google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Wagub Surya: Pengawas Pemilu Harus Berintegritas Tinggi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Suasana Hotel Polonia, Medan, hari itu menjadi saksi dimulainya langkah penting menuju Pemilu 2029 yang lebih jujur dan adil. Kick off program “Pendidikan Pengawas Partisipatif: Berfungsi dan Bergerak untuk Pemilu 2029 yang Bermartabat” resmi digelar oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi tonggak awal untuk mencetak para pengawas Pemilu yang tidak hanya terlatih secara teknis, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan integritas.

Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, dalam sambutannya menegaskan para pengawas harus menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah demokrasi. Ia meminta agar mereka terus meningkatkan kompetensi, bekerja secara profesional, netral, serta bertanggung jawab dalam setiap langkah pengawasan.

“Integritas itu harga mati. Tanpa netralitas dan tanggung jawab, Pemilu bisa ternoda. Kami berharap pengawas menjadi penjaga kualitas demokrasi, bukan sekadar pelengkap administrasi,” tegas Surya dengan suara lantang.

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya pengawasan yang kuat untuk menciptakan Pemilu yang aman, tertib, dan bebas dari sengketa. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk komitmen Sumatera Utara untuk menghadirkan pesta demokrasi yang damai dan bermartabat, sesuai dengan asas Luber (langsung, umum, bebas, rahasia) dan Jurdil (jujur dan adil).

Bawaslu: Kesadaran Publik Penentu Mutu Demokrasi

Komisioner Bawaslu RI, Lolly Suhenty, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan pilot project pendidikan pengawasan partisipatif yang dimulai dari Sumatera Utara. Ia berharap langkah ini menjadi pemicu kesadaran publik akan pentingnya peran serta dalam menjaga proses demokrasi.

“Pengawasan bukan tugas Bawaslu semata. Masyarakat harus menjadi mata dan telinga demokrasi. Pemilu yang berkualitas dimulai dari partisipasi yang sadar dan aktif,” ungkap Lolly.

Ia juga menyebut program ini sebagai bentuk refleksi atas kekurangan dalam pelaksanaan Pemilu sebelumnya. Menurutnya, pendidikan seperti ini penting agar setiap pengawas, baik formal maupun partisipatif, mampu memahami konteks lokal sekaligus tantangan teknis di lapangan.

Dari Sumut untuk Indonesia

Lolly menekankan Pemilihan Sumatera Utara sebagai titik awal pendidikan pengawas partisipatif bukan tanpa alasan. Provinsi ini dikenal sebagai wilayah yang dinamis dan multikultural, dengan beragam tantangan yang mencerminkan kompleksitas Pemilu nasional. Melalui kegiatan ini, Sumut diharapkan dapat menjadi model pembelajaran demokrasi partisipatif yang dapat direplikasi ke daerah-daerah lain.

“Bawaslu menyiapkan rangkaian pelatihan intensif untuk seluruh peserta, dengan fokus pada etika pengawasan, strategi deteksi dini pelanggaran, hingga pelibatan masyarakat sipil secara aktif. Semua itu dirancang untuk membentuk pengawas yang tidak hanya hadir saat Pemilu, tetapi juga aktif dalam menjaga kualitas demokrasi sepanjang waktu,” terangnya.

“Dengan adanya komitmen dari pemerintah daerah, penyelenggara Pemilu, dan partisipasi masyarakat, Pemilu 2029 diharapkan tak hanya sekadar ajang lima tahunan. Lebih dari itu, ia harus menjadi simbol kematangan demokrasi Indonesia, yang dibangun dengan fondasi pengawasan yang kuat, bermartabat, dan berpihak pada kebenaran,” pungkas Lolly. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *