google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

MHTB Membongkar Tantangan Wisata Medis Indonesia dari Medan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Upaya memperkuat ekosistem wisata medis di Indonesia memasuki babak baru melalui kolaborasi strategis antar lembaga dan pemangku kepentingan. Ketua Malang Health Tourism Board (MHTB), Ardantya Syahreza, bersama Ketua Medan Medical Tourism Board (MMTB), Dr. Destanul Aulia, serta tim dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), melakukan kunjungan mendalam ke RS Columbia Asia Medan. Tidak sekadar agenda seremonial, kunjungan ini menjadi forum evaluasi menyeluruh untuk memetakan hambatan dan peluang industri wisata medis Tanah Air yang selama ini kalah bersaing dengan negara tetangga.

Langkah ini menjadi penting, mengingat wisata medis Indonesia masih tertinggal dibanding Malaysia, Singapura, atau Thailand yang berhasil mengemas layanan kesehatan sebagai produk unggulan. Selain itu, Indonesia masih kehilangan devisa dalam jumlah besar akibat banyaknya warga yang berobat ke luar negeri setiap tahun. Melalui kunjungan ini, ketiga lembaga berupaya merumuskan terobosan agar rumah sakit di Indonesia mampu bersaing secara kualitas maupun harga.

Ketimpangan Pajak Alat Medis: Biaya Mahal yang Tak Terhindarkan

Dalam diskusi panjang bersama manajemen RS Columbia Asia Medan, salah satu isu yang mencuat adalah soal kebijakan fiskal yang dianggap menjadi hambatan besar bagi industri kesehatan domestik. Ardantya Syahreza menegaskan struktur harga layanan kesehatan di Indonesia tidak bisa lepas dari faktor pajak, khususnya Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang dikenakan pada alat-alat medis berteknologi tinggi.

“Di negara tetangga, alat kesehatan canggih justru tidak dikenai pajak tambahan. Tetapi di Indonesia, rumah sakit harus menanggung PPnBM yang membuat investasi membengkak. Akibatnya, biaya layanan untuk pasien juga menjadi lebih tinggi,” jelas Ardantya.

Ia menekankan, relaksasi pajak bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan mendesak agar rumah sakit dapat memberikan layanan berteknologi tinggi dengan harga kompetitif tanpa mengurangi standar kualitas. Menurutnya, jika Indonesia ingin menjadi pemain utama di sektor wisata medis, maka insentif fiskal harus menjadi langkah yang diprioritaskan pemerintah.

Fenomena Gengsi Berobat ke Luar Negeri: Tantangan Psikologis dan Budaya

Selain aspek kebijakan, rombongan juga menemukan fenomena sosial yang cukup mencolok di Medan berobat ke luar negeri dianggap sebagai simbol prestise.

Dr. Destanul Aulia dan Ardantya Syahreza menyoroti adanya stigma kuat di masyarakat bahwa berobat ke Singapura, Penang, atau Kuala Lumpur memberikan “status sosial” tersendiri.

“Bahkan ada keluarga yang meminjam uang hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa mereka berobat ke luar negeri. Ini bukan masalah medis, tetapi soal gengsi,” ungkap Ardantya.

Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri, sebab kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit dalam negeri harus dibangun bukan hanya lewat fasilitas, tetapi juga lewat persepsi dan edukasi publik. Menurut Ardantya, masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa berobat di Indonesia tidak hanya setara kualitasnya, tetapi dalam banyak kasus bahkan lebih lengkap dan lebih efisien.

RS Columbia Asia Medan: Bukti Kesiapan Rumah Sakit Lokal

Meski berhadapan dengan tantangan besar, rombongan menilai RS Columbia Asia Medan sebagai salah satu contoh rumah sakit yang siap berkompetisi secara internasional. Fasilitas modern, SOP pelayanan yang ketat, serta pengalaman pasien yang nyaman menjadi kelebihan besar rumah sakit ini.

Ardantya mengapresiasi langsung kualitas sarana prasarana yang dimiliki rumah sakit tersebut.

“RS Columbia Asia Medan memiliki fasilitas layaknya hotel berbintang. Lobbynya elegan, sistem informasi digitalnya rapi, dan layanan medisnya sangat lengkap. Mulai dari Urology Center, Sport Clinic, hingga MRI dan CT Scan mutakhir. Bahkan kafe sehat dan Doctor’s Lounge pun dibuat dengan konsep yang nyaman dan berkelas,” puji Ardantya.

Ia menambahkan rumah sakit seperti ini harus menjadi model percontohan nasional dalam upaya menahan laju warga yang berobat ke luar negeri dan menjaga devisa tetap di dalam negeri.

Menuju Kedaulatan Kesehatan Indonesia

Dari hasil kunjungan tersebut, MHTB, MMTB, dan Kemenkes RI sepakat bahwa penguatan wisata medis tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Selain mendorong reformasi kebijakan fiskal, pemerintah juga perlu memperbaiki strategi komunikasi publik agar kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit lokal meningkat.

“Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju kedaulatan kesehatan Indonesia di mana masyarakat dapat menerima layanan terbaik tanpa perlu melintasi batas negara hanya demi “status” atau asumsi kualitas. Dengan momentum pengembangan wisata medis yang semakin kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi kesehatan unggulan di Asia Tenggara. Kuncinya adalah keberanian melakukan terobosan regulasi dan konsistensi meningkatkan mutu pelayanan,” tutup Ardantya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *