google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Desa Donowarih Diguncang Karnaval Sound Horeg, Warga Diminta Mengungsi

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com — Suasana meriah berubah menjadi peringatan dini ketika Pemerintah Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, secara resmi meminta sebagian warganya untuk mengungsi. Bukan karena bencana alam, melainkan karena getaran keras dari acara karnaval pesta rakyat yang menggunakan sound horeg atau sistem suara bervolume tinggi.

Surat pemberitahuan resmi yang dikeluarkan Pemdes Donowarih pada Rabu (23/7/2025), bernomor 400/125/35.07.23.2008/2025, sontak menjadi perbincangan hangat di berbagai grup WhatsApp warga. Surat itu ditandatangani langsung oleh Kepala Desa Donowarih, Sujoko menyebutkan kegiatan karnaval dalam rangka bersih Dusun Karangjuwet akan digelar di sepanjang Jalan Raya Karangjuwet pada hari yang sama, dimulai pukul 16.30 WIB hingga selesai.

Imbauan Serius Demi Keselamatan Warga Rentan

Dalam isi surat tersebut, pemerintah desa secara tegas mengimbau agar warga yang tinggal di sekitar lokasi karnaval terutama mereka yang memiliki bayi, anak kecil, anggota keluarga yang sakit, atau lanjut usia agar menjaga jarak dan bahkan disarankan untuk mengungsi sementara. Hal ini dilakukan untuk menghindari dampak negatif dari sound system berdaya besar yang digunakan dalam acara tersebut.

“Kami mengimbau kepada seluruh warga, khususnya yang berada di sekitar jalan raya, agar dapat menjaga jarak atau mengamankan sementara diri demi kenyamanan bersama dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat sound system yang akan digunakan cukup keras (sound horeg),” demikian isi surat tersebut.

Karnaval Rakyat, Tradisi Dua Tahunan

Saat dikonfirmasi oleh iKoneksi.com, Sekretaris Desa Donowarih, Ary Widya Hartono, membenarkan keaslian surat itu. Ia menjelaskan bahwa karnaval ini merupakan bagian dari tradisi ritual bersih dusun yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Kegiatan ini sepenuhnya bersifat swadaya masyarakat dan telah mengantongi izin resmi dari pihak kepolisian.

Ini adalah acara selamatan rutin dua tahunan. Penyelenggaraannya dilakukan oleh masyarakat sendiri. Saya sendiri sudah presentasi ke pihak kepolisian dan menyampaikan testimoni sebagai bentuk tanggung jawab kami,” kata Ary.

Ary menekankan imbauan untuk mengungsi bukanlah bentuk larangan atau ketakutan berlebihan, melainkan langkah preventif demi menjaga kenyamanan dan keselamatan seluruh warga.

Tidak Ada Penolakan, Warga Justru Antusias

Meski terkesan ekstrem, langkah pemerintah desa untuk mengimbau warganya mengungsi ternyata tak memicu polemik. Ary menegaskan tak ada satu pun warga yang menyuarakan penolakan terhadap surat edaran tersebut. Bahkan, mayoritas warga menyambut acara karnaval ini dengan semangat tinggi.

Sangat mendukung. Bahkan ada satu RT yang membuat mobil hias. Ini bukti bahwa tidak semua kegiatan harus sound horeg, tapi kami tidak memaksa. Semua dilakukan sukarela, tegas Ary.

Sebagai bukti antusiasme, tak tanggung-tanggung, sebanyak 11 sound horeg ikut tampil dalam acara karnaval tersebut. Dentuman suara yang menghentak langit Karangjuwet disambut sorak sorai warga yang hadir meramaikan pesta rakyat tersebut.

Sejumlah Warga Mengungsi Sukarela

Imbauan pemerintah desa juga direspons positif oleh sebagian warga yang merasa terganggu atau memiliki anggota keluarga rentan. Ary menyebut, sejumlah warga memilih mengungsi ke rumah saudara atau ke bagian belakang rumah mereka untuk menghindari dampak langsung suara yang menggelegar.

Sudah ada yang mengungsi. Mereka pindah ke rumah saudara atau ke rumah bagian belakang yang lebih aman dari paparan suara,” jelas Ary.

Perdebatan Nasional tentang Sound Horeg

Fenomena sound horeg memang belakangan menjadi sorotan nasional. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai hiburan rakyat, namun tidak sedikit pula yang mengeluhkan gangguan suara ekstrem yang ditimbulkan. Bahkan Polda Jawa Timur pernah mengeluarkan imbauan larangan penggunaan sound horeg berlebihan di ruang publik karena dianggap mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga.

“Namun, di Desa Donowarih, sound horeg tampaknya telah menjadi bagian dari budaya perayaan yang disepakati dan dinikmati secara kolektif selama ada koordinasi dan antisipasi yang matang dari pemerintah desa, seperti yang dilakukan kali ini,” pungkasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *