google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Krisis Kepercayaan pada Pengetahuan: Review Buku ‘Matinya Kepakaran’

  • Bagikan
banner 468x60

Ada masa ketika pengetahuan memperoleh wibawanya dari ketekunan, riset, dan pengalaman panjang. Kini keadaan itu tidak lagi sesederhana dulu. Di tengah derasnya arus informasi, orang memang semakin mudah mengakses penjelasan tentang banyak hal. Namun kemudahan itu juga melahirkan ilusi yang berbahaya: merasa sudah paham hanya karena membaca sepintas. Dalam konteks itulah Matinya Kepakaran karya Tom Nichols terasa penting. Buku ini tidak sekadar membahas pudarnya otoritas ahli, tetapi juga menyoroti perubahan sikap masyarakat yang semakin sulit membedakan pengetahuan, opini, dan rasa percaya diri.

Secara umum, Matinya Kepakaran adalah buku nonfiksi yang kuat, provokatif, dan relevan. Kekuatan utamanya terletak pada keberanian Nichols menyusun kritik yang tajam terhadap budaya yang makin curiga pada keahlian, tetapi sekaligus terlalu percaya pada penilaian sendiri. Ia berangkat dari gagasan bahwa yang sedang runtuh bukan hanya penghormatan kepada para ahli, melainkan juga kebiasaan untuk tunduk pada proses berpikir yang cermat. Pendapat awam tidak lagi hadir sebagai pertanyaan atau tanggapan, melainkan sering tampil dengan keyakinan yang sama kerasnya seperti pengetahuan yang dibangun lewat disiplin bertahun-tahun.

Yang membuat buku ini menarik, Nichols tidak hanya menunjuk publik yang gemar meremehkan ahli. Ia juga mengarahkan kritik pada unsur-unsur lain yang ikut menyumbang kerusakan itu: kampus yang kehilangan keseriusan intelektual, internet yang memperparah kebisingan, jurnalisme yang terlalu akrab dengan logika hiburan, bahkan para pakar sendiri yang kadang tergoda tampil serba tahu. Karena itu, Matinya Kepakaran tidak menyederhanakan masalah menjadi sekadar pertentangan antara orang awam dan orang pintar, melainkan memetakan ekosistem yang membuat kepakaran kehilangan pijakan sosialnya.

Salah satu bagian paling kuat dalam buku ini adalah pembahasan tentang cara orang modern memperlakukan informasi. Nichols melihat bahwa akses yang melimpah tidak otomatis melahirkan kedalaman. Sebaliknya, banyak orang justru tumbuh dalam keyakinan bahwa kemampuan mencari data bisa menggantikan kemampuan memahami persoalan. Di sinilah buku ini terasa tajam: ia menyentuh kebiasaan yang sangat akrab hari ini, yakni membaca cepat, menyimpulkan cepat, lalu merasa cukup berwenang untuk menolak siapa pun yang lebih tahu. Dari situ lahir pola pikir yang mudah jatuh pada bias konfirmasi, ketika orang cenderung mengambil informasi yang mendukung keyakinannya sendiri dan menyingkirkan hal-hal yang mengganggu rasa nyamannya.

Kelebihan Nichols, ia tidak berhenti pada gejala permukaan. Ia mencoba menjelaskan mengapa masyarakat bisa sampai pada kondisi ini. Pendidikan tinggi, misalnya, dalam pembacaannya tidak selalu berhasil membentuk kerendahan hati intelektual. Kampus yang semestinya menjadi ruang pembiasaan berpikir justru kadang melahirkan rasa berhak untuk selalu dianggap benar. Nilai akademik yang mengembang, budaya penghargaan berlebihan terhadap perasaan diri, serta melemahnya tuntutan intelektual digambarkan sebagai bagian dari masalah. Kritik ini memang terasa keras, tetapi cukup efektif sebagai gugatan.

Pembahasan soal internet dan jurnalisme juga menjadi bagian penting. Nichols tidak menolak internet sebagai sarana berbagi pengetahuan, tetapi ia menaruh curiga pada dampaknya terhadap kebiasaan berpikir. Ruang digital memudahkan semua orang berbicara tanpa saringan memadai, mempercepat munculnya ruang gema, dan membuat pembaca lebih sering menilai sebuah klaim dari seberapa viral atau seberapa cocok dengan keyakinannya sendiri. Sementara itu, media modern dinilai terlalu sering bergeser dari kerja memberi penjelasan menjadi kerja memburu perhatian. Ketika klik, rating, dan sensasi menjadi pertimbangan utama, batas antara informasi dan hiburan mulai kabur.

Menariknya, Nichols juga tidak sepenuhnya membela para ahli. Ia tetap memberi ruang kritik kepada kelompok yang ia bela. Pakar, dalam bukunya, bisa ikut memperburuk keadaan ketika berbicara melampaui kompetensinya, terlalu tergoda membuat ramalan, atau lebih sibuk menjaga wibawa daripada menjelaskan dengan jujur batas pengetahuannya. Bagian ini penting karena membuat argumennya tidak sepenuhnya satu arah. Ia mengakui bahwa kepercayaan publik terhadap keahlian bisa terkikis bukan hanya karena masyarakat keras kepala, tetapi juga karena para ahli sendiri kadang tampil arogan, tertutup, atau tidak disiplin.

Meski begitu, buku ini tidak luput dari kekurangan. Nada tulisan Nichols pada beberapa bagian terasa terlalu menyentak dan kadang cenderung merendahkan pembaca awam. Ia sangat meyakinkan saat menjelaskan gejala anti-intelektual, tetapi kurang lentur saat mengurai pengalaman sosial yang membuat banyak orang kecewa pada institusi, media, atau otoritas formal. Dengan kata lain, Nichols sangat kuat dalam diagnosis, tetapi tidak selalu sama kaya dalam empati.

Pada akhirnya, Matinya Kepakaran adalah buku yang penting karena berbicara tentang penyakit zaman yang masih terasa sampai sekarang. Ia mengingatkan bahwa krisis informasi bukan hanya soal hoaks atau salah data, tetapi juga soal kebiasaan masyarakat yang tidak lagi sabar terhadap kerumitan, tidak lagi rendah hati di hadapan pengetahuan, dan terlalu cepat mengira bahwa semua penilaian berdiri di pijakan yang sama. Sebagai review, penilaian akhirnya cukup jelas: Matinya Kepakaran adalah buku nonfiksi yang bernas, relevan, dan menggugah, dengan argumen kuat tentang merosotnya wibawa pengetahuan di tengah budaya informasi yang serba cepat.

banner 325x300banner 325x300
Penulis: Chaidar Irfan Haikal
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *