google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Petisi Tolak TKA Meledak, 238 Ribu Siswa Tantang Kebijakan Baru

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Gelombang protes terhadap pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 kian membesar. Petisi yang menyerukan pembatalan ujian tersebut di laman change.org menjadi salah satu bentuk perlawanan terbuka dari siswa terhadap kebijakan pendidikan yang dinilai tergesa-gesa dan penuh tekanan.

Hingga Kamis (30/10/2025) malam, petisi bertajuk “Batalkan Tes Kemampuan Akademik 2025!” yang dibuat oleh akun bernama Siswa Agit telah mengantongi 238.367 tanda tangan. Angka yang terus melonjak ini menunjukkan keresahan besar di kalangan pelajar SMA/MA/SMK di seluruh Indonesia.

Dalam penjelasannya di laman petisi, Siswa Agit menulis dengan nada kecewa sekaligus cemas. Ia mengaku merasa prihatin terhadap sistem baru yang diterapkan pemerintah.

“Sebagai salah satu dari banyak siswa yang akan menghadapi TKA 2025, saya, bersama teman-teman seangkatan, merasakan keprihatinan yang mendalam. Sistem baru ini tidak hanya menambah tekanan pada kami, tetapi juga mempermainkan masa depan pendidikan kami,” tulisnya.

Menurut Siswa Agit, pelaksanaan TKA 2025 sarat dengan persoalan mendasar. Mulai dari pengesahan yang dianggap mendadak, minimnya sosialisasi di tingkat sekolah, hingga keterlambatan penerbitan kisi-kisi soal yang membuat guru dan siswa kelimpungan. Ujian yang seharusnya menjadi alat ukur kemampuan justru dinilai berubah menjadi sumber stres massal.

Ia mencatat TKA jenjang SMA baru diumumkan dan disahkan pada 8 Juni 2025, sementara aturan pendukungnya baru diundangkan lima hari sebelumnya, pada 3 Juni 2025. Penetapan resminya pun baru keluar pada 14 Juli 2025 melalui Salinan Perkaban Nomor 45 Tahun 2025. Artinya, dari tanggal pengesahan hingga ujian digelar awal November, para siswa hanya memiliki waktu 112 hari atau sekitar 3,5 bulan untuk mempersiapkan diri.

“Waktu yang begitu singkat itu tidak cukup bagi guru maupun siswa untuk beradaptasi dengan sistem baru,” tulis Siswa Agit.

Masalah tak berhenti di situ. Ia juga membeberkan bahwa Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen baru melaksanakan simulasi resmi TKA Online untuk SMA/MA/SMK/MAK pada 6 Oktober 2025, hanya sebulan sebelum pelaksanaan ujian sebenarnya.

Para guru bimbingan belajar pun dibuat pusing. Banyak dari mereka yang telah mencoba menyusun prediksi soal sejak Juli, namun hasilnya justru melenceng jauh dari versi resmi Pusmendik. Akibatnya, strategi belajar harus dirombak total setelah simulasi pertama digelar. Kondisi ini, bagi banyak siswa, menambah beban dan kebingungan di tengah persiapan menuju ujian penting.

Meski tekanan dari publik kian menguat, pemerintah tetap bergeming. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa program TKA akan tetap dilanjutkan. Menurutnya, pelaksanaan TKA sudah memperoleh restu dari Presiden Prabowo Subianto dan bahkan diikuti oleh lebih dari 3,5 juta pendaftar dari seluruh Indonesia.

Mu’ti menilai, petisi penolakan TKA tidak memiliki dasar yang kuat. Ia menegaskan bahwa ujian tersebut bersifat opsional dan tidak wajib diikuti oleh seluruh siswa. Dengan demikian, lanjutnya, tidak ada alasan untuk membatalkan program yang dianggap penting bagi peningkatan kualitas asesmen pendidikan nasional.

“Petisi itu tidak masuk akal. Kita mengapresiasi yang melakukan gerakan itu, tapi TKA ini sifatnya sukarela. Kalau orang sudah sukarela, berarti tidak dipaksa,” ujar Mu’ti kepada iKoneksi.com.

Pernyataan Mu’ti ini justru memancing beragam reaksi di media sosial. Banyak siswa merasa argumen “sukarela” tidak sepenuhnya benar karena sebagian sekolah mendorong siswa untuk tetap ikut TKA demi menambah nilai kompetitif dalam seleksi kuliah.

Kini, perdebatan tentang relevansi dan urgensi TKA makin sengit. Di satu sisi, pemerintah mengklaim TKA sebagai inovasi pendidikan yang akan memperbaiki sistem seleksi berbasis kompetensi. Namun di sisi lain, ribuan siswa melihatnya sebagai bentuk kebijakan yang terburu-buru tanpa kesiapan teknis yang matang.

Dengan terus bertambahnya tanda tangan petisi, tekanan publik terhadap Kemendikdasmen diprediksi belum akan surut. Dalam lanskap pendidikan yang tengah berbenah, TKA 2025 kini menjadi ujian besar bukan hanya bagi para siswa, tetapi juga bagi pemerintah dalam membuktikan apakah kebijakan ini benar-benar membawa kemajuan, atau justru menambah luka di dunia pendidikan Indonesia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *