Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

LAB 45 dan UM Soroti Gejala Kemunduran Demokrasi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Momentum Hari Pers Nasional dimaknai sebagai ruang refleksi atas kondisi demokrasi Indonesia. Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) bersama Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Sarasehan Nasional bertajuk “Kemunduran Demokrasi dan Peran Pers pada Era Kontemporer: Potensi Partai Politik dan Jurnalisme Kritis Menyelamatkan Indonesia”, Kamis (12/2/2026), di Aula Pascasarjana UM.

Sekitar 100 peserta dari kalangan akademisi, organisasi masyarakat sipil, pegiat media, mahasiswa, hingga perwakilan instansi menghadiri forum tersebut. Diskusi ini menyoroti tanda-tanda kemunduran demokrasi sekaligus menguji kembali peran pers dan partai politik dalam menjaga kualitas kehidupan bernegara.

Kepala LAB 45, Jaleswari Pramodhawardani, menegaskan bahwa gejala kemunduran demokrasi bukan sekadar wacana. Ia mengutip berbagai indikator global yang menunjukkan lebih dari separuh negara di dunia berada dalam kategori kebebasan pers yang sulit hingga serius.

“Media saat ini tidak selalu dibungkam secara langsung. Justru yang terjadi adalah pelemahan bertahap, hingga daya kritisnya hilang,” kata Jaleswari.

Menurutnya, pelemahan tersebut kerap terjadi melalui tekanan ekonomi, regulasi yang membatasi, hingga konsentrasi kepemilikan media. Situasi ini berpotensi menggerus fungsi pengawasan terhadap kekuasaan.

Analis politik dan keamanan LAB 45, Omar Farizi Wonggo, menambahkan bahwa demokrasi tetap menjadi sistem pemerintahan paling tangguh dalam menghadapi krisis. Namun, ketangguhan itu kini tengah diuji.

“Secara struktural partai politik terlihat kuat, tetapi secara substantif lemah,” ucap Omar.

Ia menilai reformasi internal partai menjadi kebutuhan mendesak. Selain itu, pembenahan sistem pemilu dan penguatan peran masyarakat sipil dinilai penting untuk memastikan demokrasi tidak sekadar prosedural, tetapi juga bermakna.

Sementara itu, analis maha data dan politik media LAB 45, Salma Salima Hariza Nihru, menyoroti relasi antara kekuasaan negara dan media dalam 80 tahun terakhir. Ia mengingatkan adanya afiliasi sejumlah pemilik media dengan partai politik yang berpotensi memengaruhi arah pemberitaan.

“Konsentrasi kepemilikan dan kedekatan politik dapat berdampak pada independensi redaksi,” ujarnya.

Menurut Salma, publik perlu semakin kritis dalam menyaring informasi, sementara media dituntut menjaga integritas dan profesionalisme di tengah tekanan politik dan ekonomi.

Di akhir sesi, Ketua Laboratorium Pancasila UM, Dr. Akhirul Aminulloh, mengaitkan kualitas demokrasi dengan tingkat pendidikan masyarakat. Ia menilai partisipasi politik yang berkualitas memerlukan fondasi literasi dan pendidikan yang memadai.

“Proporsi penduduk yang menempuh pendidikan hingga sarjana masih relatif kecil. Ini berdampak pada kualitas partisipasi politik,” sebut Akhirul.

Sarasehan tersebut menegaskan bahwa perbaikan demokrasi tidak hanya bertumpu pada prosedur elektoral. Independensi pers, reformasi partai politik, serta peningkatan kualitas pendidikan publik menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan demokrasi Indonesia.

“Forum ini juga menjadi pengingat demokrasi membutuhkan pengawasan aktif dari pers, keterbukaan partai politik, serta masyarakat yang terdidik dan kritis. Tanpa itu, demokrasi berisiko melemah secara perlahan tanpa disadari,” tutup Akhirul.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *