan masyarakat.

“Tak hanya itu, pekerja sosial dan psikolog juga dihadirkan untuk mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum, baik sebagai korban maupun pelaku. Pendampingan ini penting untuk memastikan trauma tidak mengganggu masa depan mereka,” terangnya.

Tantangan Besar yang Masih Menghantui

Kasus-kasus ini menurut Ariandi memperlihatkan Pematangsiantar menghadapi tantangan besar dalam melawan budaya kekerasan. Angka yang tercatat bisa jadi hanyalah puncak gunung es, sementara banyak kasus lain memilih bungkam karena korban enggan melapor.

“Di satu sisi, mediasi bisa menjadi solusi jangka pendek. Namun di sisi lain, dibutuhkan pendekatan lebih komprehensif: perbaikan ekonomi keluarga, pendidikan karakter di sekolah, serta penegakan hukum yang lebih tegas agar pelaku jera,” jelasnya.

Jalan Panjang Memberantas Kekerasan

Fenomena ini mengingatkan keberagaman dan toleransi yang selama ini menjadi wajah Pematangsiantar tidak boleh menutupi fakta adanya budaya kekerasan yang membayangi. Butuh keberanian semua pihak pemerintah, aparat, sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk memutus rantai kekerasan sejak dini.

“Jika tidak, masa depan generasi muda, terutama perempuan dan anak-anak, akan terus berada dalam bayang-bayang trauma,” tutup Ariandi. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *