google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Mayat Bayi Dikirim Pakai Ojol, Polrestabes Medan Ungkap Fakta Mengejutkan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Kota Medan kembali diguncang dengan peristiwa tragis yang mengaduk-aduk rasa kemanusiaan. Warga dikejutkan oleh penemuan mayat bayi laki-laki dalam sebuah paket yang dikirim menggunakan jasa ojek online (ojol). Peristiwa ini terjadi pada Kamis, (8/5/2025), dan seketika menjadi buah bibir di tengah masyarakat.

Beruntung, berkat kerja cepat dan koordinasi tim gabungan dari Satreskrim Polrestabes Medan dan Polsek Medan Timur, misteri paket berisi jasad bayi tersebut berhasil diungkap hanya dalam waktu satu hari. Fakta-fakta yang tersingkap pun mengungkap sisi kelam dari kehidupan yang jarang tersorot.

Penemuan Mayat Bayi di Depan Masjid

Paket mencurigakan pertama kali ditemukan di depan Masjid Jamik, Jalan Ampera III, Medan Timur. Awalnya, marbot dan warga sekitar tak menaruh curiga. Namun setelah dibuka, mereka justru dibuat syok. Di dalam paket tersebut, terbungkus rapi, terdapat jasad bayi laki-laki yang sudah tidak bernyawa. Nama pengirim dan penerima tercatat dalam aplikasi ojol sebagai Putri dan Rudi, namun identitas itu ternyata palsu.

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, dalam keterangan persnya pada Jumat (9/5/2025), menjelaskan secara gamblang kronologi dan perkembangan penyelidikan yang dilakukan.

Pelaku Ternyata Abang dan Adik

Tak butuh waktu lama bagi aparat kepolisian untuk melacak asal usul pengiriman. Polisi kemudian mengamankan dua pelaku berinisial NH (21) dan R (24) yang ternyata memiliki hubungan darah sebagai adik dan abang kandung.

“NH diketahui adalah ibu dari bayi malang tersebut. Ia melahirkan secara mandiri pada Sabtu, (3/5/2025) di rumahnya yang berada di kawasan Belawan. Tanpa pendampingan medis, ia juga merawat sang bayi sendirian. Namun kondisi bayi melemah. NH sempat membawanya ke rumah sakit, tetapi karena keterbatasan biaya, bayi itu akhirnya dibawa pulang,” kata Gidion.

Tragisnya, diungkapkan Gidion pada Rabu, (7/5/2025), bayi tersebut meninggal dunia di rumah. Dalam kondisi panik, NH bersama abangnya, R, memutuskan untuk menyembunyikan kejadian itu dengan cara yang tak lazim: mengirim jasad bayi menggunakan jasa ojol ke sebuah titik yang telah mereka tentukan yakni di depan masjid.

Identitas Palsu dan Motif Tersembunyi

Gidion menjelaskan saat memesan ojol, NH menggunakan identitas palsu agar tidak mudah dilacak. Nama yang muncul dalam aplikasi bukan nama asli. Hal ini membuat masyarakat dan pihak masjid sempat kebingungan saat mencoba menelusuri siapa pemilik paket.

“Begitu sampai di tempat tujuan, mereka meletakkan paket begitu saja. Setelah itu langsung pergi. Warga yang membukanya baru sadar bahwa isinya bukan barang biasa, tapi jasad manusia kecil yang sudah tidak bernyawa,” sebut Gidion.

Polisi Masih Tunggu Hasil Otopsi

Meski pelaku sudah ditangkap dan motif awal terungkap, namun penyebab kematian bayi masih menjadi misteri. Pihak kepolisian belum bisa menyimpulkan apakah bayi meninggal karena sakit atau ada unsur kekerasan.

“Untuk itu, tim forensik RS Bhayangkara masih melakukan scientific investigation terhadap jasad bayi tersebut. Hasil otopsi akan sangat menentukan konstruksi hukum terhadap NH dan R. Saya rasa, untuk identitas dan pelaku, semuanya sudah tuntas. Yang belum adalah menentukan pasal hukum yang akan dikenakan, karena harus menunggu hasil otopsi,” tegas Gidion.

Potensi Jerat Hukum: UU Perlindungan Anak

Jika hasil otopsi menunjukkan adanya unsur penelantaran, kekerasan fisik atau psikis yang menyebabkan bayi meninggal, maka pelaku bisa dijerat dengan Pasal 80 Undang-Undang Perlindungan Anak, yang memiliki sanksi pidana berat. Bila tidak, kasus bisa dijerat melalui KUHP dengan pasal terkait kelalaian atau pembuangan mayat.

“Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ini menyangkut nyawa manusia dan perlindungan anak. Kami akan bertindak tegas sesuai hukum yang berlaku,” lugas Gidion.

Tragedi Sosial yang Menggugah Nurani

“Kasus ini membuka mata publik tentang potret buram kemiskinan dan keterbatasan akses kesehatan, terutama bagi perempuan muda yang menghadapi kehamilan tanpa dukungan sosial dan ekonomi. Di sisi lain, cara penyelesaian yang keliru dan tidak manusiawi justru menambah luka,” tutup Gidion. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *