Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Sekolah Rakyat Kota Malang Rangkul 89 Anak Keluarga Desil 1 dan 2, Tantangan Asrama Mengemuka

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Kota Malang menjadi salah satu upaya pemerintah membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Program berbasis asrama ini saat ini membina 89 siswa yang seluruhnya merupakan warga Kota Malang dari keluarga desil 1 dan desil 2. Program tersebut tidak hanya diarahkan pada pendidikan formal. Sistem boarding school juga dirancang untuk membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemandirian siswa yang datang dari latar belakang keluarga dan lingkungan berbeda.

Sekretaris Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, Kenprabandari Aprilia B., mengatakan peserta SRMP terdiri dari 50 siswa perempuan dan 39 siswa laki-laki.

“Saat ini, SRMP Kota Malang membina sebanyak 89 siswa. Seluruh peserta didik merupakan warga asli Kota Malang dari keluarga prasejahtera atau desil 1 dan 2,” ujar dia.

Hidup di Asrama Jadi Tantangan Awal

Niken sapaan akrabnya menuturkan di balik konsep pendidikan gratis berbasis asrama tersebut, proses adaptasi siswa menjadi tantangan tersendiri. Peralihan dari kehidupan bersama keluarga menuju lingkungan asrama membuat sebagian peserta didik belum langsung mampu mengikuti pola kehidupan baru. Rutinitas seperti bangun pagi, mandi secara mandiri hingga mengikuti jadwal ibadah bersama membutuhkan proses pembiasaan.

“Ada beberapa faktor, masa peralihan dari lingkungan rumah menuju lingkungan asrama, dan pembiasaan rutinitas asrama,” jelas Niken.

Sebagian siswa juga disebut Niken belum sepenuhnya siap menjalani aktivitas sehari-hari tanpa pendampingan langsung dari orang tua. Penyelenggara kemudian mengambil pendekatan persuasif dengan menyediakan pendampingan psikologis, baik kepada siswa maupun orang tua. Upaya tersebut dilakukan agar siswa dapat beradaptasi tanpa merasa tertekan.

Sempat Banyak Siswa Mundur

Dinamika program bahkan sempat ditandai dengan banyaknya siswa yang memutuskan mengundurkan diri. Niken menyebut jumlah siswa yang sempat keluar mencapai sekitar 80-an orang. Namun, kekosongan tersebut kemudian diisi melalui mekanisme kuota pengganti dari daftar peminat yang masih tinggi.

“Alhasil, jumlah peserta didik SRMP Kota Malang saat ini tetap berada di angka 89 siswa. Kondisi tersebut menunjukkan tantangan program bukan hanya memastikan anak-anak dari keluarga prasejahtera memperoleh akses pendidikan, tetapi juga memastikan mereka mampu bertahan dalam pola pendidikan berbasis asrama,” terang dia.

Pendataan Dapodik Dikoordinasikan

Ia menegaskan persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah pencatatan peserta didik dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Niken menjelaskan, Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak-anak yang putus sekolah atau melewati batas usia pendidikan formal tertentu. Karena itu, proses pendataan membutuhkan koordinasi dengan dinas pendidikan terkait.

“Untuk pencatatan di Dapodik itu ada mekanisme pendataan dan sinkronisasinya dikoordinasikan secara intensif dengan dinas pendidikan terkait,” tekan dia.

“Koordinasi tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan data peserta didik dapat tercatat sesuai mekanisme yang berlaku,” sambungnya.

Gedung Permanen Masih Ditunggu

Di tengah berjalannya program, pembangunan gedung baru SRMP Kota Malang belum direalisasikan tahun ini. Pihak pengelola masih menunggu seluruh kriteria dan persyaratan yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terpenuhi.

“Pemerintah berharap fasilitas sekolah permanen dapat segera terwujud sehingga program pendidikan berbasis asrama tersebut memiliki sarana yang lebih memadai,” terang mantan sekretaris Kesbangpol Kota Malang itu.

Dengan jumlah peserta yang tetap terjaga, tantangan SRMP Kota Malang kini bukan sekadar memperluas akses pendidikan bagi keluarga desil 1 dan 2.

“Lebih jauh, keberhasilan program akan ditentukan oleh kemampuan sekolah membangun kemandirian siswa, menjaga keberlanjutan pendidikan, serta memastikan proses adaptasi kehidupan asrama berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan psikologis anak,” tukas dia.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *