google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ning Ita Tegaskan Mojokerto Inklusif untuk Disabilitas

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Mojokerto, iKoneksi.com — Komitmen Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan kembali ditegaskan dengan langkah nyata. Bertempat di Pendapa Sabha Kridatama, Rumah Rakyat Kota Mojokerto, Selasa (6/5/2025), Ning Ita sapaan akrabnya secara langsung melepas rombongan studi edukasi penyandang disabilitas ke dua lokasi penting: UPT Rehabilitasi Sosial Bina Daksa di Pasuruan dan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra di Malang.

Perspektif Inklusif Jadi Prinsip Utama Pembangunan

Dalam sambutannya, Ning Ita menyampaikan pembangunan yang dilakukan Pemkot Mojokerto tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi semata, tetapi juga mengedepankan prinsip keadilan sosial. Perspektif gender dan inklusi sosial telah menjadi kerangka dalam setiap perumusan kebijakan pembangunan kota.

“Perspektif gender itu bukan sekadar membahas tentang laki-laki dan perempuan. Kelompok disabilitas juga termasuk di dalamnya. Walaupun komunitasnya kecil, bukan berarti diabaikan. Saya ingin menjadi pemimpin yang adil dan tidak mengecualikan siapa pun dalam proses pembangunan,” kata Ning Ita dengan tegas.

Pernyataan ini menegaskan Pemerintah Kota Mojokerto tengah berupaya mewujudkan kebijakan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang selama ini sering terpinggirkan, seperti penyandang disabilitas.

Studi Edukasi: Belajar dari Tempat Lain, Diterapkan di Mojokerto

Studi edukasi yang diikuti oleh pengurus dan anggota Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), perwakilan guru, dan pengelola sekolah berkebutuhan khusus ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ning Ita meminta para peserta untuk serius menyerap ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari dua lembaga rehabilitasi sosial yang dikunjungi.

“Panjenengan ambil manfaatnya, jadikan sebagai laporan. Hal-hal yang perlu kita replikasi di Kota Mojokerto, sampaikan ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DinsosP3A). Jika memang belum masuk dalam rencana pembangunan lima tahun ke depan, akan kami evaluasi dan integrasikan,” tutur Ning Ita.

Dengan langkah ini, ia tidak hanya menunjukkan keseriusan dalam menempatkan kelompok disabilitas sebagai subjek pembangunan, tetapi juga mengajak masyarakat terlibat langsung dalam menyusun arah kebijakan pemerintah.

Kolaborasi, Kunci Mewujudkan Kota yang Ramah Disabilitas

Langkah Pemerintah Kota Mojokerto ini patut dicatat sebagai contoh kolaborasi aktif antara pemerintah, komunitas disabilitas, dan lembaga pendidikan. Dalam konteks ini, Pemkot tidak hanya sebagai pengambil keputusan, melainkan fasilitator yang membuka ruang dialog dan kerjasama.

“Melalui program studi edukasi ini, diharapkan lahir banyak ide dan masukan yang dapat memperkuat program inklusi di bidang pendidikan, pelatihan kerja, dan pelayanan sosial di Mojokerto. Edukasi dan dialog seperti ini diyakini mampu memunculkan kebijakan-kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berdampak langsung pada kehidupan kelompok rentan,” ungkap Ning Ita.

Masa Depan Inklusif, Dimulai Hari Ini

Dengan melepas langsung rombongan peserta studi, Ning Ita juga menunjukkan perhatian personalnya terhadap isu-isu inklusifitas. Kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat, terutama kelompok disabilitas, menjadi wajah baru birokrasi yang mendengarkan, bukan sekadar memerintah dari balik meja.

“Pemerintah Kota Mojokerto juga berharap agar hasil dari kegiatan studi edukasi ini tidak berhenti sebagai catatan atau dokumentasi belaka, melainkan menjadi pemantik kebijakan baru yang progresif. Sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam merancang kebijakan sosial akan menciptakan Mojokerto sebagai kota yang benar-benar ramah untuk semua,” pungkas Ning Ita. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *