Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Totok Hariyono Dorong Pramuka Jadi Pengawas Pemilu, Literasi Politik Dimulai Sejak Dini

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Semarang, iKoneksi.com – Anggota Bawaslu RI Totok Hariyono mendorong penguatan kesadaran demokrasi sejak dini melalui Saka Adhyasta Pemilu. Menurutnya, wadah tersebut penting untuk membekali anggota Pramuka, khususnya calon pemilih pemula, agar memahami hak, tanggung jawab, sekaligus peran mereka dalam mengawal proses demokrasi.

Pesan itu disampaikan Totok dalam kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif di Kabupaten Semarang, Rabu (22/7/2026). Ia menilai pemilih pemula merupakan kelompok strategis karena akan menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas demokrasi pada masa mendatang.

Pramuka Disiapkan Jadi Mitra Pengawasan

Totok mengatakan, generasi muda tidak cukup hanya memahami pemilu sebagai proses memilih pemimpin. Mereka juga perlu mengetahui bagaimana ikut menjaga agar proses demokrasi berlangsung secara sehat dan berintegritas. Melalui Saka Adhyasta Pemilu, anggota Pramuka diperkenalkan dengan nilai-nilai demokrasi sekaligus pengetahuan mengenai pengawasan partisipatif.

“Tanpa bantuan kawan-kawan, para Pramuka yang sadar terhadap keberadaan republiknya, tidak mungkin akan terpilih manusia-manusia yang berwatak negarawan,” ujar Totok.

Menurut dia, pendidikan demokrasi yang diberikan sejak bangku sekolah dapat membentuk pemilih yang lebih kritis dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan politik.

Belajar Pengawasan hingga Pencegahan Pelanggaran

Dalam program tersebut, anggota Pramuka juga dibekali pengetahuan mengenai sejumlah aspek pengawasan pemilu. Totok menyebut mereka dapat mempelajari Krida Pengawasan, Krida Pencegahan, dan Krida Penegakan.

“Dari Saka Adhyasta Pemilu, teman-teman semua bisa belajar mengenai Krida Pengawasan, Krida Pencegahan, dan Krida Penegakan,” ucap dia.

Bekal tersebut diharapkan Totok membuat pemilih muda tidak sekadar menjadi peserta dalam pemilu, tetapi mampu mengenali potensi pelanggaran serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menemukan persoalan dalam tahapan pemilu.

Tak Harus Jadi Penyelenggara untuk Kawal Demokrasi

Totok menekankan, keterlibatan dalam menjaga demokrasi tidak mengharuskan anggota Pramuka menjadi penyelenggara pemilu. Menurutnya, kepedulian terhadap setiap tahapan pemilu, keberanian menyampaikan aspirasi, serta sikap kritis terhadap proses demokrasi sudah menjadi bentuk partisipasi yang penting.

“Cukup menjadi sparring partner kita, kawan-kawan seperjuangan kita, untuk peduli pada republik. Karena panjenengan punya hak untuk mengkritisi,” sebut alumni GMNI itu.

Ia menilai posisi generasi muda sebagai mitra kritis Bawaslu justru dapat membantu memperluas pengawasan hingga ke tengah masyarakat.

Literasi Politik Jadi Bekal Pemilih Pemula

Di penghujung kegiatan, Totok mengajak peserta memperkuat literasi politik dengan memahami berbagai ketentuan kepemiluan. Salah satu materi yang dinilai penting adalah pemahaman mengenai politik uang. Menurutnya, pengetahuan tersebut diperlukan agar generasi muda mampu mengenali praktik yang dapat merusak integritas pemilu.

“Penguatan literasi politik sejak dini diharapkan melahirkan pemilih yang kritis, berintegritas, dan tidak mudah terpengaruh oleh praktik-praktik yang dapat mencederai demokrasi,” harap dia.

Bagi Totok, membangun demokrasi tidak cukup dilakukan ketika tahapan pemilu berlangsung. Kesadaran warga, khususnya generasi muda, perlu ditanamkan jauh sebelum mereka menggunakan hak pilihnya.

“Dengan pendekatan tersebut, Saka Adhyasta Pemilu diharapkan menjadi salah satu ruang pendidikan demokrasi yang mampu melahirkan pemilih pemula sekaligus generasi muda yang aktif mengawal kualitas pemilu,” tandas dia.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *