google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Megawati Hadiri Palebon Ibunda Wali Kota Denpasar, Simbol Kedekatan Politik

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Denpasar, iKoneksi.com — Suasana khidmat menyelimuti upacara palebon (pembakaran jenazah) Ni Jero Sumiarsa, ibu dari Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, pada Senin (4/8/2025). Upacara adat Bali yang sarat makna ini menjadi semakin istimewa dengan hadirnya Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Megawati datang tidak sendiri. Ia didampingi putranya, Prananda Prabowo, dan mantan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Kehadiran mereka menjadi sorotan, bukan hanya karena status politik yang disandang, tetapi juga sebagai tanda hubungan erat antara PDIP dan keluarga besar Puri Agung Satria  keluarga bangsawan yang memiliki peran penting dalam sejarah politik Bali.

Simbol Kedekatan Politik dan Sejarah

Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menegaskan kehadiran Megawati merupakan simbol kedekatan historis.

“Kita semua tahu, (peran Puri Satria) nggak hanya Denpasar, tetapi PDI Perjuangan Bali mengetahui semua bagaimana sejarah lahirnya PDI Perjuangan di Bali,” ujarnya di kediaman Jaya Negara, Banjar Saba, Penatih, Denpasar.

Bagi Arya Wibawa, Puri Agung Satria adalah bagian dari perjalanan panjang PDIP di Bali. Hubungan yang terjalin tidak hanya dalam konteks politik, tetapi juga keluarga. Sejumlah tokoh penting partai memiliki ikatan darah dengan Puri Satria.

Ikatan Keluarga dan Politik

Ketua DPP PDIP Bidang Perempuan dan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, merupakan adik kandung Jaya Negara. Bintang dan Jaya Negara juga bersaudara dengan I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, anggota DPRD Bali.

“Ikatan ini semakin menguatkan relasi politik dan kekerabatan antara PDIP dan Puri Satria,” tutur Ayu.

Menariknya, Bintang menikah dengan Anak Agung Puspayoga tokoh Puri Satria yang juga mantan Wali Kota Denpasar dan politikus senior PDIP.

“Koneksi ini memperlihatkan bagaimana garis keluarga dan jalur politik berpadu, membentuk jaringan kuat yang mempengaruhi arah politik di Bali,” tekan Ayu.

Kisah Perempuan Tangguh

Di balik semua gelar dan jabatan, Ni Jero Sumiarsa memiliki kisah hidup yang inspiratif. Arya Wibawa mengungkapkan bahwa semasa hidupnya, Jero Sumiarsa membesarkan ketiga anaknya seorang diri, dengan mata pencaharian berjualan banten sarana upacara adat Bali yang memiliki nilai spiritual tinggi.

“Itulah bentuk kegigihan dari seorang perempuan Bali yang harus kita teladani. Begitu semangatnya sampai melahirkan seorang menteri, wali kota, dan putra beliau yang paling kecil duduk di DPRD provinsi,” beber Arya Wibawa.

Megawati sendiri, menurut Arya, terkesan dengan perjuangan hidup Ni Jero Sumiarsa. Sosok ini dianggap sebagai teladan perempuan tangguh yang mampu membesarkan anak-anak berprestasi tanpa menyerah pada keadaan.

Lebih dari Sekadar Kehadiran

Menurut Arya kehadiran Megawati di palebon ini tidak hanya mencerminkan rasa belasungkawa, tetapi juga mempertegas posisi PDIP di tengah masyarakat Bali. Hubungan emosional, ikatan keluarga, dan sejarah politik yang panjang membuat momen ini sarat makna.

“Bagi masyarakat Bali, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa politik tidak hanya berurusan dengan jabatan dan kekuasaan, tetapi juga tentang penghormatan, solidaritas, dan rasa kekeluargaan. Di tengah hiruk pikuk politik nasional, momen seperti ini menunjukkan sisi humanis para pemimpin, bahwa mereka juga hadir untuk saling menguatkan di saat duka,” ungkap Arya.

Dengan latar belakang sejarah panjang PDIP di Bali dan peran besar Puri Satria, kehadiran Megawati di upacara palebon Ni Jero Sumiarsa menjadi simbol bahwa hubungan tersebut akan terus terjaga.

“Publik pun menanti, apakah kedekatan ini akan melahirkan babak baru dalam peta politik Bali ke depan,” pungkas Arya. (05/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *